Guru Besar UNS: Apotek Komunitas Butuh Dukungan Pemerintah dalam Situasi Kedaruratan Kesehatan

Guru Besar UNS: Apotek Komunitas Butuh Dukungan Pemerintah dalam Situasi Kedaruratan Kesehatan

UNS — Penelitian terbaru di Indonesia mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia perlu memperkuat langkah untuk memastikan keamanan kerja, metode, dan keterlibatan personel apotek dalam upaya menanggapi pandemi di masa depan.

Peneliti dari Indonesia, Australia, dan Inggris melakukan wawancara terhadap apoteker dan tenaga teknis kefarmasian untuk menggali pengalaman, keamanan kerja, dan sikap mereka selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang mencatat lebih dari enam juta kasus dan 150.000 kematian akibat Covid-19. Hasil penelitian dipublikasikan pada Jumat (1/7/2022) di PLOS Global Public Health.

Pada banyak negara, apotek komunitas biasanya menjadi tujuan pertama sebagai penghubung antara pasien dan sistem kesehatan, terutama yang memiliki keterbatasan layanan kesehatan.

Hal tersebut dijelaskan oleh salah satu peneliti utama Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance (PINTAR), Prof. Ari Natalia Probandari yang  merupakan Guru Besar dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

“Studi ini menekankan betapa pentingnya apotek komunitas yang merupakan penyedia layanan kesehatan pertama. Artinya, ketika masyarakat mengalami gangguan kesehatan justru memiliki kebiasaan melakukan kontak pertama dengan datang ke apotek,” tutur Prof. Ari, Rabu (20/7/2022).

Ia juga menambahkan bahwa adanya pembatasan aktivitas di masa pandemi membuat peran apotek semakin menonjol. Oleh karena itu, dari studi ini, Prof. Ari mengatakan bahwa pentingnya dukungan dan peningkatan peran yang diberikan kepada apoteker. Misal, panduan-panduan untuk mereka bisa mengedukasi masyarakat secara luas, terutama dalam penggunaan antibiotik selama pandemi yang memang meningkat.

Guru Besar UNS: Apotek Komunitas Butuh Dukungan Pemerintah dalam Situasi Kedaruratan Kesehatan

Covid-19 telah menyadarkan masyarakat mengenai peran penting apotek komunitas di dalam sistem kesehatan, terutama karena banyak Puskesmas yang terpaksa tutup akibat tingginya jumlah tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19. Pada awal pandemi, pemerintah Indonesia mendesak apotek untuk tetap buka dan memastikan akses obat-obatan dan alat pelindung diri (APD) tercukupi, menyebarluaskan informasi tentang Covid-19, dan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang memadai.

Selain jumlah apotek komunitas yang banyak, gerai ritel obat swasta juga menjamur di Indonesia. Namun, penelitian ini hanya berfokus pada apotek yang memiliki izin.

Memberikan Saran Kesehatan dan Mengkampanyekan Penggunaan Antibiotik yang Tepat

Sebagian besar apoteker tertarik untuk menerima informasi terbaru secara berkala mengenai Covid-19. Hal ini menjadikan Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, dan Ikatan Apoteker Indonesia sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya. Sebaliknya, beberapa apoteker khawatir apabila menerima informasi yang disebarkan melalui media sosial karena bisa jadi salah atau tidak akurat.

“Temuan lain dari penelitian ini yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya permintaan antibiotik yang drastis meskipun antibiotik tidak direkomendasikan untuk penanganan Covid-19,” jelas dr. Marco Liverani dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, salah satu peneliti utama PINTAR.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antimikroba. Menurut salah satu peneliti utama PINTAR, yaitu Prof. Tri Wibawa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, diprediksi pada tahun 2050 jumlah orang yang terkena resistensi antibiotik akan sangat tinggi.

“Saat ini kematian akibat resistensi antimikroba sudah mencapai 700 ribu orang per tahun dan diprediksi di tahun 2050 bisa mencapai 10 juta orang per tahun di seluruh dunia. Hal itu menunjukkan resistensi mikroba terhadap antibiotik menjadi ancaman yang jelas di depan mata,” jelasnya.

Oleh karena itu, pemerintah harus menerapkan langkah-langkah atau aturan tambahan untuk memantau penggunaan antibiotik. Selain itu juga pemerintah harus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menggunakan antibiotik secara tepat selama pandemi serta dalam keadaan kedaruratan di masa depan.

