PKKMB UNS 2022 Catat Rekor Muri dengan Mewarnai Batik pada Kain Terpanjang

PKKMB UNS 2022 Catat Rekor Muri dengan Mewarnai Batik pada Kain Terpanjang

UNS — Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Arjunagata 2022 berhasil memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia atau Muri.

Rekor yang dipecahkan adalah Mewarnai Batik pada Kain Terpanjang oleh Mahasiswa Baru (Maba) UNS. Terdapat 7.255 Maba UNS yang ikut dalam mewarnai batik ini.

Maba UNS mewarnai pada kain yang telah diberikan pola sebelumnya. Total panjang kain yang diwarnai yakni 3.300 meter.

Adapun, pada tahun lalu, PKKMB UNS Candradimuka 2021 juga berhasil memecahkan rekor MURI yakni pembuatan konfigurasi papermob dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 5.200 Maba UNS.

Pengukuhan rekor mewarnai batik pada kain terpanjang oleh Maba UNS disampaikan oleh Sri Widayati selaku representative Muri. Dalam sambutannya pada acara yang digelar di Halaman Gedung dr. Prakosa UNS, Minggu (21/8/2022), ia mengapresiasi raihan rekor ini.

“Dan mewakili Ketua Umum Muri, maka kami umumkan mewarnai batik pada kain terpanjang oleh Maba UNS ini resmi tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia. Selamat atas pencapaian prestasi membanggakan ini,” ujarnya.

PKKMB UNS 2022 Catat Rekor Muri dengan Mewarnai Batik pada Kain Terpanjang

Di hadapan panitia PKKMB UNS Arjunagata 2022 dan Maba UNS, Sri Widayati juga menyerahkan secara simbolis piagam penghargaan pemecahan rekor Muri.

“Pada hari ini, Minggu, 21 Agustus 2022 kembali mencatatkan prestasi di Muri dengan mewarnai batik pada kain terpanjang yakni 3.300 meter dan Maba UNS yang mewarnai sebanyak 7.255 orang,” tambahnya.

Sementara Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho menyampaikan rasa bangganya atas penganugerahan rekor Muri ini.

“Saya bangga pada kalian semua, Maba UNS yang meski baru masuk di UNS tetapi sudah mengukir prestasi yang luar biasa,” ujar Prof. Jamal dalam sambutannya.

Prof. Jamal menambahkan bahwa ini adalah pemecahan rekor Muri UNS yang ke-13. Sebagaimana yang diungkapkannya, sebagai keluarga besar sivitas akademika UNS, kita sepatutnya bangga karena belum berusia 50 tahun, tetapi UNS telah mampu menorehkan prestasi yang tidak hanya pada tingkat nasional tetapi juga sampai internasional.

PKKMB UNS 2022 Catat Rekor Muri dengan Mewarnai Batik pada Kain Terpanjang

“Saya yakin tahun 2022, kami punya amunisi baru. Karena lebih dari 10.000 mahasiswa UNS masuk sebagai saringan pilihan dari calon mahasiswa yang mendaftar di UNS lebih dari 70.000 orang. Artinya kalian adalah generasi pemenang untuk masuk di gerbang Perguruan Tinggi (PT) di UNS. Saya ucapkan terima kasih dan selamat atas pemecahan rekor Muri ini,” tutup Prof. Jamal. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti

LPPM UNS Dampingi Pengrajin Topeng Batik di Patuk, Gunung Kidul

LPPM UNS Dampingi Pengrajin Topeng Batik di Patuk, Gunung Kidul

UNS — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan pengabdian masyarakat dengan memberikan pendampingan kepada pengrajin topeng batik yang tergabung dalam UKM Karya Manunggal di Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pengabdian dari LPPM UNS dilakukan sejak tahun 2020 melalui Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD).

Tim PPPUD terdiri atas 4 personil dengan ketua tim Prof. Slamet Subiyantoro guru besar bidang antropologi seni yang tupoksinya mengembangkan diversitas design topeng, kemudian Prof. Pujiyono dari Fakultas Hukum (FH) UNS ahli dalam bidang Hak Kekayaan Intelektual atau HKI, Dr. Kristiani pakar ekonomi bidang eksport produk UKM dan Dwi Maryono, M.Kom. pakar IT dari Prodi Pendidikan Teknik Informasi dan Komputer UNS.

