PSJ UNS dan Prodi Arsitektur UNS Gelar FGD Ide Pengembangan Kawasan Hunian Baru di Kampung Metal, Surakarta

PSJ UNS dan Prodi Arsitektur UNS Gelar FGD Ide Pengembangan Kawasan Hunian Baru di Kampung Metal, Surakarta

UNS — Pusat Studi Jepang (PSJ) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Research Group dan Laboratorium Urban-Rural Design and Conservation (URDC Labo) Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) mengadakan Focus Discussion Group (FGD). FGD ini dilakukan bersama warga Kampung Metal RW 01, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta.

FGD tersebut telah berlangsung sebanyak tiga kali, yaitu pada 16 Mei, 17 Juni, dan 5 Juli 2022. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kelurahan Mojo ini bertujuan untuk melakukan proses partisipasi desain dengan metode Human Center-Design (HCD). Forum ini juga melibatkan 20 mahasiswa Prodi Arsitektur FT, 2 mahasiwa Prodi Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Pusat Studi Jepang (PSJ) UNS, dan Arsitektur Komunitas Solo (Arkom Solo). Kegiatan ini masuk dalam agenda kegiatan hibah penelitian perkuatan institusi serta hibah Research Group untuk pengabdian masyarakat tahun anggaran 2022.

“Kegiatan FGD bersama warga merupakan salah satu tahap pendekatan proses partisipatif desain yang bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang kondisi lingkungan warga, potensi, dan permasalahan, baik fisik maupun non fisik kampung kota. Melihat permasalahan dan potensi masyarakat yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan menentukan tindakan yang akan dilakukan kedepannya dalam membangun lingkungan yang sehat berdasarkan potensi, masalah, dan kebutuhan bersama,” ujar Tegar Teladani selaku koordinator mahasiswa Arsitektur UNS yang terlibat aktif dalam FGD tersebut, Jumat (15/7/2022).

Seluruh kegiatan FGD berjalan dengan baik dan penuh antusiasme dari warga. Mahasiswa banyak mendapat informasi dan ide-ide dari warga untuk kampung mereka yang nantinya akan ditinggali setelah 3 tahun di RISHA. Warga menyampaikan ide mengenai kebutuhan ruang sosial, permasalahan lingkungan yang panas, kurangnya tempat menjemur pakaian, dan lainnya. Mahasiswa Arsitektur UNS juga ikut bersama mencari solusi terbaik melalui perancangan desain hingga bisa terbangun di kemudian hari.

PSJ UNS dan Prodi Arsitektur UNS Gelar FGD Ide Pengembangan Kawasan Hunian Baru di Kampung Metal, Surakarta

Proses FGD yang telah dilakukan bersama warga menghasilkan rancangan pengembangan unit hunian yang juga memiliki Home Based Enterprises dan ruang publik. Ruang publik dibutuhkan anak-anak Kampung Metal sebagai ruang bermain tanpa mengganggu aktivitas bekerja warga. Selain itu, dalam ruang publik tersebut juga akan dirancang desain karya mural yang memiliki pesan menginterpretasikan identitas Kampung Metal. Ide perancangan mural berasal dari pemikiran anak-anak di Kampung Metal. Dalam pembuatan karya mural ini, tim berkolaborasi dengan mahasiswa Prodi Seni Murni yang diketuai oleh Jatmi Adnan Alwi. Para mahasiswa tersebut memiliki keahlian dalam membuat mural agar hasil yang diperoleh maksimal dan proses kolaborasi karya serta sebagai wadah sharing knowledge antarmahasiswa.

“Selama kegiatan perkuliahan Kampung Kota, kami menghasilkan rencana rancang desain pengembangan rumah sehat warga berbasis Home Based Enterprises. Karya gambar dari anak anak untuk konsep mural, rencana desain vertical garden, dan ruang bermain anak yang berada di ruang publik kawasan Kampung Metal Mojo,” ucap Tegar.

Ia menambahkan bahwa produk pural, vertical garden serta ruang bermain anak rencananya akan dibangun dalam waktu dekat

Selain Tegar, anggota lainnya yaitu Gunawan Wisnu, Rakha Widiwasa, Waskitho Agung Pambudi, dan Ridhwan Miftahul Falah berharap agar setelah melalui rangkaian proses FGD ini dapat memperoleh solusi terhadap beberapa permasalahan dan kebutuhan yang warga rasakan.

