Wabah PMK Merebak, PLP Peternakan UNS Sampaikan Imbauan untuk Panitia Kurban

Wabah PMK Merebak, PLP Peternakan UNS Sampaikan Imbauan untuk Panitia Kurban

UNS — Ribuan hewan ternak di Indonesia saat ini sedang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hal tersebut membuat masyarakat khawatir mengingat Iduladha sudah dekat sehingga masyarakat perlu bersiap untuk mencari hewan kurban.

Beberapa tips dapat dilakukan untuk mencari hewan kurban seperti mengecek gejala PMK. Gejala-gejala tersebut yakni hewan mengeluarkan air liur yang banyak, terdapat bercak merah di mulut hewan, dan terdapat luka di kuku hewan. Hewan-hewan yang mengalami gejala tersebut sebaiknya dihindari.

Selain lebih selektif dalam membeli hewan kurban, panitia kurban juga perlu mempersiapkan beberapa hal dalam menghadapi kurban di tengah wabah PMK. Sulistyo, S.T., M.Si., Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Program Studi (Prodi) Peternakan, Fakultas Pertanian (FP), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyampaikan beberapa imbauan untuk panitia kurban.

Pertama, panitia kurban hendaknya menyiapkan dandang-dandang besar saat penyembelihan. Hal ini akan memudahkan panitia jika ternyata hewan kurban yang disembelih ternyata mengidap PMK.

Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), hewan ternak yang terkena PMK dalam taraf sedang masih sah untuk dikurbankan. Namun, pembagian hewan kurban yang terkena PMK ringan tersebut memiliki cara khusus. Sesuai dengan edaran Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), bagian-bagian hewan ternak yang terkena PMK ringan harus direbus hingga matang terlebih dahulu sebelum dibagikan. Bagian-bagian tersebut yakni kepala, kaki, dan jeroan.

“Untuk kurban di tengah pandemi PMK ini sebaiknya panitia menyiapkan dandang-dandang untuk perebusan. Jadi jika ternyata hewan kurban terkena PMK ringan sesuai fatwa MUI memang sah tetapi bagian-bagian yang terkena seperti kepala, kaki, jeroan itu direbus dulu sehingga aman dari virus PMK,” terang Sulis.

Kedua, panitia kurban diimbau untuk mempersiapkan lubang khusus untuk membersihkan jeroan hewan kurban. Lubang tersebut diperuntukkan khusus untuk menampung air yang telah digunakan untuk membersihkan jeroan. Jika jeroan sudah bersih dan air cucian sudah tertampung di lubang tersebut, panitia diminta untuk menambahkan asam sitrat atau deterjen sebelum menutup lubang. Hal ini dimaksudkan agar air cucian tersebut tidak mencemari lingkungan.

“Biasanya kita lihat ada panitia kurban yg membersihkan jeroan ramai-ramai ke sungai. Ini kan kita nggak tahu kalau ternyata ada hewan yang terpapar PMK jadi tidak baik membersihkan jeroan di sungai,” jelasnya.

Imbauan selanjutnya yakni panitia kurban hendaknya membedakan plastik daging, jeroan merah (hati), dan jeroan hijau (babat). Menurut Sulis yang juga tergabung dalam Juru Sembelih Halal (Juleha) pembedaan kantung plastik sudah seharusnya dilakukan meskipun tidak dalam wabah PMK.

Hal ini disebabkan jeroan merah dan jeroan hijau memiliki mikrobia yang sangat banyak. Sementara itu, mikrobia yang ada di daging sedikit. Jika jeroan dan daging digabung dalam satu plastik, mikrobia-mikrobia yang ada di jeroan berpindah dengan cepat ke daging. Beliau mengimbau setidaknya ada tiga kantung plastik dalam satu paket daging kurban.

“Walaupun tidak PMK pun disarankan dibedakan kantung plastiknya karena bagian jeroan itu banyak mengandung mikrobia sedangkan daging lebih sedikit mikrobianya. Nanti dikhawatirkan ada pencemaran pada daging karena jika terjadi, perkembangan mikrobia di daging akan cepat,” ujarnya.

Terakhir, beliau mengimbau agar personel panitia yang mengurus jeroan difokuskan untuk mengurus jeroan saja. Personel panitia yang mengurus jeroan tidak boleh berpindah mengurus daging atau bagian hewan lainnya. Hal ini dikhawatirkan akan terjadi penularan PMK.

“Personel panitia kurban sebaiknya dipisah-pisahkan begitu. Jadi personel yang mengurusi bagian jeroan cukup di situ terus, jadi jangan memegang di daging. Jeroan ya jeroan, tidak perlu pindah ke daging dan sebagainya. Itu sebaiknya dipisah-pisahkan jadi lebih aman dalam menghadapi kurban di tengah pandemi PMK,” tutupnya. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti

FMIPA UNS Resmi Meluncurkan Program FMIPA Mengaji

FMIPA UNS Resmi Meluncurkan Program FMIPA Mengaji

UNS — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan peluncuran program FMIPA Mengaji pada Rabu (27/4/2022). Acara peluncuran program ini mengangkat tema “Bagaimana Interaksi Kita dengan Alquran?” yang dilakukan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan diikuti oleh sivitas akademika FMIPA. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan program FMIPA Mengaji di kalangan sivitas akademika FMIPA UNS.