Penelitian ini merupakan bagian dari Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance (PINTAR) yang bertujuan untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara rasional di masyarakat dan memerangi penyebaran resistensi antimikroba. Penelitian PINTAR dipimpin oleh Kirby Institute of Australia’s University of New South Wales (UNSW) yang bekerja sama dengan UGM, UNS, Kementerian Kesehatan RI, London School of Hygiene & Tropical Medicine and the University College London di Inggris, dan The George Institute for Global Health di UNSW Sydney.

Studi ini didukung oleh hibah dari Indo-Pacific Centre for Health Security (DFAT) di bawah Australian Government’s Health Security Initiative.  Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti

UNS Tambah Tiga Guru Besar Baru

UNS Tambah Tiga Guru Besar Baru

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambahkan tiga guru besar baru. Tiga guru besar tersebut yaitu Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Dr.  Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) UNS. Para guru besar ini akan dikukuhkan pada Selasa (19/7/2022) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram.

Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si merupakan guru besar ke-23 FMIPA dan ke-248 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Statistika Ekonomi dengan pidato pengukuhan berjudul “Statistika dan Peranannya Dalam Ekonomi”.

Dalam perspektif umum, sebagian besar menganggap statistika sebagai sekumpulan informasi dalam bentuk numerik sepanjang kurun waktu tertentu, seperti tingkat pengangguran bulan lalu, tingkat inflasi kuartal lalu, total pengeluaran pemerintah semester lalu, pertumbuhan output tahun lalu, dan sebagainya. Meskipun hal ini sah – sah saja, ada perspektif yang lebih baik untuk melihat statistika dalam konteks metodologi yaitu sekumpulan aktivitas untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan, meringkas, mengatur, menyajikan, menganalisis dan menafsirkan informasi – informasi numerik tersebut.

Umumnya, terdapat tiga tahapan dari analisis statistika dalam penelitian ekonomi yaitu pertama, penyesuaian data agar sesuai dengan kategori analitis. Ini terjadi karena data yang tersedia untuk penelitian ekonomi tidak selalu dapat dihasilkan dari laboratorium. Kedua, analisis kepada pengelompokkan pola temporal yang berbeda. Ketiga, pengukuran dari hubungan kausalitas yang dirumuskan secara teoretis yang biasanya diawali dengan asumsi dasar yang menyatakan bahwa ada hubungan invarian yang dirumuskan oleh teori ekonomi.

“Kesemua tahapan yang baru saja kami sampaikan akan saling bergantung, dan validitas hasilnya tergantung dari  pengetahuan yang dimiliki dan penerapan metode yang tidak selalu bersifat statis,” terang Prof. Sri Subanti di sela-sela acara Jumpa Pers pengukuhan Guru Besar di Ruang Sidang 2 Gedung dr. Prakosa UNS, Senin (18/7/2022).

Penerapan statistika dalam penelitian ekonomi, khususnya, telah memberikan perspektif kajian baru yang menarik untuk dikaji, sehingga keduanya perlahan berkembang dan menawarkan variasi minat studi. Dengan memanfaatkan ide dan teori bidang ekonomi, perkembangan studi yang melibatkan kedua disiplin ilmu ini diharapkan mampu menjawab tantangan dan fenomena ekonomi yang senantiasa dinamis dan diliputi ketidakpastian kedepannya.

Kemudian Prof. Dr. Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. Guru besar ke-46 FK dan ke-249 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dengan pidato pengukuhan berjudul “Pemanfaatan Bekicot, Kitosan dan Kulit Durian Sebagai Terobosan Baru Pencegahan Resistensi Tuberkulosis”.

Tuberkulosis (TB) sebagai global emergency merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Kasus TB di Indonesia masih cukup tinggi dan diperkirakan masih terdapat 845.000 kasus biasa dan 24.000 kasus TB resisten. Pada situasi pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dari 845.000 kasus hanya terdeteksi 349.000 dan 860 kasus TB resisten. Persentase estimasi kasus TB pada tahun 2018 dan 2019 ditemukan sebesar 60%, namun pada tahun 2020 hanya ditemukan 30% kasus TB. Data terbaru tanggal 21 Oktober 2021 dari Kemenkes RI menunjukkan kasus TB di Indonesia terdapat 301 kasus per 100 ribu penduduk sehingga menempatkan Indonesia di posisi ke-3 kasus TB terbanyak tingkat global. Kemenkes menargetkan capaian 65 kasus per 100 ribu penduduk dan penurunan angka kematian hingga 6 per 100 ribu penduduk pada tahun 2030 (p2p.kemkes.go.id).