PSJ UNS dan Prodi Arsitektur UNS Gelar FGD Ide Pengembangan Kawasan Hunian Baru di Kampung Metal, Surakarta

“Selain itu, semoga warga dapat nyaman tinggal di lingkungan yang baru serta dapat merawatnya secara berkelanjutan. Selain hasil karya yang kami hasilkan, kami harap proses bertukar pikiran dalam FGD ini memberikan ilmu baru maupun cara pandang baru terhadap kampung tempat kita lahir dan berkembang di sana. Terima kasih untuk semua pihak yang terlibat dalam proses ini. Semoga proses berikutnya dapat berjalan dengan lancar dan warga dapat dengan maksimal memperoleh manfaatnya,” pungkas Tegar mewakili teman-temanya. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti

Sediakan Jasa Pembuatan Desain Bangunan Gratis, Mahasiswa UNS Berbagi Manfaat melalui Civilarch Charity

Sediakan Jasa Pembuatan Desain Bangunan Gratis, Mahasiswa UNS Berbagi Manfaat melalui Civilarch Charity

UNS — Zharfa Hafizhotul Qonita, seorang mahasiswa Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil mengembangkan sebuah proyek sosial bernama Civilarch Charity. Proyek sosial tersebut merupakan gerakan sosial yang menyediakan jasa desain bangunan publik yang dibutuhkan masyarakat tanpa dikenai biaya sepeser pun.

Saat berbagi kisah bersama tim uns.ac.id, Zaharfa mengaku pada bulan Ramadan tahun lalu, ia dan teman-temannya sadar akan kebutuhan masyarakat atas desain bangunan yang di dalamnya dilakukan aktivitas-aktivitas kebaikan.

“Awal mulanya adalah di Ramadan tahun 2021, saat saya dan teman-teman Civilarch mengawali membuat rintisan perusahaan Civilarch ingin membangun kegiatan yang bermanfaat di saat Ramadan, mengingat Ramadan juga banyak orang yang ingin berbagi dan melakukan kebaikan. Di samping juga kebutuhan masyarakat, pasti banyak membutuhkan sarana untuk menimba ilmu Alquran. Oleh karena itu, kita menginisiasi untuk membuat gerakan jasa desain gratis selama Ramadan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan pembangunan bangunan sosial untuk kegiatan yang bermanfaat,” terang Zharfa beberapa saat yang lalu.

Hingga kini, sudah ada empat lembaga yang menjadi penerima manfaat Civilarch Charity. Kegiatan yang mereka usung adalah mengonsep desain, berkoordinasi antarpihak, dan ikut membantu menggalang dana pembangunan bangunan yang sedang dikerjakan dengan bantuan mitra terkait.

Lebih lanjut, Zharfa berbagi kisahnya tentang suka duka yang ia alami selama menjalankan proyek Civilarch Charity.

“Mungkin positifnya itu bisa ketemu banyak masyarakat yang memiliki ide yang baik untuk lingkungan sekitarnya, punya sudut pandang yang lebih baik, dan bisa merasakan permasalahan yang ada di sekitar. Negatifnya, ya ini lebih ke tantangan sih, gimana akhirnya bisa membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat lewat bangunan yang bermanfaat, selain itu cara komunikasi juga bisa menjadi tantangan termantap,” ujar Zharfa.

Sediakan Jasa Pembuatan Desain Bangunan Gratis, Mahasiswa UNS Berbagi Manfaat melalui Civilarch Charity

Dalam waktu dekat, Civilarch Charity mengadakan pembangunan pondok tuli pada Juni—Juli. Proyek sosial yang dikelola Zharfa dan teman-temannya memegang nilai “building for all, building for civilization”. Dalam keterangannya, Zharfa menjelaskan bahwa hal ini bermakna bagaimana akhirnya mereka dapat membuat masyarakat mendapatkan bangunan sosial yang sangat bermanfaat dan juga bisa membawa perubahan bagi lingkungan yang lebih baik.

Zharfa berharap dengan hadirnya Civilarch Charity dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan desain bangunan secara gratis untuk fungsi kebermanfaatan.

“Harapannya, masyarakat bisa terbantu dengan adanya gerakan desain bangunan secara gratis karena bisa membantu merencanakan bangunan yang fungsional dan juga teratur dalam pemakaiannya, sehingga mempermudah masyarakat dalam melakukan kegiatan tersebut dan tidak kesulitan dalam pencarian dana,” terang Zharfa.

Sediakan Jasa Pembuatan Desain Bangunan Gratis, Mahasiswa UNS Berbagi Manfaat melalui Civilarch Charity

Zahrfa yang juga merupakan seorang penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (Baktinusa) yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa (DD) yang memegang nilai cendekia. Cendekia merupakan salah satu nilai yang dipegang oleh para penerima manfaat Baktinusa. Dalam keterangan, cendekia berarti tajam pikirannya atau cepat mengerti situasi yang sedang terjadi dan pandai mencari jalan keluar. Zharfa menerapkannya dalam mengerti kebutuhan masyarakat dan memberikan solusi dengan kepandaian di bidangnya yakni arsitektur.

Civilarch Charity dengan kepiawaiannya, saat ini selain berfokus mendesainkan bangunan dan menggalang dana, mereka juga membantu melalui pencerdasan di media sosial dengan slogan “pelopor kebaikan”.

“Kalau saat ini kita membantu mendesainkan dan galang dana untuk penerima manfaat, sisanya kita bantu melalui pencerdasan media sosial tentang tagline ‘pelopor kebaikan’. Juga, di akhir kita ingin sama-sama melakukan pameran akhir dengan hasil karya, juga cerita latar belakang penerima manfaat secara digital di akhir tahun,” jelas Zharfa.

Di akhir wawancara, Zharfa berpesan kepada mahasiswa untuk jangan takut jika menjadi sosok yang berbeda, selama tujuannya sama yakni kebermanfaatan untuk masyarakat yang lebih banyak.
“Setiap dari kita pasti berbeda, setiap dari kita memiliki kekuatan yang beragam, namun dari keberagaman itu justru kita bisa membuat perubahan yang lebih banyak dan bermacam. Jadi, jangan takut berbeda, pun kita juga punya tujuan yang sama untuk kebermanfataan masyarakat yang lebih banyak,” pesan Zharfa.

Sosok Zharfa dengan dedikasinya di Civilarch Charity membuktikan bahwa mahasiswa UNS mampu bergerak, berdampak, dan menginspirasi. Tentu, dengan keahlian yang dimiliki dan dikuasai. Bidang yang ia geluti di bidang arsitek, mampu mengantarkannya menjadi bermanfaat bagi sesama. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti

Alumnus FT UNS Bagikan Pengalaman Menjadi Arsitek di Jepang

Alumnus FT UNS Bagikan Pengalaman Menjadi Arsitek di Jepang

UNS — Alumnus Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Naya Marsatyasti, S.T., M.Eng. membagikan pengalamannya menjadi arsitek di Jepang. Hal ini ia sampaikan dalam acara Virtual Talk Series With Japan Alumni: Serba-Serbi Menjadi Arsitek di Jepang.

Adapun penyelenggaraan acara ini bentuk kolaborasi dari Pusat Studi Jepang (PSJ) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS, Prodi Arsitektur UNS – Laboraturium URDC UNS, Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HMA) UNS, dan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Surakarta.

Naya yang membawakan materi tentang Mempersiapkan Diri Bekerja sebagai Arsitek di Jepang ini mengatakan bahwa untuk bisa menjadi arsitek di Jepang membutuhkan persiapan yang baik.

“Pertama, siapkan Curriculum Vitae (CV) sesuai format perusahaan dan portofolio karya kamu yang fokus kepada design thinking. Kedua, menguasai bahasa asing dalam hal ini bahasa Jepang minimal N3/N2 dan bahasa Inggris. Ketiga, mengenali tipe perusahaan apakah berbentuk corporate type, atelier/studio type, atau outsource company. Keempat, pastinya job hunting dan jangan lupa submit CV dan portofolio kamu ke perusahaan yang diinginkan,” ujar Naya, Sabtu (25/6/2022).

Alumnus FT UNS Bagikan Pengalaman Menjadi Arsitek di Jepang

Naya menambahkan untuk alur kerja seorang arsitek di Jepang tak beda jauh dengan yang ada di Indonesia. Dimulai dari, design drawing, structural drawing, dan Mechanical Electrical Plumbing (MEP) drawing; Examination of construction cost; Environmental impact assessment; Meeting with all parties; dan Construction drawing.

Selain itu, sertifikasi arsitek Jepang terbagi menjadi 3 yakni, wooden architect, second-class architect, dan first-class architect.

“Sebelum konstruksi, kami juga ada ritual berdoa agar konstruksi project berjalan aman dan lancar. Lebih lanjut, untuk budaya kerja sendiri dimulai dengan meeting pagi setiap hari untuk melaporkan progress project yang sedang dikerjakan juga apa yang akan dikerjakan hari ini dan apa yang sudah dikerjakan kemarin. Tidak jarang juga kami bekerja lebih dari ketentuan jam kerja. Sementara untuk rutinitas setiap harinya biasanya melakukan eksplorasi studi desain, pembuatan market studi, dan meeting dengan tim. Serta setiap project adalah hasil kerja tim, karena ada budaya membantu tim project lain. Budaya kerja ini saya ambil berdasarkan tipe perusahaan atelier atau studio arsitek di Jepang,” terang Naya.