Ketua tim Prof. Slamet Subiyantoro mengatakan, bahwa UKM Karya Manunggal ini memproduksi karya seni topeng batik kayu dan beberapa kerajinan berbahan kayu lainnya seperti berbagai jenis hewan, souvenir maupun boneka loro blonyo. Produk topeng ada yang corak klasik dan topeng hias batik, baik dengan Teknik batik tulis maupun Teknik cat.

“Program pengabdian ini bertujuan untuk memperkaya diversitas desain topeng serta membantu UKM agar dapat memproduksi topeng yang siap eksport,” terang Prof. Slamet di sela-sela acara kunjungan ke UKM Karya Manunggal, Kamis (23/6/2022).

Prof. Slamet menambahkan, Tim PPPUD UNS sejak tahun 2020 secara kompak membantu UKM Karya Manunggal yang mati suri akibat dampak pandemi Covid-19. Pada tahun pertama, berbagai upaya telah dilakukan oleh
Tim PPPUD untuk membantu UKM agar tetap bertahan di tengah sepinya penjualan produk karya seni di tengah pandemi Covid-19. Upaya pertama yang dilakukan oleh Tim adalah melakukan diversitas desain topeng. Diversitas topeng bertujuan untuk meningkatkan nilai fungsi, nilai estetika dan nilai ekonomi dari produk kerajinan topeng. Pengembangan diversitas produk tidak dapat dilakukan dengan spontan, oleh karena itu TIM PPPUD memberikan materi pendampingan terkait proses penggalian ide pengembangan produk.

LPPM UNS Dampingi Pengrajin Topeng Batik di Patuk, Gunung Kidul

“Luaran dari kegiatan ini berupa meningkatnya pengetahuan UKM dan berubahnya paradigma menuju ke memodernisasi topeng. Berdasarkan pendampingan yang telah dilakukan diversitas desain yang dihasilkan misalnya desain topeng yang diterapkan pada kepentingan praktis tempat hp, jam, informasi papan, tempat bolpoin, nomer rumah, tempat surat, tempat lampu, cermin, gantungan kunci dan lain-lain.

Kegiatan kedua yang dilakukan adalah Pendampingan pembukuan. Pendampingan ini bertujuan agar UKM tertib dalam mengelola pemasukan dan pengeluaran penjual produk. Pembukuan terkait dengan cash flow yang baik juga dapat membantu UKM untuk menentukan harga produk yang dikaitkan dengan biaya proses produksi. Selain pembukuan manual Tim PPPUD juga melakukan pendampingan secara digital dengan menggunakan sebuah aplikasi pembukuan berbasis android. Pada awalnya pihak UKM mengakui bahwa proses pembukuan berbasis digital terasa sulit akan tetapi disadari bahwa manfaatnya lebih efektif dan efisien.

Kegiatan yang ketiga adalah pendampingan HKI atau Hak kekayaan Intelektual. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan bagi para pengrajin bahwa produk karya inovasi seni yang dihasilkan pengrajin harus dilindungi oleh hukum agar kelak kemudian hari tidak ditiru dan di klaim oleh pihak lain. Target dari kegiatan ini berupa kesadaran pengrajin UKM Karya Manunggal agar melindungi produknya dengan HKI supaya tidak dirugikan pihak lain. Beberapa HKI telah didaftarkan dan mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual dari hasil diversifikasi desain produk yang telah dihasilkan.

Dampak pandemi Covid-19 yang menimpa UKM berimbas pada rendahnya penjualan yang dilakukan secara offline. Langganan yang sedianya rutin membeli produk dari UKM berhenti total karena memang produk karya seni dimasa pandemi sangat sulit untuk dijual karena kebijakan social distancing dan protokol Kesehatan sehingga terasa sulit dalam berinteraksi secara offline.