Acara dibuka dengan sambutan dari Harjana, Ph.D. selaku Dekan FMIPA UNS. Ia juga membuka secara resmi program FMIPA Mengaji.

“Dengan izin dari Allah subhanahu wa ta’ala, kegiatan FMIPA Mengaji kami nyatakan resmi dibuka. Semoga kegiatan ini mendatangkan keberkahan di FMIPA dan di UNS pada umumnya. Semoga Allah melimpahkan kekuatan kepada kita,” ujar Harjana dalam sambutannya.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. drs. Siswanto, M.Si. selaku Ketua Takmir Masjid FMIPA. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa setelah kegiatan peluncuran ini, akan dibentuk grup Whatsapp guna memudahkan komunikasi. Ia juga menjelaskan bahwa program FMIPA Mengaji merupakan kegiatan bulanan yang bertujuan untuk mengkhatamkan 30 juz Al-qur`an secara bersama-sama, sekaligus membetulkan bacaan Al-qur`an atau yang populer dengan istilah tahsin.

Setelah sambutan selesai, acara memasuki inti yakni penyampaian materi dari narasumber yang telah diundang yakni Dr. Saiful Bahri, Lc., M.A. Ia merupakan lulusan program doctor di Al Azhar University, Kairo, Mesir pada jurusan tafsir dan ilmu-ilmu Al-qur`an. Kini Dr. Saiful juga menjabat sebagai Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta, sekaligus Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Mengawali pemaparannya, Dr. Saiful menjelaskan mengenai kondisi manusia dengan Al-qur`an. Terdapat beberapa kondisi, seperti ada yang dimudahkan dalam membaca tapi sedikit sulit menghafal atau memahami makna ayat-ayat Al-qur`an. Ada pula yang terbata-bata atau terkendala membacanya, ada yang mudah menghafal dan ada yang mudah lupa. Selain itu, ada yang dimudahkan dalam mempelajari dan mentadaburinya, serta ada yang dimudahkan dalam mengajarkan dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan di dalamnya.

Lebih lanjut, Dr. Saiful mengajak hadirin untuk kembali sadar akan pentingnya Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-qur`an. Ia juga menjelaskan histori turunnya Al-qur`an. Pembawa wahyu Al-qur`an merupakan Malaikat Jibril. Kemudian diterima oleh Nabi Muhammad. Pada bulan Al-qur`an yakni bulan Ramadan adalah bulan terbaik menurut Dr. Saiful. Pada bulan ini terdapat waktu malam yang di dalamnya diturunkan Al-qur`an yang disebut malam Lailatul Qodr yang penuh dengan kebaikan.

FMIPA UNS Resmi Meluncurkan Program FMIPA Mengaji

“Pada malam Lailatul Qodr terdapat kebaikan dan kelebihan tanpa batas. Kualitas satu orang yang mendapatkan keutamaan Lailatul Qodr melebihi 1.000 komunitas,” jelasnya.

Selanjutnya, Dr. Saiful menjelaskan kiat-kiat meraih ketenangan dan kebahagiaan dengan Al-qur`an. Ia memaparkan bahwa kestabilan bacaan Al-qur`an membantu hadirnya kestabilan psikis, apalagi jika dibaca dengan bacaan tartil dan irama, serta suara yang merdu, maka akan berdampak pada ketenangan jiwa. Selanjutnya adalah dengan cara mentadaburi Al-qur`an dengan memvisualisasikan setiap redaksi yang disebut di Al-qur`an akan berdampak hadirnya suasana seakan-akan Al-qur`an diturunkan langsung pada saat itu.

Lebih lanjut cara meraih ketenangan dan kebahagiaan adalah dengan mengamalkan dan mengajarkan Al-qur`an, hal ini menjadi sarana terbaik untuk menjadi yang terbaik dalam prestasi sekaligus membentuk jiwa-jiwa yang kontributif yakni memberi, berbagi, dan melayani. Dr. Saiful menjelaskan makna kebahagiaan. Menurutnya, makna kebahagiaan mencakup empat hal yakni bahagia gembira, beruntung, tenang, dan kemenangan. Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti

PKM UNS Gelar Serangkaian Kegiatan untuk Meningkatkan Performa UMKM

PKM UNS Gelar Serangkaian Kegiatan untuk Meningkatkan Performa UMKM

UNS — Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang merupakan peer group Pusat Studi Halal Research Center and Services (HRCS) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret menggelar webinar nasional izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikasi halal. Kegiatan ini dalam rangka membantu para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperoleh sertifikat dari lembaga resmi.

Webinar tersebut diinisiasi sebagai wadah diskusi bagi para pelaku UMKM untuk memperoleh informasi terkait jenis-jenis produk yang harus memiliki izin BPOM, alur memperoleh sertifikat BPOM dan halal dari LPPOM MUI, serta sharing pengalaman antar pelaku UMKM.

