Dokter RS UNS Sampaikan Cara Kenali Gejala Kanker Payudara

Dokter RS UNS Sampaikan Cara Kenali Gejala Kanker Payudara

UNS — Kanker payudara merupakan jenis penyakit kanker yang paling banyak ditemukan di dunia. Kanker ini menjadi kasus terbanyak di dunia dengan jumlah pengidap mencapai 24,5% dari seluruh pengidap kanker jenis lainnya.

Kanker payudara juga bertengger di posisi teratas kasus kanker di Indonesia. Pengidap kanker payudara di Indonesia mencapai 16,6% dari keseluruhan jumlah pengidap kanker sesuai data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2020. Hal ini menandakan bahwa kanker payudara merupakan musuh besar yang harus dihadapi masyarakat.

Dokter Spesialis Radiologi Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (RS UNS), dr. Notariana Kusuma A, Sp.Rad. mengatakan bahwa tingginya kasus kanker payudara dikarenakan banyak penderita yang tidak menyadari gejala sakitnya. Para penderita baru menyadari gejala-gejala kanker payudara saat stadium akhir sehingga penanganannya cukup telat. 

“Di Indonesia sendiri, kanker payudara menduduki nomor pertama juga. Kejadiannya 16,6%. Di Indonesia ini 70% kanker payudara itu ditemukan sudah di stadium lanjut,” ujarnya saat ditemui dalam acara pertemuan rutin Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNS pekan lalu di Sekretariatan DWP UNS.

Supaya hal tersebut tidak terjadi lagi, edukasi mengenai gejala kanker payudara perlu dimasifkan. Dr. Notariana menjelaskan bahwa kanker payudara berasal dari tumor payudara yakni benjolan yang berada di payudara. Tumor tersebut ada yang berjenis jinak yaitu tumor yang sel-sel tumornya tidak menyerang jaringan normal di sekitarnya dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain.

Sementara itu, ada pula tumor bersifat ganas yang menyerang jaringan normal di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lain. Tumor payudara yang bersifat ganas itulah yang disebut kanker payudara.

Gejala kanker payudara bermacam-macam, tetapi yang paling umum adalah adanya benjolan di bagian payudara. Gejala-gejala lain yakni bentuk dan ukuran payudara berubah, terjadi luka di payudara, terjadi penebalan dan pengerutan kulit di payudara, serta terjadi retraksi puting. Selain itu, nyeri di bagian payudara dan keluar cairan dari puting juga termasuk gejala kanker payudara. Kendati demikian, banyak pengidap kanker payudara yang tidak memiliki keluhan di stadium awal.

Penyakit ini memiliki faktor risiko yang terbagi menjadi dua kategori yakni faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi di antaranya wanita, usia lebih dari 50 tahun, memiliki riwayat kanker di keluarga, dan mutasi genetik. Selain itu, usia saat mens pertama dan menopause juga mempengaruhi.

“Perempuan yang mens pertama di bawah 12 tahun dan menopause di atas 55 tahun memiliki faktor risiko mengidap kanker payudara lebih besar,” jelas dr. Notariana.

Sementara itu, faktor risiko yang dapat dimodifikasi yakni tidak punya anak, tidak menyusui, obesitas, dan kontrasepsi hormonal. Selain itu, perempuan yang memiliki anak pertama di atas 30 tahun juga berisiko terkena kanker payudara.

Agar tidak terlambat mendeteksi adanya kanker payudara, dr. Notariana menganjurkan para perempuan untuk melakukan deteksi dini. Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan melalui dua cara yakni pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) dan pemeriksaan payudara klinis (Sadanis). Waktu Sadari yang tepat yakni hari ke tujuh dari mens pertama tiap bulan. Sementara itu, waktu Sadari untuk perempuan yang sudah menopause yaitu tanggal yang sama setiap bulan.

Sadanis dapat dilakukan dengan cara berkonsultasi ke dokter serta melakukan pemeriksaan radiologi. Ada tiga pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan yakni mamografi, USG, dan MRI. Ketiga jenis pemeriksaan radiologi tersebut rata-rata sudah tersedia di rumah-rumah sakit besar seperti RS UNS. 