Mengatasi hal tersebut Tim IT PPPUD, Dwi Maryono M.Kom. berinisiatif mengajak UKM untuk mengembangkan pemasaran berbasis digital. Pemasaran berbasis digital dimulai dengan mengenalkan UKM dengan platform penjualan online seperti shopee dan tokopedia. Selanjutnya untuk menambah pangsa pasar yang lain tim juga membuat website penjualan topeng dan aplikasi topeng batik yang dapat di unduh di playstore.

LPPM UNS Dampingi Pengrajin Topeng Batik di Patuk, Gunung Kidul

Sementara itu, Ketua LPPM UNS, Prof. Okid Parama Astirin menambahkan, selain pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, Tim PPPUD juga memberikan sejumlah peralatan untuk UKM. Alat yang hendak diberikan didiskusikan terlebih dahulu kepada UKM agar spesifikasi dan kegunaan alat yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan. Setelah mencapai kesepakatan alat yang diberikan berupa gergaji chain saw, tatah ukir dan mesin alat aplas. Berbagai peralatan tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga proses produksi dapat dilakukan dengan cepat namun tetap dengan kualitas yang terstandar.

Tim PPPUD juga membuat showroom di Disperindag Gunung Kidul, di UKM, di kampus UNS sebagai tanda kegiatan pengabdian yang telah dilakukan serta sebagai bagian dari upya tim untuk membantu pemasaran Produk Topeng. Selain showroom tim PPPUD juga aktif dalam mengikuti pameran misalnya di Jakarta, Bali dan Surakarta.

Sementara itu, Owner UKM Karya Manunggal, Sujiman mengucapkan terima kasih kepada Tim PPPUD UNS. “Terima kasih kepada Prof. Slamet dan tim karena sudah membina dan mendampingi kami. Bahkan 24 jam siap melayani konsultasi kami,” ujar Sujiman.

Sujiman mengaku selama pandemi Covid-19 penjualan topeng batik mengalami penurunan. “Alhamdulillah berkat pendampingan dari UNS, kini penjualan mulai bergairah. Selain diversifikasi desain, UNS juga memberikan bantuan peralatan untuk mendukung produksi topeng batik,” ujar Sujiman. Humas UNS

Reporter: Dwi Hastuti

Tuangkan Kekhasan Daerah pada Batik, Profesor UNS Patenkan Tiga Motif Batik

Tuangkan Kekhasan Daerah pada Batik, Profesor UNS Patenkan Tiga Motif Batik

UNS — Profesor bidang ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Izza Mafruhah mematenkan tiga motif batik miliknya. Profesor yang kerap disapa Prof. Izza tersebut mematenkan tiga motif batik bernama Benteng Pendem, Waduk Pondok dan Edi Tirto. Ketiga motif batik ini diilhami dari kekhasan daerah masing-masing.

Berawal dari penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dengan grup riset, Prof. Izza berinisiatif untuk membuatkan batik dengan motif khas daerah yang diteliti. Motif batik Benteng Pendem dan Waduk Pondok yang diciptakannya terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi. Sementara itu, motif terakhir tercetus dari kekhasan yang dimiliki Kabupaten Sragen.

“Dalam falsafah Jawa ada ungkapan ajining raga saka busana yang berarti kehormatan badan dilihat dari busananya. Nah, dari situ kami tertarik untuk membuat batik. Batik kan kalau dilihat bagus dan indah gitu. Jadi kita mempromosikan daerah melalui pakaian tadi. Saat ada yang tanya wah batiknya bagus, nah saya bisa cerita kalau ini nih Sragen gitu jadi sekalian bisa kita promosikan. Saya pikir ini bisa menjadi metode yang efektif,” jelas profesor di bidang Ekonomi Pembangunan ini, Senin (28/2/2022).

Prof. Izza mengembangkan motif batik dengan konsep HEBAT. Konsep tersebut merupakan singkatan dari heritage, ecology, batik, agriculture, and tourism. Melalui konsep tersebut, Prof. Izza berusaha untuk merekam kekhasan suatu daerah dari segi peninggalan sejarah, ekologi, batik, pertanian, dan pariwisata.

Dua motif awal yang dikembangkan oleh Prof. Izza terinspirasi dari kekhasan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kabupaten tersebut memiliki banyak wisata alam seperti Waduk Pondok dan Benteng Pendem. Selain itu, ada pula wisata sejarah yakni Museum Trinil di Ngawi.