World Health Organization (WHO) menyampaikan bahwa kasus TB meningkat lagi secara global di tengah pandemi Covid-19. WHO memperkirakan bahwa sekitar 4,1 juta penderita TB belum terdiagnosis atau belum dinyatakan secara resmi, terbukti adanya peningkatan tajam dari angka 2,9 juta pada tahun 2019. Adanya pandemi Covid-19 telah memperburuk situasi bagi penderita TB, selain karena dana kesehatan yang dialihkan untuk mengatasi Covid-19, dan sulitnya akses perawatan karena adanya lockdown. Akibatnya terdapat penurunan jumlah orang yang mencari pengobatan pencegahan TB sebesar 2,8 juta pada tahun 2020 atau turun sekitar 21% dibandingkan tahun 2019. Target dunia bebas dari epidemi TB pada tahun 2030 dapat direduksi hingga 80 persen, dikhawatirkan tidak akan tercapai akibat adanya pandemi Covid-19.

“TB dapat disembuhkan dengan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang tepat, namun, akhir-akhir ini banyak ditemukan galur MTB resisten terhadap dua atau lebih OAT yang dikenal sebagai galur MDR-TB (Kemenkes RI, 2018),” ujar Prof. Yusup.

Berdasarkan hasil Riset dasar yang telah dilakukan tentang potensi dan efektivitas sediaan galenik seromukoid bekicot, kitosan, ekstrak kulit durian sebagai kandidat potensial OAT yang berbasis bahan alam atau galenik merupakan suatu  terobosan baru melalui riset berbasis ipteks.  Oleh karena itu diperlukan penelitian berkelanjutan dan holistik terkait yaitu riset terapan tentang pengembangan prototipe menjadi produk krenova terstandarisasi dan tersertifikasi yang dapat diaplikasikan di mitra pengguna atau masyarakat, serta Riset pengembangan, hilirisasi dan komersialisasi sediaan galenik OAT untuk pencegahan TB sebagai produk krenova based of knowledge melalui kerja sama dengan bidang industri farmasi.

Meskipun topik riset yang telah, sedang maupun yang akan dilakukan merupakan suatu hal sebagai suatu mimpi atau harapan untuk dapat terwujud bahwa sediaan galenik mampu menggantikan sepenuhnya sebagai OAT, namun suatu kebahagiaan bagi saya untuk dapat memberikan pemikirian sebagai bagian atau puzzle kecil yang dapat melengkapi gambaran tentang suatu terobosan baru pemanfaatan potensi sediaan galenik sebagai pendukung OAT dalam upaya pencegahan MDR-TB di Indonesia. Saya optimis dan yakin dengan dukungan semua pihak semoga hasil penelitian terkait pencegahan MDR TB dari hulu ke hilir dapat terwujud. Semoga uraian dalam pidato ini bermanfaat bagi semua pihak khususnya bidang pulmonologi dan kontribusi kekayaan intelektual di Indonesia dan khususnya bagi sivitas akademika UNS,” ujar Prof. Yusup.

Guru Besar ketiga, Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. merupakan guru besar ke-20 FT dan ke-250 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Mesin dengan pidato pengukuhan berjudul “Rekayasa Manufaktur Semikonduktor Sel Surya sebagai Material Energi Bersih Masa Depan”.

Prof. Zainal mengatakan, kebutuhan energi akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan Seiring perkembangan IPTEK dan pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan energi dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan sumber energi baru terbarukan, secara berkelanjutan. Hal ini juga selaras dengan bauran energi Indonesia, yang menargetkan adanya peningkatan penggunaan energi terbarukan sebesar 31% pada tahun 2050. Indonesia mempunyai potensi energi surya sebesar 207,8 GWp yang dapat dikonversi menjadi energi listrik menggunakan sel surya melalui proses photovoltaic.