Dua cara deteksi dini penyakit kanker payudara tersebut dapat dipilih salah satu. Namun, dr. Notariana menganjurkan agar perempuan yang memiliki riwayat kanker payudara di keluarganya dapat memeriksakan dirinya lebih awal ke dokter. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Redaktur: Dwi Hastuti

Senat Akademik UNS Gelar Webinar Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan

Senat Akademik UNS Gelar Webinar Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan

UNS — Senat Akademik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Webinar dengan tajuk ‘Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan’ melalui Zoom Meeting, Sabtu (23/4/2022). Dengan dimoderatori oleh Prof. Ari Natalia Probandari, dr., M.P.H., Ph.D., Kepala Program Studi (Prodi) S3 Ilmu Kesehatan Masyarakat webinar tersebut mengulas mengenai profesi Dokter dan inovasi pengobatan dilihat dari perspektif etik dan hukum.

Ketiga pembicara hebat yang hadir yaitu Dr. dr. Beni Satria, S.Ked., M.Kes., S.H., M.H., CPMed., CPArb., CPCLE., Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) PB IDI, Dr. dr. J. B. Prasodjo, Sp.Rad(K)., Kepala Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran UNS dan RSUD Dr. Moewardi Surakarta, serta Dr. Arief Suryono, S.H., M.H.

Acara ini turut dihadiri oleh Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum., para Pimpinan MSA PTNBH se-Indonesia, dan Pimpinan Komisi Senat Akademik UNS. “Sekali lagi, ini penting untuk kita semua. Mari kita dukung bersama bahwa hadirnya inovasi pengobatan kedokteran yang dilakukan oleh rekan sejawat Dokter tersebut bukan ancaman bagi kemajuan dunia kedokteran dan matinya profesi Dokter di Indonesia. Justru inovasi itu diperlukan mengingat adanya permasalahan kesehatan baru, hampir di setiap tahunnya. Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Senat Akademik UNS yang sudah menyelenggarakan kegiatan ini untuk mengetahui pentingnya profesi Dokter dalam menumbuhkan inovasi pengobatan untuk kepentingan kesehatan masyarakat,” tutur Prof. Jamal dalam sambutannya.

Senat Akademik UNS Gelar Webinar Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan

Dalam sambutan lain, Ketua Senat Akademik UNS, Prof. Dr. Adi Sulistiyono, S.H., M.H., menyampaikan alasan diselenggarakannya acara ini. Berawal dari viralnya di media sosial terkait dengan putusan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 25 Maret 2022 yang lalu, resmi memberhentikan mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad(K). sebagai anggota IDI dalam Muktamar ke-31 IDI di Banda Aceh.

“Senat Akademik UNS memandang perlu untuk kegiatan ini supaya kita bisa secara jernih memandang kasus ini dan yang terpenting kedepannya kita bisa langkah-langkah kebijakan yang bagus, baik, dan sesuai dengan aturan khususnya di kalangan profesi Dokter di UNS,” ujarnya Prof. Adi

Senat Akademik UNS Gelar Webinar Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan

Memasuki sesi pemaparan materi, Dr. Beni menyampaikan bahwa janji seorang Dokter sudah disampaikan di satu prasasti yang berada di Lembah Mesopotamia, Babilonia sejak 250 tahun SM..Salah satu aturan di prasasti tersebut adalah seorang Dokter akan kehilangan tangannya apabila pasien yang ditanganinya meninggal. Aturan dalam prasasti itulah yang menjadi marwah Dokter untuk melakukan pengobatan secara maksimal.

“Sudah diamanatkan pada UUD 1945 Pasal 28 H Ayat 1 tentang Hak Memperoleh Pelayanan Kesehatan, dimana hak kesehatan itu adalah hak asasi manusia. Negara mengakui ini agar setiap orang itu memperoleh standar tertinggi, jadi standar itu tidak boleh minimal atau bahkan medium. Harus standar tertinggi agar kesehatan fisik dan mental setiap orang itu bisa betul-betul didapatkan,” jelasnya.

