Pakar Hukum UNS Sampaikan Strategi Membangun Kesadaran Merek bagi Pelaku Usaha di Solo Raya

Pakar Hukum UNS Sampaikan Strategi Membangun Kesadaran Merek bagi Pelaku Usaha di Solo Raya

UNS — Pandemi Covid-19 ini tidak hanya menimbulkan kebiasaan baru tetapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran para pelaku usaha untuk bagaimana brand yang dimilikinya terjaga secara konsisten terhadap dampak jangka panjang yang ditimbulkan.

Dilansir dari YouTube Solopos Live pada Jumat (4/3/2022), Pakar Hukum Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Yudho Taruno Muryanto, S.H., M.Hum menyampaikan strategi yang dapat dilakukan oleh para pelaku usaha untuk membangun kesadaran akan merek.

Berbicara mengenai brand awareness, dari sisi akademisi ada norma dan regulasi yang berkaitan dengan merek. Sebenarnya fungsi merek adalah untuk tanda pengenal, menjelaskan produk atau jasa yang ditawarkan. Selain sebagai tanda pengenal, juga sebagai alat promosi dan jaminan mutu kualitas yang didapatkan ketika menggunakan produk dan jasa tersebut. “Merek digunakan dalam perdagangan barang dan jasa yang berfungsi sebagai tanda pengenal, alat promosi, dan jaminan mutu kualitas. Yang menjadi klimaks dalam sebuah brand yaitu ketika seseorang menggunakan produk barang atau jasa yang ditawarkan, maka apa yang akan mereka dapatkan,” jelas Dr. Yudho

Merek sendiri ada klaster merek yang terkenal dan merek yang biasa. Dalam literatur mengatakan merek biasa itu merek yang tidak memiliki reputasi tinggi, kurang memberi pancaran simbolis gaya hidup, baik dari sisi pemakai maupun teknologi. Sedangkan merek terkenal yaitu merek yang mempunyai reputasi tinggi, pancaran secara simbolik ada sentuhan keakraban, ada familiarnya dan mitos. Mitos di sini menimbulkan persepsi psikologis bahwa konsumen merasa memakai produk dan jasa tersebut.

Berdasarkan World Intellectual Property Organization (WIPO) ada beberapa kriteria mengenai merek terkenal, diantaranya tingkat pengetahuan atau pengakuan merek dalam berbagai sektor yang relevan di masyarakat dan durasi tingkat wilayah geografis dari pemakai merek tersebut. “Pelaku usaha harus menjangkau itu, istilahnya tingkat keberhasilan atau hak atas merek tersebut ada nilainya. Ketika berhasil menjangkau durasi tingkat wilayah geografis pemakai merek, kemudian melakukan promosi ke semua lapisan masyarakat inilah yang menyebabkan merek itu dikenal dan melekat di hati konsumen,” ujarnya.

Ketika seseorang menjadi salah satu konsumen produk, untuk mengetahui apakah mereka akan selalu puas, sebenarnya dapat dilakukan survei atau beberapa studi kelayakan. Ada beberapa brand di area dan segmen yang sama, sehingga menimbulkan adanya kompetisi. Peran brand agar tetap terkompetitif yaitu dengan memastikan durasi berapa lama merek itu membranding dari produknya sehingga produk tersebut dipakai dimana saja.

Disamping durasi geografis pemakaian merek, juga ada durasi geografis promosi merek. Promosinya itu sampai kemana saja, jangan sampai berharap suatu merek ingin dikenal, tetapi promosinya hanya wilayah lokal saja. Ini yang perlu dipertimbangkan, walaupun mungkin jangkauan geografisnya tidak sampai ke suatu tempat tapi promosi itu bisa sampai kemana-mana. Misalnya melalui radio atau TV sebagai edukasi masyarakat bahwa ada produk yang sedemikian.

Pada beberapa waktu terakhir, Solo dikatakan menjadi salah satu episentrum baru ekonomi nasional karena banyaknya merek nasional dan internasional yang masuk mengingat wilayahnya yang strategis. Sebagai pelaku usaha itu adalah peluang yang dapat dimanfaatkan dalam konteks bisnis dan perdagangan.

