FP UNS Selenggarakan ISFC Pertanian Modern dan Berkelanjutan

FP UNS Selenggarakan ISFC Pertanian Modern dan Berkelanjutan

UNS — Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan The 2nd International Smart Farming Competition (ISFC). Rangkaian kegiatan ISFC ini digelar mulai 1 Maret hingga Rabu (8/6/2022) kemarin secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting. ISFC merupakan kompetisi smart farming (pertanian presisi) tingkat internasional yang kedua kalinya telah diselenggarakan oleh FP UNS. Pada tahun 2021 acara serupa telah sukses diselenggarakan.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-46 UNS pada tahun 2022. Dalam pertanian presisi memanfaatkan sumber daya teknologi canggih seperti big data, machine learning, kecerdasan buatan, dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Ketua Panitia ISFC, Muhammad Zukhrufuz Zaman, Ph.D. mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk mengajak mahasiswa lokal maupun internasional untuk berbagi ide dan inovasi cemerlangnya.

“Dalam acara Smart Farming Competition ini, Fakultas Pertanian UNS mengajak mahasiswa lokal dan internasional untuk berbagi ide dan inovasi cemerlang tentang penerapan smart farming menuju pertanian yang lebih modern dan efisien, serta mengajak anak muda untuk terjun di dunia pertanian,” ungkapnya.

Acara final ISFC telah diselenggarakan pada Rabu (8/6/2022) yang dibuka oleh Wakil Dekan Akademik Riset dan Kemahasiswaan FP, Dr. Ir. Eka Handayanta M.P., IPU., ASEAN Eng. mewakili Dekan FP UNS, Prof. Dr. Ir. Samanhudi, S.P., M.Si., IPM., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tujuan kompetisi ini sejalan dengan salah satu misi FP UNS untuk memberikan pendidikan yang unggul, penelitian berkualitas tinggi, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang pertanian terpadu dan berkelanjutan.

FP UNS Selenggarakan ISFC Pertanian Modern dan Berkelanjutan

Selain itu, adanya ISFC ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran generasi muda, khususnya mahasiswa terhadap pengembangan dan inovasi pertanian di masa depan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Dalam kompetisi ini, panitia mengundang mahasiswa dalam negeri maupun luar negeri untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ISFC. Dewan juri yang terlibat yaitu Prof. Dr. Lilik Sutiarso dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia, Dr. Darius El Pebrian dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Shah Alam Malaysia, dan Komariah, Ph.D. dari UNS Indonesia. Pada ajang ini, peserta kegiatan berkompetisi menciptakan inovasi yang berfokus pada pengembangan pertanian presisi guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas di sektor pertanian dengan tetap menjaga ekosistem pertanian.

Setelah melalui proses penilaian, dewan juri memutuskan para pemenang lomba yaitu juara 1 diraih oleh Muhammad Dilan Linoval dan tim yang berasal dari Universitas Brawijaya (UB), juara 2 dimenangkan oleh Muhammad Fuadi Hakimi dan tim dari UNS, juara 3 diraih Perdana Mangayu Bagyo dan tim dari UNS, juara 4 diraih oleh Muhamad Ogas Saputra dan tim dari Universitas Lampung (Unila), dan juara 5 diraih oleh Nur Afan Syarifudin dan tim dari Universitas Negeri Semarang (Unnes).

FP UNS Selenggarakan ISFC Pertanian Modern dan Berkelanjutan

Muhammad Zukhrufuz Zaman, Ph.D. selaku Ketua Panitia dalam kegiatan ISFC mengucapkan selamat kepada para pemenang.

“Selamat kepada para pemenang. Semoga kemenangan ini dapat memacu untuk lebih inovatif, kreatif, dan produktif untuk pertanian lebih modern dan berkelanjutan,” kata Zukhrufuz Zaman, Ph.D. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti

Dosen UNS Ciptakan Helmet CPAP Berbasis IoT untuk Pasien Covid-19

Dosen UNS Ciptakan Helmet CPAP Berbasis IoT untuk Pasien Covid-19

UNS — Dosen Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang juga merupakan peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Ubaidillah S.T., M. Sc, Ph. D. bersama tim menciptakan Helmet Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) berbasis Internet of Things (IoT) untuk pasien Covid-19. Inovasi dari Helmet CPAP Berbasis IoT ini yaitu dapat memantau kadar oksigen pada antarmuka helmet CPAP dan saturasi oksigen yang terintegrasi dengan IoT.