Hal tersebut sejalan dengan lahirnya Undang-Undang Praktik Kedokteran di tahun 2004, di dalam peraturan tersebut disampaikan bahwa penyelenggaraan praktik Kedokteran adalah upaya kesehatan yang harus dilakukan oleh Dokter dan Dokter Gigi yang memiliki etik dan moralitas yang tinggi.

Dr. Prasodjo selaku pembicara kedua berpendapat bahwa sejak semula profesi Dokter itu bisa disebutkan sebagai akademik profesional. “Ketika seorang Dokter menjalankan profesinya harus berinovasi supaya ada perkembangan bagi ilmu kedokteran itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara mengobati seseorang menjadi lebih baik, bagaimana cara menemukan cara pengobatan yang baru terhadap penyakit baru sehingga akan menguntungkan masyarakat yang memanfaatkannya,” ungkapnya.

Beberapa inovasi yang bisa dilakukan seorang Dokter itu di antaranya menemukan model diagnosis baru dengan cara yang baru dan menemukan cara terapi yang baru. Namun, Dr. Prasodjo menyampaikan menemukan cara terapi baru ini bukanlah suatu inovasi yang mudah. Karena di dalam terapi ini menyangkut terapan yang objeknya manusia, sehingga hal tersebut menjadi sulit dilakukan dan membutuhkan tanggung jawab yang tinggi.

Pembicara terakhir dalam acara tersebut, Dr. Arief menyampaikan bagaimana hukum memandang hubungan antara Dokter dan pasien. “Hubungan antara Dokter dan pasien merupakan hubungan hukum yang berdasarkan perjanjian, persetujuan, transaksi, informed consent, maupun peraturan perundang-undangan yang membawa akibat terhadap tanggung jawab Dokter yaitu tanggung jawab etika, disiplin, dan tanggung jawab hukum” pungkasnya.

Senat Akademik UNS Gelar Webinar Profesi Dokter dan Inovasi Pengobatan

Dr. Arief juga menjelaskan mengenai 2 jenis perjanjian yaitu inspannings verbintenis atau perjanjian upaya yang artinya kedua belah pihak berjanji berdaya upaya secara maksimal untuk mewujudkan apa yang diperjanjikan dan resultaat verbintenis atau perjanjian bahwa pihak yang berjanji akan memberikan suatu resultaat yaitu suatu hasil nyata yang sesuai dengan apa yang diperjanjikan. “Perjanjian antara Dokter dengan pasien pada umumnya termasuk perjanjian inspannings verbintenis atau perjanjian upaya. Sebab dalam perjanjian ini, Dokter berkewajiban untuk melakukan upaya pelayanan kesehatan secara maksimal dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan perhatiannya sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, etika profesi, dan kebutuhan kesehatan pasien,” tambah Dr. Arief. Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Editor: Dwi Hastuti

UNS Lantik dan Ambil Sumpah Sembilan Dokter Baru, Dua Dokter Berasal dari Vietnam

UNS Lantik dan Ambil Sumpah Sembilan Dokter Baru, Dua Dokter Berasal dari Vietnam

UNS — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali melantik dan mengambil sumpah dokter baru. Kali ini pelantikan dilaksanakan secara luring di Auditorium FK UNS dan daring melalui Zoom Cloud Meetings pada Selasa (19/4/2022). Sebanyak sembilan dokter baru dilantik dan diambil sumpah. Dua dokter yang dilantik pada periode 219 ini berasal dari Vietnam.

Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FK UNS, Paramasari Dirgahayu,dr., Ph.D. menyampaikan bahwa sembilan dokter yang diambil sumpah telah lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) periode Februari 2022. Tiga dokter baru berjenis kelamin pria, sedangkan sisanya wanita.