Kemampuan untuk membranding suatu produk harus diawali dengan mengetahui visi dan misi yang nantinya memunculkan merek sebagai identitas. Pelaku usaha atau pemilik brand harus mempertahankan reputasi dan jaminan mutu kualitas produk, karena kondisi seperti perubahan ekonomi dan perubahan dinamika masyarakat memerlukan konsistensi dari produk tersebut. Selain itu membangun kedekatan dengan pelanggan juga dirasa penting. Seperti misalnya dengan membuat pelanggan nyaman, menganggap pelanggan itu sebagai mitra, dan pemberian apresiasi. “Masyarakat atau konsumen itu akan selalu mengingat bahwa yang membedakan merek dengan merek yang lain adalah jaminan kualitas dari produk tersebut,” tegas Dr. Yudho.

Pakar Hukum UNS Sampaikan Strategi Membangun Kesadaran Merek bagi Pelaku Usaha di Solo Raya

Namun sebagai pelaku usaha juga penting memperhatikan kompetitor yang melakukan perubahan. Harus update mengenai kecepatan dan ketepatan informasi, karena di era digital ini memungkinan untuk terbukanya semua informasi. Sehingga dengan proses digitalisasi ini perlu untuk mengenalkan sebuah merek menggunakan media digital seperti media sosial sebagai tuntutan zaman. Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Editor: Dwi Hastuti

Peran PUI Baterai Lithium UNS dalam Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Peran PUI Baterai Lithium UNS dalam Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik

UNS — Program mewujudkan kendaraan listrik nasional bukan lagi sebuah wacana. Namun, tantangannya yaitu bagaimana membangun ekosistemnya, sehingga kendaraan listrik siap digunakan. Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Baterai Lithium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi bagian penting dari pengembangan kendaraan listrik, khususnya dalam hal riset penyimpanan energi.

Dilansir dari YouTube Solopos TV pada Selasa (1/3/2022), Ketua PUI Baterai Lithium UNS, Prof. Dr. Eng. Agus Purwanto, S.T., M.T., menyampaikan riset yang berkaitan dengan pembangunan ekosistem kendaraan listrik yaitu riset baterai.

Seperti yang diketahui saat ini, kendaraan listrik sudah menjadi salah satu kendaraan yang mungkin akan sulit untuk kembali ke konvensional mengingat banyaknya produsen otomotif yang tertarik dengan kendaraan listrik tersebut. Sebagai pembangun ekosistem kendaraan listrik,  tentu ingin menggunakan kendaraan listrik yang full Battery Electric Vehicles (BEVs) sehingga peran mesin pembakaran dalam kendaraan listrik tersebut bisa diminimalkan untuk mengurangi emisi yang ditransportasi.

Baterai sebagai salah satu komponen kunci memiliki peran penting dalam proses adopsi kendaraan listrik, karena saat ini baterai menjadi komponen dengan harga relatif mahal dibandingkan komponen-komponen kendaraan listrik lainnya. Sehingga baterai menjadi titik optimasi dalam proses produksi untuk menurunkan harga jual kendaraan listrik tersebut. “Agar proses adopsi kendaraan listrik ini bisa cepat, tentu harga jualnya harus sama atau bahkan lebih murah daripada kendaraan dengan ICE yang sekarang beredar luas di masyarakat,” jelas Prof. Agus.

Peran PUI Baterai Lithium UNS dalam Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik

Menjadi proses yang panjang untuk menekan harga baterai atau proses develop baterai ini, dimulai dari proses raw materials seperti diantaranya nikel, lithium, cobalt, aluminium, besi, dan semacamnya tentu akan mempengaruhi harga produk dari baterai. “Tentunya pada saat kendaraan listrik ini menjadi banyak dan booming, kita harus pikirkan proses recyclenya,” tegas Prof. Agus.