Pengembangan sel surya generasi ketiga yaitu dye-sensitized solar cells (DSSC) mempunyai tantangan dalam mobilitas elektron. Mobilitas elektron dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antara semikonduktor dengan sensitizer dalam melakukan injeksi elektron. Mobilitas elektron yang tinggi akan meningkatkan arus listrik yang dibangkitkan oleh DSSC.

“Tantangan ini memotivasi saya, sehingga sejak kurang lebih sepuluh tahun terakhir, saya bersama tim di Laboratorium Energi Surya Fakultas Teknik UNS melakukan penelitian untuk meningkatkan efisiensi dari sel surya DSSC secara bertahap. Penelitian dilakukan dengan cara rekayasa manufaktur. Fokus penelitian saya adalah Rekayasa manufaktur pada bentuk dan struktural semikonduktor untuk meningkatkan mobilitas elektron”, terang Prof. Zainal.

Rekayasa manufaktur ini dilakukan dengan menggunakan mesin electrospinning. Mesin electrospinning yang di rancang bersama di Grup Riset Konversi Energi Terapan dan Nano Teknologi, dilakukan melalui pendanaan hibah penelitian, baik yang bersumber dari dana UNS maupun Kemendikbudristek.

Ada tiga opsi yang telah berhasil dilakukan yaitu opsi pertama adalah dengan mengubah morfologi semikonduktor menjadi nanofiber menggunakan mesin electrospinning melalui proses direct deposition. Opsi kedua adalah dengan membuat lapisan semikonduktor dua lapis, yaitu lapisan pertama yang berfungsi sebagai dye loading (DL) dan lapisan kedua sebagai light scattering (LS). Lapisan dye loading menggunakan semikonduktor nanopartikel, sedangkan lapisan light scattering menggunakan semikonduktor nanofiber. Opsi ketiga yang dilakukan yaitu merekayasa mesin electrospinning dengan double pump sehingga menghasilkan semikonduktor yang berlubang. Selain itu, juga ditemukan bahwa, dengan penambahan doping Fe, Mg dan Zn dapat memperbesar lubang semikonduktor hollow nanofiber. Ketiga opsi hasil temuan tersebut, telah terbit pada artikel jurnal ilmiah Internasional bereputasi dan juga telah dipatenkan. Temuan-temuan tersebut dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan pasokan material energi bersih masa depan. HUMAS UNS

Reporter: Dwi Hastuti

FK UNS Lepas 23 Wisudawan Dokter Spesialis Periode April 2022

FK UNS Lepas 23 Wisudawan Dokter Spesialis Periode April 2022

UNS — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melepas 23 lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) pada periode April 2022, Jumat (22/4/2022). Acara diselenggarakan secara hybrid yang bertempat di Auditorium FK UNS serta disiarkan melalui kanal Youtube FK UNS.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UNS, Prof. Dr. Ir. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T., Dekan FK UNS, Prof. Dr. dr. Reviono, Sp. P(K), para wakil dekan, Direktur RSUD Moewardi Surakarta, Dr. dr. Cahyono Hadi, Sp.OG(K)., S.H., Direktur Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Direktur RS UNS, serta perwakilan dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FK UNS.

Acara pelepasan yang diikuti 23 peserta didik PPDS FK UNS berasal dari 7 Program Studi (Prodi). Empat diantaranya merupakan penerima Beasiswa Tugas Belajar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI). FK UNS pun telah meluluskan sebanyak 299 lulusan penerima beasiswa tersebut.

FK UNS Lepas 23 Wisudawan Dokter Spesialis Periode April 2022

Dalam laporan yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Paramasari Dirgahayu, Ph.D., selaku Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FK UNS, 23 orang peserta pelepasan terdiri dari 1 orang wisudawan dari Program Studi (Prodi) Anestesiologi dan Terapi Intensif, 4 orang wisudawan dari Prodi Ilmu Bedah, 4 orang wisudawan dari Prodi Ilmu Kesehatan Anak, 1 orang wisudawan dari Prodi Dermatologi dan Venereologi, 1 orang wisudawan dari Prodi Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala, dan Leher, 2 orang wisudawan dari Prodi Ilmu Penyakit Dalam, dan 10 orang wisudawan dari Prodi Psikiatri.