Meski demikian, hanya tujuh orang yang hadir secara luring. Sementara itu, dua dokter baru yang berasal dari Vietnam mengikuti secara daring. Dokter baru yang meraih IPK tertinggi pada pelantikan kali ini adalah dr. Ramadhaningtyas Maghfirotul Fajriani dengan IPK 3,75. Dengan dilantiknya sembilan dokter baru ini, FK UNS tercatat telah meluluskan 6.682 dokter sejak tahun 1976.

Wakil Rektor Umum dan Sumber Daya Manusia UNS, Prof. Dr. Bandi, M.Si., Ak. menyampaikan selamat secara langsung kepada para dokter baru. Prof. Bandi mengingatkan bahwa FK UNS termasuk FK yang cukup diperhitungkan di Indonesia sehingga para lulusan diharapkan dapat mantap menapaki karier baru.

“Selamat kepada para dokter baru. Kami bangga melepas putra putri Bapak Ibu yang lulus sebagai dokter,” ujarnya.

Dekan FK UNS, Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P (K) mengingatkan bahwa momentum ini adalah awal bagi para dokter baru memulai karier. Momentum ini bukanlah akhir dari perjuangan para dokter baru selama ini.

Beliau juga mengingatkan bahwa banyak tangga yang masih bisa dilewati oleh para dokter baru. Tangga-tangga karier tersebut dapat berupa penjenjangan ataupun pendalaman.

“Tangga di depan cukup banyak. Kalian bisa mengambil tangga spesialis atau tangga pendidik dan dosen atau tangga yang lain. Namun, berapa tangga yang kalian pilih itu bergantung pada pilihan kalian. Hanya satu tangga ini boleh, tapi jika mau menapak ke atas juga boleh. Kami sangat terbuka jika teman-teman hendak mengambil pendidikan di UNS lagi,” jelas Prof. Reviono.

Prof. Reviono juga memberi wejangan kepada dokter baru bahwa kemampuan klinis tidak cukup. Hal itu perlu didukung oleh kejujuran dan hiburan. Selain itu, Prof. Reviono juga mengimbau para dokter baru untuk memperluas dan memperkuat jejaring.

Hal itu juga diamini oleh Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FK UNS, dr. Sri Pratomo, Sp.B., FINACS, FICS. yang hadir secara luring. Beliau mengingatkan 3K yang harus dijalankan oleh para dokter baru. Tiga K yang dimaksud yakni kesejawatan, kesantunan, dan kebersamaan.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Surakarta, Dr.dr. Cahyono Hadi, Sp.OG yang juga hadir secara luring mengimbau para dokter baru untuk menentukan tujuan. Pemetaan tujuan tersebut penting untuk menentukan langkah mana yang akan diambil.

Perwakilan dokter baru yang dilantik, dr. Trisandi Adi Pamungkas memohon doa kepada para hadirin supaya langkah mereka ke depan dimudahkan. Selain itu, mereka juga memohon doa agar dapat mengharumkan nama FK UNS  di karier masing-masing.

“Kami mohon doanya karena perjalanan kami sebagai dokter baru tidak hanya sampai di sini. Kami akan melanjutkan perjalanan baik kami di sini atau teman kami di Vietnam agar selanjutnya kami bisa lebih baik lagi dan lebih teladan lagi serta kami bisa mengharumkan nama FK UNS,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti

Dokter RS UNS Bagikan Tips Kulit Sehat dan Glowing Saat Puasa

Dokter RS UNS Bagikan Tips Kulit Sehat dan Glowing Saat Puasa

UNS — Pernahkah kamu merasakan kulit kering saat berpuasa? Puasa saat Ramadan selain menjaga stamina tubuh, kesehatan kulit juga perlu kita perhatikan loh.

Pasalnya, ketika tubuh kekurangan cairan bukan tidak mungkin hal tersebut menjadi salah satu penyebab kulit kering bahkan menimbulkan permasalahan kulit lainnya. Pasti tidak mau kan jika di hari Lebaran nanti kulitmu justru bermasalah?

Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Alamanda Murasmita, Sp.DV memberikan tips menjaga kulit tetap sehat dan glowing saat berpuasa. Tips ini ia sampaikan melalui Instagram @rumahsakituns yang tayang pada Sabtu (16/4/2022).

“Empat tips glowing anti kering saat puasa dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan cairan dalam tubuh, memperhatikan asupan nutrisi, istirahat malam yang cukup, serta menggunakan pelembab dan sunscreen,” ujar dr. Alamanda.

  1. Penuhi Kebutuhan Cairan
    Tetap minum 2 liter air atau setara dengan 8 gelas air putih setiap harinya selama bulan puasa dengan konsep 2 4 2. Sebanyak 2 gelas saat berbuka, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas saat sahur.
  2. Perhatikan Asupan Nutrisi
    Menjaga nutrisi kulit dari dalam juga tak kalah pentingnya. Hal ini untuk menjaga kelembapan alami kulit supaya tampak sehat dan terlihat awet muda. Caranya dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan vitamin. Serta mengurangi konsumsi kafein.
  3. Istirahat Malam yang Cukup
    Tidur malam yang cukup dapat memperlambat atau mencegah penuaan dini pada kulit. Selain itu, juga memungkinkan proses perbaikan jaringan kulit berjalan lebih optimal. Dengan tidur malam yang cukup bisa membuat kulit semakin sehat dan bersinar.
  4. Gunakan Pelembab dan Sunscreen secara Teratur
    Sesuai namanya menggunakan pelembab dapat membuat kelembapan kulit kita tetap terjaga. Serta penggunaan sunscreen secara teratur dapat mencegah dampak buruk yamg ditimbulkan dari paparan sinar UV. Pemakaian sunscreen yang benar juga membantu mencegah munculnya tanda-tanda penuaan dini pada kulit. Namun, tetap pilihlah pelembap dan sunscreen sesuai dengan kebutuhan kulit kamu.

Itu tadi tips dari dr. Alamanda supaya kulit tetap sehat dan glowing selama puasa. Meksipun tengah berpuasa, kulit jangan sampai ikut “puasa” juga ya. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti

Sering Merasa Haus dan Mengantuk? Awas Gejala Diabetes, ini Kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS UNS

Sering Merasa Haus dan Mengantuk? Awas Gejala Diabetes, ini Kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS UNS

UNS — Pernahkah kamu merasa cepat haus atau mengantuk di jam-jam sibuk padahal seharusnya tubuh berenergi ketika bekerja? Jika iya, sebaiknya kamu waspada.

Pasalnya dua hal itu disebut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Evi Liliek Wulandari, Sp.PD, M.Kes, sebagai gejala diabetes.

“Gejala klasik diabetes berupa sering buang air kecil, sering merasakan haus sehingga banyak minum, sering merasakan lapar sehingga banyak makan, dan ada juga terjadinya penurunan berat badan,” ujar dr. Evi.

Sementara itu, ternyata diabetes juga dapat diketahui dari gejala nonklasik, seperti rasa cepat mengantuk, tidak ada gairah, dan kaburnya penglihatan.

“Ya, kacamata sering berubah ukurannya, terus kaki sering merasakan kesemutan, tebal, atau mungkin nyeri. Kalau terjadi luka, sulit untuk sembuh,”  jelas dr Evi.

Ia menambahkan, gejala diabetes dapat berbeda sesuai jenis kelamin. Pada laki-laki gejala diabetes diketahui dari menurunnya aktivitas seksual, sementara pada perempuan adalah keputihan yang berulang atau sulit untuk sembuh.

Setelah mengetahui gejala klasik dan nonklasik dari diabetes, mari kita bahas penyakit gula darah ini, mulai dari pengertian, faktor-faktornya, hingga cara pencegahannya.

Perlu diketahui bahwa diabetes masih menempati daftar teratas sebagai penyakit paling mematikan di dunia. Lihat saja data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020 yang menempatkan diabetes pada daftar penyakit penyebab sepuluh kematian teratas.