Dalam baterai lithium ion memang material paling mahal adalah katoda. Sebenarnya fokus membuat material katoda yang low cost juga menjadi penting dalam pengembangan baterai untuk kendaraan listrik. Selain mengembangkan komponen baterai yang low cost, juga bisa membuat baterai dengan performa yang tinggi. Menjadi salah satu target bersama, di tahun 2021 sampai 2025 untuk membuat kendaraan 1.000 km battery range menggunakan bipolar solid-state Li battery.

Dari sisi riset tidak hanya baterai lithium saja yang dikembangkan karena harga materialnya yang sudah mulai naik. Sehingga dicari alternatif lain yang tingkat kelimpahan materialnya lebih besar. Misalnya, sodium ion dan aluminium ion baterai. Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Editor: Dwi Hastuti

Mengenal Arif Budisusilo, Alumnus UNS yang Kini Pimpin Solopos Media Group

Mengenal Arif Budisusilo, Alumnus UNS yang Kini Pimpin Solopos Media Group

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil melahirkan banyak alumnus hebat yang kini tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Mereka tidak hanya sukses secara karier, namun juga memiliki kontribusi dan karya pengabdian bagi bangsa dan masyarakat yang luar biasa.

Salah satunya adalah Ir. Arif Budisusilo, M.M., alumnus Fakultas Pertanian (FP) UNS angkatan 1987 yang kini menduduki posisi sebagai Presiden Direktur Solopos Media Group.

Arif yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia periode 2009-2016 ini, namanya sudah dikenal sebagai wartawan kawakan di kancah nasional.

Spesial pada Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, uns.ac.id berkesempatan mengulik perjalanan karier Arif, mulai dari kecintaannya pada dunia jurnalistik sejak mahasiswa hingga keberhasilannya menduduki jabatan mentereng di beberapa media.

Saat berbincang melalui Zoom Cloud Meeting pada Selasa (8/2/2022), Arif mengaku sejak duduk di bangku kuliah sudah mencintai dunia tulis-menulis.

Sebelum bekerja menjadi wartawan, ia suka mengirim artikel ke beberapa media, seperti Suara Merdeka, Wawasan, Bernas, hingga Panjebar Semangat yang merupakan majalah berbahasa Jawa tertua di Indonesia.

“Saya memang suka nulis waktu kuliah. Nulis-nulis aja terus mengelola majalah di Fakultas Pertanian namanya Mahita terus berganti nama menjadi Primordial,” ujar Arif, Selasa (8/2/2022).

Selain mengelola majalah di FP UNS, Arif juga bergabung dengan mahasiswa di fakultas lain untuk mengerjakan Tabloid Komponen untuk tingkat universitas.

Sayangnya, tabloid itu usianya hanya seumur jagung karena dibredel usai mengkritik kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/ BKK) di zaman Orde Baru.

Mencoba Peruntungan di Ibu Kota

Usai menamatkan studinya di UNS pada 1992, Arif kemudian beranjak ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Karena tak ingin menganggur, Arif melakoni berbagai pekerjaan sembari menunggu panggilan kerja dari banyaknya lamaran yang sudah ia kirimkan.

Ia mengaku pernah melakoni pekerjaan sebagai sales elektronik canvassing dan sales buku ensiklopedia dan detailing produk farmasi.

Walau harus melewati masa-masa berat dalam hidupnya, Arif menilai hal itu membuat mentalnya semakin kuat dan berguna bagi karier dan profesinya saat ini.

Singkatnya, perjalanan Arif di Ibu Kota mulai menunjukkan titik terang tatkala ia diterima bekerja sebagai reporter di koran Harian Terbit, yang redaksinya berkantor di Pulogadung, Jakarta Timur.

Di titik ini Arif mampu memetik banyak pelajaran sebab tanggung jawab yang dilakoninya sebagai reporter di Harian Terbit tidaklah main-main.

Ia sering berkutat dengan berita-berita yang harus diselesaikannya hingga malam hari, namun di pagi harinya Arif harus kembali bersiap menjemput berita. Hal itu diungkapkan Arif dalam tulisannya yang berudul “Berani Mencoba, Tidak Takut Salah“.