Septiana Hestiningrum, Sp.PD., menjadi lulusan dengan IPK tertinggi pada pelepasan kali ini. Ia merupakan lulusan Program Studi (Prodi) Ilmu Penyakit dalam yang memperoleh IPK 3.88. Adapula Frieda, dr., Sp.D.V., yang menjadi lulusan dokter spesialis termuda. Ia merupakan lulusan Prodi Dermatologi dan Venereologi dengan usia pada saat lulus 30 tahun 9 bulan. Selain itu, Prodi Psikiatri menjadi prodi dengan rata-rata lama studi tercepat, yaitu 3 tahun 7 bulan. Hingga saat ini, FK UNS telah melepaskan sebanyak 1.502 orang dokter spesialis sejak awal berdirinya.

Prof. Kuncoro, dalam sambutannya, menyoroti ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran yang mampu berkembang dengan sangat cepat. Ini menunjukkan bahwa profesi dokter dan inovasi pengobatannya semakin menjadi bagian penting dalam mewujudkan kualitas layanan kesehatan yang paripurna kepada masyarakat. Mengingat kondisi tersebut, Prof. Kuncoro mengimbau kepada para dokter spesialis baru FK UNS untuk tidak berhenti belajar dan meningkatkan kualitas keilmuannya.

FK UNS Lepas 23 Wisudawan Dokter Spesialis Periode April 2022

“Saya percaya di pundak sejawat para dokter spesialis yang hari ini dikukuhkan ada beban tanggung jawab yang tidak ringan dalam merealisasikan sumpah dokternya. Tetapi saudaraku tidak perlu khawatir. Dengan kemampuan penguasaan ilmu kedokteran dan keterampilan medis yang telah saudara miliki dan kuasai, saya yakin saudara mampu meraih sukses dan menjaga marwah profesi kedokteran,” tutur Prof. Kuncoro.

FK UNS Lepas 23 Wisudawan Dokter Spesialis Periode April 2022

Selain itu, Prof. Reviono turut menyampaikan selamat kepada para dokter spesialis baru FK UNS dalam acara ini. Ia juga menegaskan bahwa PPDS FK UNS berfokus pada penyiapan kompetensi terbaik yang harus dicapai para dokter spesialis nantinya. Prof. Reviono juga menitipkan tiga pesan kepada para dokter spesialis, yaitu menjaga integritas, profesionalitas, dan jejaring yang baik. Humas UNS

Reporter: Rangga Pangestu Adji
Editor: Dwi Hastuti

Kolaborasi FK UNS dengan Berbagai Universitas: Apotek Komunitas Berperan Penting dalam Tanggap Pandemi

Kolaborasi FK UNS dengan Berbagai Universitas: Apotek Komunitas Berperan Penting dalam Tanggap Pandemi

UNS — Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama beberapa universitas ternama di Indonesia dan dunia terlibat penelitian (Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance (PINTAR). Penelitian PINTAR dipimpin oleh Kirby Institute dari University of New South Wales (UNSW) Australia yang bekerja sama dengan UNS, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, London School of Hygiene & Tropical Medicine, University College London di Inggris, dan George Institute for Global Health di UNSW Sydney.

Apotek komunitas dan toko obat swasta dapat mengurangi beban fasilitas kesehatan di masa pandemi melalui pemberian saran serta obat yang akurat dan tepat kepada pasien. Oleh karena itu, pemerintah perlu meningkatkan keterlibatan apotek komunitas dalam upaya tanggap wabah atau pandemi dengan pedoman yang tepat dan sarana seperti Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.

Penelitian hasil kerja sama Australia, Indonesia, dan Inggris menganalisis pengetahuan dan praktik dari 4.716 apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) di 34 provinsi di Indonesia dengan sepertiga responden tinggal di Pulau Jawa. Hasil survei daring yang dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2020 tersebut dipublikasikan di jurnal The Lancet Regional Health – Western Pacific.

Salah satu tim peneliti, dr. Yusuf Ari Mashuri dari FK UNS menilai bahwa ketika apoteker dan TTK memiliki akses pada pedoman dan informasi yang tepat, banyak dari mereka berkeinginan untuk aktif dalam upaya penanggulangan wabah.

“Misalnya dengan memberikan saran pada pelanggan, membagikan leaflet, dan ikut serta dalam kegiatan surveilans. Saran dari para pakar kesehatan sangat penting untuk menanggulangi adanya kesalahan informasi Covid-19 yang tersebar di media social,” kata dr. Yusuf Ari Mashuri.