Di sela-sela acara Monitoring dan Evaluasi yang dilakukan oleh LPPM UNS pada Kamis (21/10/2021), Ubaidillah mengatakan, tingginya angka penderita Covid-19 di Indonesia sempat membuat keadaan menjadi kacau karena banyaknya pasien sesak napas hingga akhirnya berebut alat bantu pernapasan. Hal ini menggerakkan Ubaidillah dan tim untuk memberikan kontribusi nyata dengan menciptakan inovasi alat bantu pernapasan non invasif.

“Hal itu membuat kami memutar otak hingga timbullah inovasi alat bantu pernapasan non-invasif ini. Selain itu, kami juga melihat adanya peluang karena masih minimnya penggunaan alat bantu pernapasan non invasif berupa helmet CPAP, padahal helmet CPAP ini terbukti mampu mengurangi aerosolisasi virus secara signifikan, hal ini tentu akan berguna untuk pengurangan transmisi Covid-19,” terang Ubaidillah.

Dibantu oleh Rizqi Husain Alfathan, Bioma Cakrawala, Muhammad Dzaky Musyaffa, Rani Dwilarasati dan Azzahra Fadhlila Aulia Nisa, Ubaidillah menambahkan fasilitas sensor oksigen dan sensor saturasi oksigen (SpO2) pada helmet CPAP. Helmet CPAP ini berbasis IoT sehingga hasil dari pengukuran sensor langsung dapat dilihat melalui smartphone. Alat ini dapat digunakan berulang dengan penggantian tabung dan perekat leher. Ubaidillah dan tim berharap dengan terbentuknya alat ini nantinya dapat membantu para tenaga kesehatan dan lembaga penyedia alat kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid – 19.

Desain 3D dan Inovasi
Keunggulan dari desain 3D helmet CPAP antara lain didesain untuk memudahkan proses perakitan dan pembongkaran material yang digunakan kompatibel terhadap tubuh pasien.
Dapat digunakan berkali-kali dengan mensterilkan komponen helmet CPAP kecuali pada tabung dan perekat leher pasien yang harus diganti pada saat akan digunakan kembali.

“Inovasi dari Helmet CPAP Berbasis IoT ini yaitu dapat memantau kadar oksigen pada antarmuka helmet CPAP dan saturasi oksigen yang terintegrasi dengan IoT. Cara kerja dari Helmet CPAP Berbasis IoT yaitu Prototipe ini dilengkapi dengan komponen elektronik yang meliputi sensor oksigen Envitec OOM202, sensor oximeter max30102 modul bluetooth HC-05 serta arduino mega pro 2560 yang terintegrasi dengan sistem IoT,” imbuh Ubaidillah.

Kemudian untuk cara kerja sistem ini yaitu sensor oksigen akan mendeteksi kadar oksigen yang berada dalam helmet CPAP. Sedangkan sensor oximeter mendeteksi saturasi oksigen saat jari pasien didekatkan sinar infra merah pada sensor. Data hasil pembacaan sensor akan diproses oleh arduino yang selanjutnya akan dikirim menuju smartphone menggunakan mode bluetooth dengan modul bluetooth HC-05. Data hasil yang telah dikirim ke smartphone akan dipantau pengguna.

Ubaidillah menambahkan untuk fitur aplikasi helmet CPAP yang pertama yaitu
aplikasi ini dapat digunakan oleh siapapun.
Lalu fitur aplikasi yang kedua yaitu sudah berbasis IOT yang artinya helmet CPAP dapat diakses menggunakan smartphone sehingga akan memudahkan kita dalam proses pengecekan.
Dan fitur aplikasi yang terakhir yaitu pengguna dapat memantau kadar oksigen dari pasien secara real time. Humas UNS

Reporter: Dwi Hastuti

Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Uji Hand Sanitizer Berbasis IoT

Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Uji Hand Sanitizer Berbasis IoT

UNS — Covid-19 yang mewabah di Indonesia mengubah pola hidup masyarakat. Sejak virus berjenis Sars Cov-2 itu muncul di Indonesia pada Maret 2020, masyarakat harus memakai masker dan membawa penyanitasi tangan (hand sanitizer) ke mana pun pergi. Penyanitasi tangan itu digunakan jika di tempat tujuan tidak ada tempat mencucui tangan dan sabun.