Usai “mentas” dari Harian Terbit, mantan Ketua Senat FP UNS 1990-1992 ini kemudian bergabung dengan koran Bisnis Indonesia sejak bulan Februari 1996.

Ia mengatakan, butuh waktu sekitar empat bulan untuk melewati proses rekrutmen di Bisnis Indonesia.

Arif mengisahkan Bisnis Indonesia kala itu menjadi tempat impian banyak wartawan karena dampaknya yang begitu besar pada dunia bisnis.

Di Bisnis Indonesia inilah, karier Arif mulai menanjak. Arief yang memulai karier sebagai reporter, lantas menapaki posisi baru sebagai asisten redaktur, redaktur, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi, hingga Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia.

Walau kini Arif tak lagi memimpin Bisnis Indonesia, ia mendapat amanah baru dengan segudang tanggung jawab sebagai Presiden Direktur Solopos Media Group dari para pemegang saham, sejak akhir Juli 2020 yang lalu.

Di posisi barunya ini, Arif membawahi koran Solopos, Koran Solo, Solopos.com, Radio Solopos FM, Harian Jogja, Star FM, Solopos Institute, Toko Solopos, dan SoloposFood.

Tantangan media di era disrupsi

Arif yang memulai karier sebagai reporter koran sejak tahun 90-an, tentu memahami betul bagaimana perubahan media dari konvensional/ kertas menjadi elektronik.

Ia mengutarakan bahwa saat disrupsi digital mulai melanda maka media harus relevan supaya tidak ketinggalan dengan perubahan ekosistem industri media.

“Perubahan konsumen pembaca maunya apa, baca berita pakainya apa, ketika mencari informasi, dan bagaimana caranya menjadi relevan,” kata Arif.

Walau saat ini banyak berita clickbait yang “dibumbui” untuk mengundang rasa penasaran pembaca, Arif mengatakan medianya tak mau seperti itu.

Baginya esensi sebuah media adalah penyampai informasi kepada masyarakat yang harus membawa manfaat bagi kepentingan publik

Arif tidak ingin dan dengan tegas mengatakan Solopos Media Group yang dipimpinnya tidak mau ikut arus dan tetap konsisten menyuguhkan berita yang menggerakkan Kota Solo dan menopang perekonomian Indonesia.

Pasalnya, ia sadar Solo merupakan kota penting di Jawa Tengah yang memegang peranan di sektor ekonomi, bahkan merupakan episentrum politik nasional.

“Jadi jurnalis yang benar, media yang benar. Prinsip dasar menyajikan fakta yang benar karena fakta tidak bisa dimanipulasi dan cara menyajikan tidak boleh dimanipulasi. Jangan memberitakan kebohongan apalagi direkayasa kepada masyarakat,” tegasnya.

Pada HPN taun ini, Arief berpesan agar fungsi jurnalistik sebagai penyampai informasi publik harus berdampak positif kepada publik. Mereka harus mendapat informasi, hiburan, dan edukasi supaya hidupnya lebih baik dan media harus mampu menjadi navigator informasi.

“Bahwa peran komunikasi sangat penting dan itu menjadi peran media dalam kondisi seperti ini. Kalau media menjalankan perannya tidak benar ya bangsa ini rusak. Dan ini sudah kelihatan di mana orang kemudian cenderung percaya hoax di media sosial. Karena itu saya mengajak grup kami sendiri untuk selalu sadar informasi yang kita publish ke masyarakat itu punya dampak,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Y.C.A. Sanjaya
Editor: Dwi Hastuti

Wedangan IKA UNS: Diskusikan Peran Media dalam Membentuk Opini Publik

Wedangan IKA UNS: Diskusikan Peran Media dalam Membentuk Opini Publik

UNS — Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali digelar dengan mendiskusikan tema “Peran Media dalam Membentuk Opini Publik”. Pada seri ke-92 ini, turut hadir sejumlah narasumber berpengalaman di bidang media dan komunikasi. Wedangan IKA UNS terselenggara secara daring melalui Zoom Cloud Meeting dan kanal Youtube UNS pada Rabu (12/1/2022).