Menurut Naya, ketika berkeinginan menjadi arsitek di Jepang, ia menekankan untuk mempersiapkan kondisi mental. Meski orang Jepang terkenal dengan keramahan dan kesopanannya, namun karena sudah berbeda negara pastinya ada perbedaan budaya yang terasa. Hal itu pun yang juga Naya rasakan. Naya pun turut menghimbau, ketika sudah bekerja sebagai arsitek di Jepang, senantiasa menjalin silahturahmi dengan orang Indonesia yang di Jepang.

“Bekerja sebagai arsitek di Jepang yang penuh dengan referensi bangunan dengan arsitektur yang digemari dan kesempatan untuk berada lebih dekat dengan arsitek-arsitek Jepang kelas dunia, memang membahagiakan. Tetapi, juga tidak lalu mudah untuk dijalani. Mental yang sehat dan bahasa Jepang yang cukup, menjadi hal yang sangat penting untuk bertahan,” tutup Naya. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti

Desain Parkiran Kapal Karya Tim Mahasiswa Arsitektur UNS Raih Juara 3 Lomba Sepekan Arsitektur 2022

Desain Parkiran Kapal Karya Tim Mahasiswa Arsitektur UNS Raih Juara 3 Lomba Sepekan Arsitektur 2022

UNS — Tim mahasiswa Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta catatkan prestasi membanggakan. Mereka menyabet juara 3 dalam Lomba Sepekan Arsitektur 2022. Lomba tersebut diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Arsitektur Tricaka Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

Tim ini beranggotakan tiga mahasiswa. Mereka adalah Oasis Ridho Illahi, Annisa Shafia Mushaffa, dan Bagas Trio Wahyu Saputra. Total sebanyak 70 orang dari 34 Universitas berbeda mengikuti kompetisi ini yang sepenuhnya dilaksanakan secara daring melalui Zoom Cloud Meeting.

Kepada uns.ac.id, mereka menceritakan pengalamannya dalam berkompetisi. Kompetisi tersebut mengambil tema “Inovasi pada Bangunan Maritim”. Permasalahan daerah sekitar pesisir menjadi hal yang disorot. Tim Mahasiswa Arsitektur UNS pun menggali isu permasalahan untuk diselesaikan dengan desain arsitektur.

“Tahun ini temanya Maritime Building. Jadi kami diminta membuat bangunan baru yang bisa membawa inovasi bangunan dan menggarap potensi unik maritim berbagai daerah di Indonesia,” ujar Oasis, Selasa (7/6/2022).

Mereka menemukan satu masalah unik di pantai wisata bernama Pantai Ngrenehan, Kabupaten Gunung Kidul. Hasil temuan tim ini menunjukkan potensi pantai tercermin dari pemandangan dan hamparan pasir putih yang indah. Namun, di pesisirnya terdapat banyak kapal nelayan yang tak terparkir rapi sehingga membuat pantai menjadi padat, sempit, dan kurang nyaman.

Dari permasalahan itulah, pada kompetisi ini, mereka mengusung desain parkiran kapal menggunakan konsep _ vertical rotary parking system_. Inspirasi ini muncul dari parkiran mobil vertikal otomatis yang banyak diterapkan beberapa negara di luar negeri. Mereka mencoba menerapkannya pada kapal-kapal di Pantai Ngerenehan dengan mendesain ulang layout sistem parkiran kapal di sana.

“Jadi, kapal-kapal diparkirkan menumpuk ke atas untuk menghemat space di pantai sehingga pantai menjadi lebih lega, bersih dan nyaman bagi wisatawan untuk berlibu,” terang Oasis.

Sistem parkiran ini menggunakan generator sebagai sumber energi utama. Adapun sumber energi alternatif yang digunakan berupa panel solar untuk menangkap energi matahari yang banyak tersedia di pantai. Panel solar tersebut terpasang pada atap instalasi parkiran.

Sistem parkir seperti ini dinilai memudahkan kerja nelayan dalam memarkirkan kapal mereka. Hal tersebut karena parkiran ini menggunakan sistem roda gigi yang digerakkan motor dan dioperasikan melalui panel kontrol sederhana. Nelayan pun mendapatkan kemudahannya dengan tidak perlu susah memarkir kapal ke bibir pantai. Kemudahan tersebut juga memang menjadi tujuan yang ditawarkan disamping tujuan utama dalam peningkatan potensi pariwisata.

