Pidato Rektor

Sambutan Rektor UNS pada Acara Seminar BPIP, 19 Agt 2019 di Auditorium Universitas Sebelas Maret

By 30 August 2019 No Comments

Bismillahirahmanirakhim,

Assalamualaikum Warohmatulahi Wabarokatuh,

Salam Sejahtera,
Om swasti astu om,
Namo Budaye,
Salam Kebajikan,

Ysh. Pimpinan BPIP dan para narasumber

Ysh. Pimpinan Universitas, Fakultas, Lembaga, Program Pascasarjana.

Pertama sekali, saya mengucapkan selamat datang di kota Solo. Sebuah kota yang kaya dengan nilai historis, kaya dengan peradaban dan kaya dengan budaya serta kreatifitas. Maka sangatlah tepat jika perhelatan besar BPIP tahun ini diselenggarakan di kota Solo atau Surakarta Hadiningrat.

Mohon ijin dan berkenan, Bapak Ibu melintasi dan mengamati jalan utama kota Solo, akan mendapati jejak jalannya peradaban yang sudah ada sejak kerajaan Mataram berdiri di desa Sala. Jejak-jejak itu adalah bukti dari akar-akar Pancasila yang sudah tertanam di kota ini.

Bapak Ibu yang saya hormati, di Solo tidak hanya Masjid dan Gereja yang dibangun bersebelahan di Kecamatan Serengan, namun juga Lembaga Pemasyarakatan bersebelahan lokasinya dengan sebelah kanan nya menempel Bank Jateng dan sebelah kirinya menempel Bank Mandiri. Kita telah belajar dari Toponimi kota Solo di sekitar LP itu adalah wilayah kampung Kusumayudan. Bahwa kampung Kusumayudan adalah tinggalnya para pangeran yg salah satunya Pangeran Kusumayuda yang saat inienjadi hotel Kusumasahid Para Pangeran yang gemar berburu dan mengurung hewan buasnya di Kampoeng tersebut. Dan itu dipertahankan sampai saat ini, hanya bukan untuk mengurung hewan buas tapi untuk mengurung manusia.

Dan UNS sebagai kampus benteng Pancasila bukan hanya berupa simbol sebuah kawasan pengamalan Pancasila yang terdapat tempat beribadah semua agama. Sehingga pada hari Jumat dapat ditemui semua mahasiswa beraktifitas ibadah bersama di dalam masjid, gereja, pura, vihara dan Klenteng di dalam satu kawasan. Tapi kampus benteng Pancasila adalah benteng peradaban untuk melanjutkan tradisi intelektual yang telah dirintis oleh para pujangga : Yosodipuro, Sastranegara hingga Ronggowarsito. Selain Bibliotheca Alexandria di kota Alexandria dan Bibliotheque National de France di kota Paris, Surakarta sudah mempunyai Bibliotheeque Radya Pustaka (yang saat ini menjadi museum ). Bibliotheeque Radya Pustaka adalah bukti intelektualitas orang Solo yang pada waktu itu sudah menulis buku-buku setebal Babad Giyanti, Serat Centhini, Wulang Rech, dan lain-lain yang dipelajari di dalam perpustakaan Radya Pustaka.

Surakarta juga tidak gagap dengan perkembangan nasional yang terjadi. Wacana perpindahan Ibukota adalah hal yang biasa bagi warga, karena perpindahan kerajaan Mataram dari Kartasura ke Surakarta telah terjadi pada tahun 1745. Fenomena jalan tol terkait dengan disrupsi aktifitas ekonomi, sudah terjadi saat Marsekal Daendels membuat Grote Postweg atau Jalan Daendels. Dibidang yang saat ini sedang digalakkan oleh Bekraf, Ekonomi kreatif sudah lama dikenal oleh orang Solo dengan adanya Pasar Triwindhu yang berisi barang hasil kerajinan yang dipisah lokasinya dengan Pasar Legi sebagai pasar hasil bumi. Dan itu didirikan jaman peringatan 24 tahun jenengan Raja Mangkunegoro IV. Tidak kalah menariknya dengan pertahanan budaya yang ditunjukkan dari produk kulinernya : Salad menjadi Selat Solo, Beef Steak menjadi Bestik Harjo, Kimlo menjadi Timlo Solo. Sehingga Solo menjadi kota kuliner 24 jam.

Akhirnya Solo merangkum keberagaman tersebut menjadi sebuah harmoni suci Pancasila. Dan akhirnya kami mengucapkan selamat berseminar, berdiskusi menemukembali nilai-nilai peradaban yang sudah ada di Kota ini.

Sekian dan terimakasih.
Wassalamualaikum Wr Wb.

Rektor,
Prof.Dr. Jamal Wiwoho, S.H.,M.Hum

Leave a Reply