Batik bermotif Waduk Pondok dan Benteng Pendem itu juga dibuat dengan teknik khusus. Dua motif batik tersebut dibuat dengan perpaduan batik tulis dan cetak. Pembuatanya memanfaatkan malam dingin. Keuntungan teknik ini yakni motif batik timbul seperti pada batik tulis, tetapi pengerjaannya lebih cepat karena dicetak menggunakan malam dingin.

“Nah, yang ini perpaduan antara tulis dan cetak. Batik ini kita cetak dengan malam dingin atau lilin itu ya. Kalau batik tulis kan pakai malam panas ya dan memakan waktu lama sehingga tidak setiap pengrajin batik siap karena dia harus punya serep gitu. Satu batik tulis tu mungkin makan waktu sampai beberapa minggu. Jadi, kita siapkan model ini sehingga cepat produksi serta kalau dilihat seperti batik tulis,” ujar Prof. Izza yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan Riset, Akademik, dan Kemahasiswaan FEB UNS.

Sementara itu, motif batik yang dikembangkan pada 2021 terinspirasi dari kekayaan Kabupaten Sragen. Prof. Izza dan timnya memadukan burung Branjangan yang merupakan burung khas Sragen dengan Waduk Kedung Ombo serta peninggalan purbakala di Museum Sangiran.

Selain itu, motif batik yang dinamakan Edi Tirto itu juga dilengkapi dengan gambar humus serta batang gabah. Humus dan batang gabah tersebut perlambang kemakmuran dan kesuburan yang ada di Kabupaten Sragen. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa Kabupaten Sragen merupakan penghasil padi terbesar ketiga di Jawa Tengah.

Tuangkan Kekhasan Daerah pada Batik, Profesor UNS Patenkan Tiga Motif Batik

“Ini ada tulisan Memayu Hayuning Bawana di motif batik Edi Tirto. Kalimat itu adalah salah satu slogan yang ada di FEB yang artinya mempercantik bumi yang sudah cantik. Memayu menambah ayu, hayuning kecantikan, dan bawana bumi. Menambah kecantikan bumi yang sudah cantik,” urainya.

Bangkitkan UKM Pengrajin Batik

Prof. Izza dan tim mempercayakan produksi batik bermotif khas tersebut kepada para UKM yang ada di Kabupaten Sragen. Beliau mengatakan sengaja tidak bekerja sama dengan pabrik besar karena ingin turut menyejahterakan pengrajin daerah.

“Kami memang nggak mau ke pabrik besar, kami inginnya ke UKM supaya dapat menumbuhkan UKM-UKM batik di sana. Kami lebih puas karena bisa membantu,” tutur Prof. Izza.

Batik motif ciptaannya kini sudah dilirik banyak pembeli. Bahkan, motif batik Edi Tirto dijadikan batik seragam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS. Prof. Izza berharap motif batik tersebut dapat membawa kebermanfaatan untuk banyak pihak seperti UNS, pemerintah daerah, dan masyarakat umum. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti

Tim RG Kriya dan Tradisi FSRD UNS Mengadakan Pelatihan Pembuatan Kemasan Batik

Tim RG Kriya dan Tradisi FSRD UNS Mengadakan Pelatihan Pembuatan Kemasan Batik

UNS — Tim Riset Grup Kriya dan Tradisi Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan pelatihan pembuatan kemasan batik. Kemasan ini dibuat dengan corak batik tiga negeri khas Kota Solo. Pelatihan tersebut berlangsung secara daring pada Sabtu (30/10/2021) di SMA Regina Pacis Surakarta.

Sebelumnya, pada tahun 2020 juga telah dilakukan pelatihan yang sama. Kemudian, saat ini pelatihan dilakukan kembali sebagai kelanjutan pelatihan di tahun sebelumnya. Pada pelatihan sebelumnya, siswa SMA Regina Pacis dikenalkan dengan Batik Tiga Negeri Surakarta. Kemudian, pada 2021 ini mereka diajak untuk membuat kemasan produk Batik Tiga Negeri Surakarta dengan tujuan agar produk dapat tersimpan dengan rapi. Selain itu juga untuk menambah daya tarik bagi para konsumen. Bentuk kemasan yang dipilih berupa totebag dengan tujuan agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan lain.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini, dipilih 20 orang peserta yang merupakan perwakilan siswa dari kelas 10 dan 11.