Acara dibuka oleh Rektor UNS Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. Dalam sambutannya, Prof. Jamal menyoroti kekuatan teknologi informasi sebagai salah satu parameter globalisasi. Menurutnya, media massa memegang peranan yang sangat penting.

“Tak ada lagi sekarang, orang yang tidak memegang kendali media. Baik itu dalam konteks sehari-hari. Misalnya saja kita sekarang tidak pernah lepas dari handphone. Kalau itu lepas, nampaknya kita seperti di tengah hutan yang tidak tahu lagi arah,” tutur Prof. Jamal.

Pemateri pertama pada Wedangan IKA UNS kali ini adalah Direktur Jenderal (Dirjen) Informasi & Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Dr. Usman Kansong, S.Sos., M.Si.

Dalam paparannya, trust ‘kepercayaan’ kepada media menjadi inti dari upaya pembentukan opini publik. Bersumber dari data Edelman Trust Barometer, Usman menyampaikan bahwa tingkat kepercayaan publik di Indonesia terhadap media mengalami peningkatan sebesar 3 poin menjadi 72% pada tahun 2021. Menurutnya, hasil ini menjadi modal besar bagi media untuk menciptakan opini publik.

Usman turut mengingatkan fungsi media dalam pembentukkan opini publik. Terdapat lima fungsi media berdasarkan UU Pers, yakni fungsi informasi, fungsi edukasi/pendidikan, fungsi hiburan, fungsi kontrol, dan fungsi lembaga ekonomi.

Strategi Media dalam Membentuk Opini Publik

Pertama, pembentukkan opini publik perlu dikaitkan dengan kepentingan publik itu sendiri. Media perlu menemukan public meaning ketika memberitakan suatu hal. Kedua, media dapat menggunakan simbol, istilah, dan jargon yang menjadi tren supaya pemberitaan dapat menarik perhatian publik. Ketiga, riding the wave. Media perlu kembali memperhatikan apa yang sedang berkembang di masyarakat tentang sosial, politik, ekonomi dan lain-lain.

Wedangan IKA UNS: Diskusikan Peran Media dalam Membentuk Opini Publik

“Kalau agenda media mau diperhatikan publik ya sesuaikan dengan agenda apa yang sedang terjadi di publik,” tutur Usman.

Keempat, strategi pembentukkan opini publik berkaitan dengan pemilihan topik yang tepat. Kelima, media dapat melakukan survei atau mencantumkan hasil survei untuk mendukung narasi konten.

Tantangan bagi Media

Dari data Elderman Trust Barometer tahun 2021, studi menunjukkan bahwa hanya terdapat 1 dari 4 orang Indonesia yang telah mempraktikkan proses pengolahan infomasi yang baik. Sebanyak 60% responden membagikan informasi apa saja yang menurut mereka menarik. Hanya terdapat 32% yang memiliki information hygiene yang baik.

Media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Menurut Usman, algoritma media sosial sangat jitu dalam membentuk opini publik. Ia menilai setidaknya perlu ada aturan guna mengatur keberjalanan algoritma dalam pembentukan opini yang positif.

“Karena itu, Dewan Pers disokong oleh asosiasi media kemudian dikawal terus oleh Kominfo sedang menyusun Publisher Right. Kita mengharuskan platform global seperti Facebook, Google, dan lainnya harus melaporkan ketika mereka mengubah algoritmanya,” ungkap Usman.

Pemaparan materi dilanjutkan oleh narasumber lainnya, yaitu Direktur Utama Lampung Post sekaligus Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar, S.Sos., Pemimpin Redaksi dan Direktur Jawa Pos TV periode 2015-2020 Irwan Setyawan, S.Sos., M.Ikom., Kepala Stasiun TVRI Jawa Tengah Drs. Sifak, M.Si., Direktur Bisnis dan Konten Solopos Media Group Suwarmin, S.Sos., M.M., serta Kaprodi S-2 Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS Dr. Andre N. Rahmanto, S.Sos., M.Si. Humas UNS

Reporter: Rangga Pangestu Adji
Editor: Dwi Hastuti