“Jelas untuk meningkatkan potensi pariwisata. Selain itu, untuk mempermudah nelayan dalam memarkir kapal. Penggunaannya gampang karena menggunakan sistem sederhana,” tutur Oasis.

Keberhasilan dalam kompetisi ini semakin spesial. Ini merupakan kali pertama mereka menembus 3 besar setelah banyak kompetisi sayembara arsitektur yang telah diikuti. Mereka mengaku senang atas pencapaian yang diraih. Ide desain ini pun diharapkan dapat menjadi inspirasi dan membuka pandangan baru mengenai desain arsitektur maritim maupun desain arsitektur yang lainnya.

“Senang banget ya. Kami sudah mengikuti banyak kompetisi sayembara arsitektur. Cuma baru ini yang bisa lolos dan dapat tiga besar. Selain itu, karya kami benar-benar mengambil dari permasalahan yang ada. Jadi kami bisa menyelesaikan permasalahan pantai tersebut,” ujar Bagas. Humas UNS

Reporter: Rangga Pangestu Adji
Editor: Dwi Hastuti

Proyek MBKM Mahasiswa FT UNS Rancang Masterplan Stadion dan Wisata Embung di Desa Joho, Wonogiri

Proyek MBKM Mahasiswa FT UNS Rancang Masterplan Stadion dan Wisata Embung di Desa Joho, Wonogiri

UNS — Mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) ikuti proyek Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Desa Joho, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Mereka adalah mahasiswa gabungan dari Program Studi (Prodi) Arsitektur dan Teknik Sipil. Dalam kegiatan tersebut, mereka mengerjakan pembuatan masterplan kawasan desa.

Melansir dari ft.uns.ac.id, proyek ini mulai digagas pada September 2021. Survei lokasi menjadi kegiatan awal yang dilakukan. Hingga pada Desember 2021, mereka mulai memasuki tahap mendesain. Desain pertama masterplan tersebut kini telah selesai dan telah dipresentasikan kepada pihak Desa Joho. Tahap desain ini merupakan fokus kerja mahasiswa dari Prodi Arsitektur.

“Jadi, kerja praktik di sana itu desa meminta ada suatu perencanaan dari lapangan yang diminta dibuatkan stadion, terus ada embung. Di sekitar embung ini ada lahan kosong gitu, kami diminta merencanakan sebuah bangunan serba guna di situ dan mengolah lanskap taman,” ujar Adam Maulana, salah satu mahasiswa Arsitektur.

Yuan Efano Sofyan, rekan Adam, turut menegaskan bahwa luaran akhir dari proyek ini adalah berwujud desain masterplan kawasan desa yang telah mereka kunjungi. Desain tersebut menyuguhkan fasilitas umum yang diperlukan dan dibutuhkan oleh desa.

Setelah presentasi tersebut terlaksana pada Februari 2022, proyek berlanjut dengan turut melibatkan peran mahasiswa Prodi Teknik Sipil. Peran mereka diantaranya ada pada lingkup perhitungan struktur bangunan. Kolaborasi mahasiswa ini menurut Yuan sangat membantu dalam memperhitungkan struktur stadion serta bangunan serba guna yang sudah didesain sebelumnya.

“Kemarin ada ide untuk mengkolaborasikan Arsitektur dengan Sipil. Itu untuk memperhitungkan dari struktur stadion serta bangunan serba guna yang sudah kami rancang. Jadi, bisa dibuat di dunia nyata apa nggak. Istilahnya gitu,” terang Yuan.

Ada banyak harapan dari dilaksanakan proyek MBKM ini. Desain yang telah dibuat diharapkan dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Para mahasiswa UNS pun mampu memperoleh pengalaman secara langsung untuk menerapkan ilmu di perkuliahan. Para mahasiswa juga mengaku akan senang apabila desain yang telah dibuat dapat direalisasikan kedepannya.

Selain itu, menurut Adam, kolaborasi keilmuan seperti yang mereka lakukan dapat juga diterapkan di proyek-proyek lainnya. Tentunya dengan cara yang efektif dan efisien agar mendapatkan hasil yang berkualitas.

“Sangat terbantu dengan program MBKM ini. Soalnya kan dari Arsi (red: Prodi Arsitektur) itu lebih perlu pengalaman, kalau presentasi depan dosen sama di depan instansi yang umum rasanya beda banget. Jadi ada pengalaman,” ujar Yuan.

Humas UNS

Reporter: Rangga Pangestu Adji
Editor: Dwi Hastuti