“Setiap siswa sebelumnya telah menerima alat dan bahan yang sudah disiapkan oleh RG Kriya dan Tradisi. Mereka dibantu oleh mahasiswa yang tergabung dalam pengabdian ini karena kondisi pandemi yang menyebabkan minimnya akses bepergian. Sebelum pelatihan berlangsung, alat dan bahan dikirimkan kepada seluruh peserta terlebih dahulu,” tutur Dr. Sarah Rum Handayani selaku ketua pengabdian

Acara ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa yang membantu RG dalam kegiatan penelitian dan pengabdian, siswa peserta pelatihan, dan guru di SMA Regina Pacis Surakarta. Dalam sambutannya, Dr. Sarah mengajak siswa untuk berkreasi dengan rasa gembira. Selanjutnya siswa disuguhi sebuah video tutorial yang sudah disiapkan tim untuk mempermudah pemahaman dalam pelaksanaan pelatihan online ini.

Pelatihan ini dipandu oleh Novia Kartikasari, S.Sn., M.A. dan Dr. Theresia Widiastuti. Para siswa cukup antusias dalam mengikuti acara ini. Sebagian dari mereka memang menyukai seni dan mayoritas mampu berkreasi sesuai dengan petunjuk dan contoh yang diberikan. Untuk kepentingan ini, RG Kriya dan Tradisi juga membuat grup Whatsapp Pelatihan Online membuat kemasan sebagai media komunikasi dengan para peserta termasuk dengan guru SMA Regina Pacis Surakarta. Usai acara, para siswa aktif mengkonsultasikan karya yang mereka buat melalui grup Whatsapp tersebut. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti

Peringati Hari Batik, DWP UNS Belajar Membatik di Laweyan

Peringati Hari Batik, DWP UNS Belajar Membatik di Laweyan

UNS — Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober lalu, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Belajar Membatik Bersama Graha Batik Cempaka di Laweyan, Selasa (19/10/2021). Dalam kegiatan membatik tersebut, mengambil tema Wujud Cinta dan Upaya Melestarikan Warisan Budaya Indonesia.

Ketua DWP UNS, Budhi Widjayanti Jamal Wiwoho menyampaikan di Bulan Oktober terdapat hari penting salah satunya yaitu Hari Batik Nasional. “Untuk memperingati hari tersebut, DWP UNS ingin belajar dan menambah pengetahuan seputar batik. Jadi di Showroom Batik Cempaka ibu-ibu belajar membatik, lalu menimba ilmu terkait dengan macam-macam batik itu apa saja,” terang Budhi Widjayanti Jamal Wiwoho.

Sebanyak 30 ibu-ibu DWP UNS sangat antusias mengikuti latihan membatik. Ada yang memilih membatik kipas, ada juga yang memilih membatik sajadah. “Jadi ada dua model yaitu kipas dan sajadah. Sudah dipotong dari Showroom Batik Cempaka modelnya ada kipas dan ukuran sajadah,” imbuh Budhi Widjayanti Jamal Wiwoho.

Peringati Hari Batik, DWP UNS Belajar Membatik di Laweyan

Sementara itu, Wakil Ketua yang membidangi Bidang Pendidikan DWP UNS, Arlin Kuncoro Diharjo menambahkan, sebelum dimulai membatik, ibu-ibu DWP UNS memperoleh penjelasan seputar sejarah Laweyan dan perbatikan dari Dhany Arifmawan Wibowo, S.E. yang merupakan putra dari pemilik Graha Batik Cempaka.

“Setelah kita memperoleh penjelasan seputar sejarah perbatikan, pemilik Graha Batik Cempaka Ibu Budi Susilo melatih ibu-ibu DWP UNS membatik. Alhamdulillah ibu-ibu pada senang,” ujar Arlin Kuncoro Diharjo. Humas UNS

Reporter: Dwi Hastuti