Penelitian ini mengungkapkan kerentanan proses distribusi alat kesehatan untuk pencegahan infeksi, seperti hand sanitizer, dan APD. Hal ini adalah tantangan yang dihadapi banyak negara berkembang di awal masa pandemi.

Apotek Komunitas dan Toko Obat sebagai Tujuan Pertama bagi Masyarakat untuk Memperoleh Pengobatan

Apotek komunitas dan toko obat memainkan peran penting dalam melayani masyarakat karena sering menjadi tempat pertama yang dituju untuk mencari pengobatan, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Penelitian mengenai perilaku dan pengalaman para tenaga kerja kesehatan di sektor publik selama pandemi Covid-19 telah banyak dilakukan. Namun, masih sedikit yang berfokus pada apoteker dan TTK yang bekerja di apotek komunitas dan toko obat.

Prof. Tri Wibawa dari UGM mengatakan bahwa dalam penelitian mereka menunjukkan betapa pentingnya apotek komunitas dan toko obat di garda depan layanan kesehatan dan tantangan yang dihadapi selama pandemi di Indonesia.

“Hasil penelitian kami berkontribusi penting bagi komunitas ilmiah. Survei kami merupakan salah satu survei terbesar pada apoteker dan TTK yang bekerja di apotek komunitas dan toko obat di Asia Tenggara selama pandemi Covid-19,” jelas Prof.Tri Wibawa yang memimpin survei ini

Saat ini, apoteker dan TTK dituntut untuk berperan lebih aktif dalam surveilans wabah, edukasi kesehatan, penelitian obat, pemberian vaksin, tes diagnostik, dan program dukungan kepatuhan pengobatan. Peran tersebut menjadi penting terutama ketika pelayanan kesehatan klinis yang kewalahan, khususnya di negara dengan sumber daya kesehatan yang terbatas.

Apotek Komunitas dan Toko Obat dalam Usaha Mencegah Resistensi Antibiotik

Hasil survei menunjukkan banyak penderita Covid-19 mendatangi apotek komunitas dan toko obat untuk memperoleh antibiotik. Hal ini dapat meningkatkan ancaman resistensi antimikroba karena antibiotik bukanlah obat yang efektif untuk virus. Kurang lebih sepertiga responden menyebutkan bahwa mereka telah memberikan antibiotik kepada pasien yang diduga menderita Covid-19. TTK lebih sering melaporkan penjualan obat resep dokter termasuk antibiotik dibandingkan apoteker. Mereka memiliki wewenang dan terlatih dalam memberikan resep obat untuk melaporkan penjualan obat dengan resep dokter termasuk antibiotik.

Saat ini terdapat sekitar 135.000 apotek komunitas dan toko obat berizin di Indonesia. Meskipun regulasi di Indonesia melarang penjualan antibiotik secara bebas, tetapi pemberian antibiotik tanpa resep merupakan hal yang umum terjadi. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan penggunaan antibiotik yang tidak tepat oleh masyarakat selama pandemi Covid-19.

Prof. Virginia Wiseman dari Kirby Institute di University of New South Wales (UNSW) Sydney dan London School of Hygiene and Tropical Medicine yang juga memimpin survei, mengatakan bahwa peningkatan resistensi antimikroba yang berkelanjutan menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.

“Oleh karena itu, perlu adanya respons yang melibatkan seluruh sistem kesehatan. Apotek komunitas dan toko obat di beberapa negara, terutama Indonesia merupakan bagian penting dari sistem kesehatan sehingga perlu diintegrasikan dengan baik ke dalam penanganan pandemi secara nasional. Saat ini adalah waktu yang ideal bagi negara seperti Indonesia untuk mulai melakukan integrasi dari hal tersebut,” tutur Prof. Virginia.

Survei Covid-19 ini merupakan bagian dari PINTAR yang bertujuan untuk meningkatkan pemberian antibiotik secara bijak di masyarakat dan mencegah perluasan resistensi antimikroba. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti

FK UNS Luluskan 37 Dokter Spesialis pada Pelepasan PPDS Periode Februari 2022

FK UNS Luluskan 37 Dokter Spesialis pada Pelepasan PPDS Periode Februari 2022

UNSFakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surkarta kembali melepas lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) periode Februari 2022, Kamis (24/2/2022). Kegiatan diselenggarakan secara hybrid yang bertempat di Gedung Auditorium FK UNS dan Zoom Cloud Meeting.