Kebutuhan akan penyanitasi tangan yang tinggi di masa pandemi membuat sejumlah pihak ikut memproduksi produk tersebut dan memasarkannya. Namun, tidak sedikit produk penyanitasi tangan yang tidak sesuai dengan standar. Beberapa produk penyanitasi tangan di pasaran memiliki kandungan alkohol dan derajat pH yang jauh dari standar. Prihatin akan hal itu, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berinisiatif untuk membuat alat penguji kadar alkohol dan pH penyanitasi tangan berbasis Internet of Think (IoT) yang diberi nama Handsiot.

“Salah satu cara untuk membersihkan tangan yaitu menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol dan derajat pH yang optimal. Namun, masih banyak hand sanitizer yang beredar di pasaran memiliki kandungan alkohol dan derajat pH yang jauh dari standar yang telah ditetapkan,” ujar Geovani Rahmad Illahi, mahasiswa S1 Teknik Elektro, sebagai ketua tim.

Selain Geovani, tim tersebut beranggotakan Hayyan Yusuf (S1 Teknik Elektro), Diah Anggi Munika (S1 Teknik Kimia), Yuki Martha Anggraini (S1 Teknik Kimia), Hibatul Wafi Ah Fahrudin (S1 Kedokteran). Tim yang berjumlah lima orang itu membuat alat detektor kadar alkohol dan pH penyanitasi tangan yang dapat dioperasikan melalui ponsel pintar (smartphone). Tidak hanya praktis karena dapat dioperasikan menggunakan ponsel pintar, alat ini juga ringkas dan berukuran kecil sehingga mudah dibawa ke mana-mana.

“Keunggulan Handsiot yaitu mampu menampilkan data secara cepat dan akurat dengan sistem IoT yang dapat terhubung ke ponsel pintar. Selain itu, alat ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar sehingga lebih mudah dibawa dan praktis,” imbuh Geovani.

Alat ini dirancang dengan memanfaatkan metode kromatografi dalam mengukur kadar alkohol. Kromatografi merupakan salah satu teknik pemisahan senyawa yang berada dalam larutan berdasarkan perbedaan distribusi pergerakan yang terjadi di antara fase gerak dan fase diam. Sementara itu, tim ini menggunakan metode elektrolisis dalam mengukur derajat pH pada cairan penyanitasi tangan dengan memanfaatkan aliran elektron yang mengalir pada senyawa.

Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Uji Hand Sanitizer Berbasis IoT

Tim yang dibimbing oleh dosen Teknik Elektro UNS, Feri Adriyanto, Ph.D., itu berharap penggabungan dua metode tersebut ditambah dengan penerapan IoT mampu memudahkan masyarakat dalam menentukan penyanitasi tangan dengan kadar alkohol dan derajat pH yang optimal. Karya inovatif ini diusulkan pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berhasil lolos serta mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenristek) Republik Indonesia sebesar Rp 9,8 juta. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti

UNS Students Won Startup TOP Generation Challenge

UNS – Three students of Engineering Faculty (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ratih Rachmatika, Sifa’us Wulaning Arsri and Muhammad Imam succeeded in creating SIAB, a clean air alert application which won 1st place at TOP Generation Challenge startup competition

Students of Engineering Faculty (FT) created SIAB

They are encouraged to create this application after knowing that frequent floods struck Bengawan Solo River. It causes the water turbid. Furthermore the water quality checking is also still done manually. According to Ratih, SIAB is application based on the Internet of Things (IoT) used to examine water quality and water distribution in real time.

SIAB tools is a work from engineering students

Ratih also explained that the tool consists of two features namely SIAB monitoring and SIAB distribution. SIAB Monitoring consists of several waterproof sensors such as pH sensors, temperature sensors, and turbidity sensors. Its function is to observe water quality on line. While SIAB Distribution consists of sensor flow meter to know the discharge and volume of water to detect leakage of pipes and calculate the cost of daily water consumption. The data obtained is sent to the server using WIFI connectivity, thus the user can monitor it through the smart phone application.

Creating SIAB application made them won the first prize in the TOP Generation Challenge event in Jakarta, Thursday (14/12/2017). Ratih, Sifa, and Imam succeeded in setting aside 1300 proposals from all over Indonesia which were then selected into 5 finalists for the startup and pre-startup categories.

Ratih, Sifa, and Imam won first prize at TOP Generation Challenge 2017

Ratih explained that their product will be me developed before being disseminated to the wider community.

“In the future we will develop digital recycling, more compact product packaging, and distribute this tool to areas experiencing clean water crisis, as well as cooperate with industry sector and big data development with NB IoT (Narrow Bands- Internet of Things )”, said Ratih. Humas-red.uns/Sav/Isn