Pihak UNS, diwakili oleh narasumber Dr. Ari Diana dan Dr. Ir. Choiroel Anam membagikan informasi tentang pendampingan untuk memperoleh sertifikat halal yang disediakan oleh HRCS LPPM UNS. Selain itu, juga pelayanan terhadap uji produk tertentu yang dapat dilakukan oleh UPT Laboratorium Terpadu UNS.

“Kemunculan nama-nama usaha baru juga semakin ramai menghiasi pasar online maupun offline. Kemampuan seperti membangun kepercayaan konsumen dan citra perusahaan agar semakin dikenal oleh masyarakat tentu perlu dilakukan oleh setiap pelaku usaha. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengusahakan perolehan sertifikat dari lembaga resmi seperti BPOM dan LPPOM MUI sebagai jaminan terhadap kualitas produk,” kata Dr. Muhammad Cahyadi, Ketua PKM dalam webinar yang berlangsung pada Sabtu (11/9/2021).

PKM UNS Gelar Serangkaian Kegiatan untuk Meningkatkan Performa UMKM

Sementara itu, Dr. Agr. Sc. Ernoiz Antriyandarti juga dihadirkan untuk membahas langkah-langkah mengelola modal, mengatur arus pemasukan dan pengeluaran, serta tips and trik memasuki bisnis di era digital. Selain kegiatan webinar, diadakan juga pendampingan secara intensif terhadap salah satu UMKM binaan UNS yang memproduksi frozen food (es gabus), yaitu es gabus 90’an.

Pendampingan tersebut berupa pendampingan untuk memperoleh sertifikat halal, pembuatan video profil usaha untuk membantu promosi, dan pelatihan desain kemasan produk yang dilakukan oleh Nidyah Widyamurti, S.Sn., M.Ikom.

Beberapa poin penting dalam pelatihan desain kemasan yaitu kesesuaian yang harus dimiliki desain kemasan dengan brand image perusahaan dan target pasar, serta rekomendasi model kemasan untuk produk.

“Kami berharap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dapat bermanfaat bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi secara praktik juga dapat diaplikasikan untuk mengembangkan dan memajukan usaha para pelaku UMKM,” imbuh Dr. Cahyadi. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti

FEB UNS Adakan Sosialisasi Jaminan Produk Halal

FEB UNS Adakan Sosialisasi Jaminan Produk Halal

Riset grup keuangan dan perbankan syariah FEB UNS adakan sosialisasi UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), Sabtu (17/09/2016). Bertempat di Ruang Sidang 1 FEB UNS, sosialisasi JPH merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Ketua Riset Grup Keuangan dan Perbankan Syariah FEB UNS, Falikhatun. Dalam sosialisasi JPH tersebut hadir pula Ahmad Izuddin dari LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika) MUI Jawa Tengah.

Riset grup keuangan dan perbankan syariah FEB UNS adakan sosialisasi UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), Sabtu (17/09/2016).

Riset grup keuangan dan perbankan syariah FEB UNS adakan sosialisasi UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), Sabtu (17/09/2016).

Sosialisasi yang dihadiri sekitar 50 pelaku usaha menjelaskan tentang pentingnya sertifikasi halal utamanya dalam produk makanan. Menurut Thomson Routers and Dinar Standard, makanan halal (halal food) menjadi faktor utama dalam kedatangan turis muslim di seluruh dunia. “Sebanyak 67% faktor utamanya adalah halal food. Disusul faktor lain yaitu price, muslim-friendly, hotel, relaxation, adventure, dan lain sebagainya,”terang Falikhatun yang juga merupakan dosen Program Studi Akuntansi FEB UNS.

Dalam sosialisasi JPH tersebut, Ahmad Izuddin menegaskan UU No. 33 tahun 2014 berbunyi bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Sertifikat halal berlaku selama 4 tahun sejak diterbitkan oleh BPJPH dan wajib diperpanjang oleh pelaku usaha dengan mengajukan pembaruan sertifikat halal paling lambat tiga bulan sebelum masa berlaku sertifikat halal selesai.

Dengan adanya sertifikat halal ini, setiap pelaku usaha wajib mencantumkan label halal dalam produknya. Pencantuman label halal harus mudah dilihat dan dibaca serta tidak mudah dihapus, dilepas, dan dirusak. Jika hal ini dilanggar, maka pemerintah akan menindak secara tegas pelaku usaha  sesuai dengan UU No. 33 tahun 2014. “Jika ada pelaku usaha yang melanggar, maka akan dikenai denda sejumlah 2 miliar rupiah dan kurungan selama lima tahun,”ungkap Ahmad Izuddin dalam kegiatan sosialisasi JPH.

Selain kegiatan sosialisasi JPH, dalam kegiatan tersebut riset grup keuangan dan perbankan syariah FEB UNS juga memfasilitasi pengurusan sertifikasi halal kepada para peserta. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga akan dilakukan follow up pembuatan website bersama untuk dapat memasarkan produk masing-masing. [](afifah.red.uns.ac.id)