Turut hadir secara langsung Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S., Dekan FK UNS Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), para wakil dekan, Direktur RSUD Dr. Moewardi, Dr. dr. Cahyono Hadi, Sp.OG, dan Ketua IKA FK UNS.

Kegiatan pelepasan kali ini diikuti 37 peserta didik PPDS FK UNS yang berasal dari 9 Program Studi (Prodi). Hingga saat ini, FK UNS telah meluluskan sebanyak 1.479 orang dokter spesialis sejak awal berdirinya.

Berdasarkan laporan Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FK UNS, dr. Paramasari Dirgahayu, Ph.D, 37 orang peserta pelepasan terdiri 3 orang peserta didik Prodi Ilmu Bedah; 1 orang peserta didik Prodi Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala, dan Leher; 10 orang peserta didik Prodi Ilmu Penyakit Dalam; 2 orang peserta didik Prodi Jantung dan Pembuluh Darah; 2 orang peserta didik Prodi Neurologi; 3 orang peserta didik Prodi Obstetri dan Ginekologi; 6 orang peserta didik Prodi Orthopedi dan Traumatologi; 6 orang peserta didik Prodi Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi; serta 4 orang peserta didik Prodi Radiologi.

Sebanyak 3 orang peserta didik yang mengikuti pelepasan merupakan penerima Beasiswa Tugas Belajar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Hingga saat ini, total terdapat 298 lulusan PPDS UNS yang menjadi penerima beasiswa tersebut.

FK UNS Luluskan 37 Dokter Spesialis pada Pelepasan PPDS Periode Februari 2022

Kegiatan pelepasan PPDS FK UNS di periode ini juga mencetak 2 lulusan terbaik. Mereka adalah Dedy Tri Wijaya, dr., Sp.PD. dan Wisnu Yudho Hutomo, dr., Sp.PD. yang sama-sama memperoleh IPK 3.89. Keduanya merupakan lulusan dari Prodi Ilmu Penyakit Dalam.

Lulusan termuda pada pelepasan PPDS FK UNS dicatatkan oleh Nur Ismi Mustika Febriani, dr., Sp.PD., dengan usia pada saat lulus 30 tahun 2 bulan. Ia merupakan lulusan Prodi Ilmu Penyakit Dalam.

Pada acara ini, para lulusan PPDS FK UNS dilepas secara langsung oleh Prof. Ahmad Yunus.

Andika Dwi Cahya, dr., Sp.P., mewakili para lulusan, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas segala bimbingan dan pengajaran yang diberikan kampus selama proses menimba ilmu. Momentum wisuda dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk merefleksikan makna kelulusan. Ia mengingatkan kepada rekan lulusan agar siap dengan amanah baru yang menanti.

“Semoga di masa yang akan datang, PPDS FK UNS semakin berkembang dan unggul dalam mencetak dokter spesialis yang andal, profesional, berakhlak mulia, serta mampu mengabdi dan membantu masyarakat luas sesuai keahlian dan keterampilan yang dimiliki,” Tutur Andika.

Dekan FK UNS, Prof. Reviono dalam sambutannya menyampaikan bahwa kelulusan ini menjadi salah satu tahapan dalam berkarir. Ia mengingatkan masih ada tahapan selanjutnya. Apapun itu pekerjaan dan tahapan karir yang bisa menjadi pilihan, para lulusan perlu untuk tanggung jawab yang menyertainya.

“Kelulusan ini belum tentu sebagai akhir. Anda akan terus mengabdi untuk negara, bangsa, dan untuk kemanusiaan,” tutur Prof. Reviono.

Prof. Ahmad Yunus yang menjadi pemberi sambutan terakhir turut berpesan agar para lulusan PPDS FK UNS memiliki peranan besar dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi yang semakin maju harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan para dokter spesialis. Sinergi dan kolaborasi riset menjadi bagian penting yang harus terus-menerus dilakukan.

FK UNS Luluskan 37 Dokter Spesialis pada Pelepasan PPDS Periode Februari 2022

“Kepada 37 dokter spesialis baru, saya berpesan agar tetap menjaga muruah kemuliaan profesi dokter dan menjaga nama baik almamater FK UNS,” pesan Prof. Ahmad Yunus. Humas UNS

Reporter: Rangga P.A.
Editor: Dwi Hastuti