Diabetes berada pada peringkat ke-9 sebagai penyakit paling mematikan di dunia bersama penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, alzheimer, kanker paru-paru, dan infkesi saluran pernapasan bawah yang juga masuk di dalam daftar.

dr. Evi menjelaskan bahwa diabetes merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang disebabkan adanya kelainan sekresi pada insulin atau terjadinya kelainan pada kerja insulin.

Ia menerangkan, diabetes dibagi menjadi beberapa jenis, seperti diabetes melitus tipe 1, diabetes melitus tipe 2, diabetes gestasional, dan diabetes LADA, dan diabetes MODY.

Pada diabetes melitus tipe 1, penyebabnya adalah kerusakan pada sel beta pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin yang absolut atau defisiensi insulin yang absolut.

Sementara diabetes melitus tipe 2 disebabkaan oleh kelainan dari kerja insulinnya disertai juga dengan kelainan dari sekresi insulin oleh tubuh.

“Diabetes melitus termasuk penyakit yang memang bisa diturunkan. Akan tetapi, tidak semua orang yang memiliki riwayat keluarga pasti terkena diabetes. Tetapi, memang orang tersebut memiliki faktor risiko yang tinggi untuk terkena diabetes melitus,” kata dr. Evi.

Dalam hal ini, risiko seseorang untuk terkena diabetes akan meningkat apabila mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sering makan junk food, makanan tinggi kalori, sering minum alkohol, malas bergerak, dan tidak pernah berolahraga.

dr. Evi menyampaikan, jika seseorang memiliki pola makan yang tidak sehat apalagi mempunyai faktor keturunan diabetes, sebaiknya ia segera memeriksakan diri dan mengecek kadar gula darahnya.

“Tanda untuk diabetes melitus itu dilihat dari adanya peningkatan nilai dari gula darah puasa. Di mana nilai gula darah puasanya itu lebih sama dengan 126 mg/dl, peningkatan gula darah sewaktu atau gula darah 2 jam setelah makan sebesar lebih sama dengan 200 mg/dl dan HbA1c yang lebih sama dengan dari 6,5 persen,” jelas dr. Evi.

Untuk kamu yang belum tahu, HbA1c adalah rata-rata kadar glukosa gula darah selama dua hingga tiga bulan terakhir. Jika seseorang menderita diabetes, kadar HbA1c yang ideal adalah 48mmol/mol (6,5 persen) atau lebih rendah.

Jika seseorang berisiko terkena diabetes tipe 2, target kadar HbA1c harus di bawah 42mmol/mol (6 persen).

Diabetes dapat Menyerang Semua Umur

Siapa bilang diabetes hanya dapat diderita oleh orang yang sudah lanjut usia. Faktanya, dr. Evi mengatakan bahwa penyakit ini bisa dialami siapa saja mulai dari usia muda.

“Untuk gejala diabetes baik yang usia muda maupun tua, tidak jauh berbeda. Yang hampir bisa dikatakan sama ada keluhan klasik dan juga nonklasik. Agar terhindar dari diabetes, kita harus upayakan untuk pola hidup yang sehat,” imbuhnya.

Pola hidup sehat yang dimaksud dr. Evi adalah menghindari makanan tinggi kadar gula, berlemak, dan tinggi garam. Ia menyarankan orang-orang untuk lebih banyak memakan makanan sehat.

Di sisi lain, pola makan sehat juga harus dibarengi dengan olahraga secara rutin, menghentikan kebiasaan merokok, tidak minum alkohol, menghindari begadang, bekerja terlalu berlebihan, termasuk menurunkan berat badan agar kembali ideal.

“Apabila seseorang memiliki faktor risiko tinggi untuk terkena diabetes disarankan rutin kontrol ke dokter untuk memeriksakan atau skrining dini kejadian diabetes pada dirinya. Disarankan untuk rutin melakukan skrining diabetes melitus paling tidak setahun sekali,” pungkas dr. Evi. Humas UNS

Reporter: Y.C.A. Sanjaya
Editor: Dwi Hastuti