Virtual Prejob Training, Psikolog CDC: Kalian Harus Aktif Hunting

Virtual Prejob Training, Psikolog CDC: Kalian Harus Aktif Hunting

UNS –– Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai perguruan tinggi merupakan salah satu instansi pencetak calon-calon ilmuwan sekaligus pekerja di Indonesia. Selain membekali para mahasiswa dengan ilmu dan kompetensi yang mumpuni, UNS juga membekali calon lulusannya dengan pengetahuan tentang dunia kerja. Untuk mewadahi hal tersebut, UNS melalui Career Development Center (CDC) mengadakan Virtual Prejob Training.

Banyak hal yang dibahas dalam acara yang diselenggarakan pada Kamis (26/8/2021) tersebut. Acara itu memberikan gambaran bagaimana dunia kerja saat ini lengkap dengan persaingannya serta tips agar dapat meraih pekerjaan impian sesuai dari beberapa sudut pandang.

Untuk mendukung acara tersebut, CDC UNS menghadirkan dua pembicara yakni Fadjri Kirana A, S.Psi., M.A. (psikolog di CDC UNS) dan Retno Wulandari, S.H., M.Si. (General Manager The Sunan Hotel Solo). Narasumber Fadjri Kirana memaparkan kiat-kiat dari sudut pandang penyeleksi (HRD), sedangkan narasumber kedua memberikan tips dari sudut pandang pimpinan perusahaan.

Dalam kesempatan tersebut, Fadrji Kirana membeberkan tips untuk peserta agar lekas dapat diterima kerja. Beliau menyarankan para peserta untuk aktif mencari.

“Teman-teman harus aktif hunting informasi seputar lowongan yang ingin teman-teman masuki. Selain itu, membuat portofolio yang bagus tentang diri sendiri di media sosial itu juga penting,” ujarnya pada acara yang dilangsungkan melalui platform Zoom Cloud Meeting tersebut.

Selain itu, calon lulusan juga diminta untuk memperbaiki tampilan daftar riwayat hidup (curriculum vitae). Tampilan CV disarankan agar menarik dan informatif. Para pencari kerja juga dapat mengoptimalisasi media sosial untuk mencari informasi lowongan pekerjaan di situs perusahaan, job fair , atupun campus hiring .

Jika sudah mendapat informasi lowongan, hal yang perlu disiapkan adalah membuat linimasa pendaftaran. Bila sudah mendaftar, saatnya para lulusan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Persiapan diri itu dapat berupa mengembangkan kemampuan atau kompetensi diri dengan mengikuti kursus, pelatihan, atau webinar yang relevan dengan bidang studi. Sembari menunggu pengumuman hasil pendaftaran, para lulusan juga dapat menyiapkan diri jika sewaktu-waktu dipanggil untuk wawancara.

Ketika semua hal itu sudah dilakukan, tapi hasil baik tak kunjung datang, Fadjri Kirana menekankan untuk sabar. Dia mengatakan bahwa para pencari kerja harus menyiapkan stok sabar yang banyak.

“Ingatlah “The right man on the right place”. Tidak berarti kalau teman-teman tidak lolos berarti teman-teman tidak oke atau tidak layak. Mungkin ada beberapa kompetensi yang teman-teman harus kembangkan lagi. Jangan lelah belajar,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti

Childfree dari Kacamata Psikolog UNS

Childfree dari Kacamata Psikolog UNS

UNS — Dalam konten #Newsroom63B berjudul ‘Nikah Tapi Memilih Gak Punya Anak, Kok Bisa?’ yang ditayangkan kanal YouTube TirtoID pada 21 Mei 2021 lalu, disebutkan bahwa gaya hidup childfree atau memutuskan tidak memiliki anak mengalami tren peningkatan baik di Indonesia maupun luar negeri.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut antara lain masalah personal, finansial, latar belakang keluarga, kekhawatiran akan tumbuh kembang anak, isu atau permasalahan lingkungan, hingga alasan terkait emosional atau maternal ‘instinct’.

Keputusan ini memang sangat personal. Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan memunculkan beberapa dampak seperti adanya stigma negatif dari masyarakat bahkan keluarga sendiri. Stigma tersebut pun membuka kesempatan timbulnya tekanan sosial bagi pasangan dengan keputusan childfree.

Terkait hal ini, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Psikolog Sosial dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menuturkan bahwa salah satu pihak yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan childfree ialah keluarga besar.

Pernikahan pada prinsipnya, imbuh Dr. Tri, tidak hanya melibatkan dua individu saja, tetapi juga dua keluarga besar. Alhasil, keputusan untuk tidak memiliki anak sebaiknya disampaikan ke orang tua masing-masing..

“Sebab, orang tua dari pasangan suami istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapan untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya,” jelasnya, Kamis (1/7/2021).

Apabila keputusan tersebut tidak dapat diterima, tentu dapat menjadi tekanan sosial bagi pasangan. Namun, jika dapat diterima, maka pasangan akan lebih mudah menghadapi tekanan sosial dari masyarakat di luar keluarga.

Mengapa Bisa Memutuskan Childfree?

Ketika menemui fenomena childfree, keheranan barangkali akan menjadi respons yang dominan. Mengapa menikah jika kemudian tidak memiliki anak?

Hal ini ini tidak terlepas dari perspektif budaya kolektif kita. Kultur masyarakat menuntut atau mengharapkan seseorang yang telah memasuki usia dewasa untuk menikah dan setelah menikah akan ditanyakan tentang kehadiran anak.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Salah satu alasan yang menarik yakni berkaitan dengan isu atau permasalahan lingkungan. Populasi penduduk bumi yang semakin meningkat, tetapi tidak sejalan dengan ‘kesehatan’ bumi dan ketersediaan pangan. Hingga childfree akhirnya dipilih sebagai langkah yang dapat ditempuh.

Dr. Tri pun menyinggung perspektif teori perkembangan Erikson, yang menyatakan setiap orang akan memasuki tahap stagnan versus generativitas. Orang yang stagnan cenderung sulit menemukan cara berkontribusi pada kehidupan.

Sementara itu, generativitas akan mendorong seseorang peduli pada orang lain, kemudian selalu menciptakan dan mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, termasuk melalui pernikahan.

Akan tetapi, pada perkembangannya, generativitas ini tidak hanya membatasi pada domain pernikahan dan menjadi orang tua. Sehingga orang-orang yang memutuskan hidup lajang atau childfree biasanya akan mengekspresikan generativitasnya melalui berbagai bidang kehidupan.

“Seperti menjadi relawan, aktivitis lingkungan hidup, bekerja secara profesional, atau terlibat dalam kegiatan agama, sosial, maupun politik,” tambah Dosen Psikologi FK UNS ini.

Di sisi lain, Dr. Tri mengatakan, ketidakyakinan akan kemampuan dalam merawat dan mengasuh anak juga menjadi salah satu kekhawatiran yang sering kali dialami. Oleh karenanya, salah satu pembekalan yang penting diberikan di masa persiapan nikah adalah membangun parenting self-efficasy pada keduanya.

“Sehingga calon ayah atau ibu memiliki keyakinan diri terhadap kompetensinya dalam merawat dan memberikan pengasuhan pada anak yang secara positif. Hal ini akan berpengaruh pada perilaku pengasuhannya dan menunjang tumbuh kembang anak secara optimal,” katanya. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti