UNS Sukses Selenggarakan Youth International Conference for Global Health 2022

UNS Sukses Selenggarakan Youth International Conference for Global Health 2022

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menyelenggarakan konferensi internasional yang bertajuk ‘Youth International Conference For Global Health 2022’, pada Sabtu (17/9/2022). Konferensi internasional tersebut merupakan hasil kerja sama Pusat Studi Demokrasi dan Ketahanan Nasional (Pusdemtanas) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UNS dengan Biro Akademik dan Kemahasiswaan UNS.

Tajuk utama yang diangkat serta menjadi tema besar pembahasan pada konferensi ini yaitu ‘Strengthening a Comprehensive Global Health Architecture To Realize World Collaboration in Facing A Pandemic’.  Adapun tajuk tersebut dikupas dengan sangat lengkap oleh Dr. Sergio Da Lobo, WHO Consultant from Timor Leste sebagai keynote speaker, serta tiga narasumber yaitu dr. Tonang Dwi Aryanto, Ph.D., Viddy Firmandiaz, dan Dr. Sunny Ummul Firdaus. Keberjalanan konferensi dan diskusi ini menjadi sangat interaktif yang dipimpin oleh Rachma Indriyani, LL.M., Ph.D. sebagai moderator.

Konferensi ini diikuti oleh Mahasiswa Internasional UNS meliputi Timor Leste, Egypt, Bangladest, Sudan, Nigeria, Suriname, Chad, Algeria, Izwanda, Yaman, Turkmenistan, Uganda, Suriah dan mahasiswa S-1 UNS serta mahasiswa umum universitas di Indonesia. Kegiatan ini diawali dengan adanya laporan ketua pelaksana yang disampaikan oleh R Prihandjojo Andri Putranto, dr., M.Si. Dilanjutkan dengan adanya opening remark yang disampaikan oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. dan Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus. M.S. yang sekaligus membuka konferensi tersebut secara resmi.

UNS Sukses Selenggarakan Youth International Conference for Global Health 2022

Setelah penyampaian opening remarks, dilanjutkan dengan adanya keynote speaker yang disampaikan oleh Dr. Sergio Da Lobo, dimana beliau menjelaskan mengenai adanya kondisi Covid-19 selama dua sampai tiga tahun ini yang mengejutkan dunia terkhusus dengan adanya dampak sosial ekonomi dan dampak kesehatan yang besar.

“Sehingga dengan adanya pengalaman usaha pencegahan dan penanganan yang besar pada penyebaran Covid-19 menjadikan adanya pembelajaran untuk menciptakan adanya konstruksi global penanganan pandemi mulai dari kebijakan pemerintah, sistem penanganan kesehatan yang sesuai, kerja sama antar masyarakat maupun antar negara serta adanya kebijakan pada sistem ekonomi finansial,” ujar Dr. Sergio Da Lobo.

Pemaparan materi inipun disambung dengan materi bertopik mengenai “Learning from the Past for Possible Next Pandemi” yang disampaikan oleh dr. Tonang Dwi Ardyanto, Ph.D. Adapun materi tersebut memberikan penjelasan mengenai sejarah penyebaran pandemi di dunia, perkembangan kasus pandemi Covid-19, pembelajaran selama pandemi Covid-19, serta menjelaskan langkah apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan munculnya pandemi selanjutnya.

Selanjutnya dengan adanya pembelajaran mengenai permasalahan hukum yang terjadi selama penyebaran Covid-19 pada masyarakat Indonesia, menjadi dasar Dr. Sunny Ummul Firdaus memberikan pemaparan materi mengenai roadmap hukum pelaksanaan vaksinasi wabah penyakit yang mencakup penyelesaian dan rekomendasi atas lima permasalahan yang terjadi. Diantaranya yaitu mengenai payung hukum penelitian pengembangan vaksin, penolakan vaksin oleh masyarakat, pengelolaan dan distribusi vaksin Covid-19, jaminan kualitas vaksin, dan target vaksinasi Covid-19.

UNS Sukses Selenggarakan Youth International Conference for Global Health 2022

“Adapun konsep ideal yang dapat diterapkan guna mengatasi hal tersebut yaitu melakukan pembenahan substansi hukum, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, membuat strategi komunikasi dan targeting masyarakat, melakukan evaluasi permasalahan hukum, membuat payung hukum penjaminan uji klinis vaksin dan koordinasi dengan stakeholder terkait,” terang Dr. Sunny.

Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. dalam sambutannya menyampaikan bahwa konferensi internasional yang dilaksanakan ini akan memberikan nilai kebaruan dalam bidang edukasi, inovasi kesehatan yang lebih baik, dan memberikan kontribusi positif pada lingkungan kehidupan masyarakat guna menghadapi pandemi selanjutnya.

“Hal tersebut dapat dilihat dari adanya berbagai ide dan inovasi yang dituangkan oleh partisipan konferensi melalui paper ilmiah yang dibuat berdasarkan masing-masing sub tema. Adapun paper ilmiah yang sudah dipresentasikan ini nantinya juga akan dipublikasi pada proceeding terindeks Atlantis Press,” tutur Prof. Jamal.

Dengan adanya kegiatan konferensi ini, dr. Andri Putranto selaku ketua pelaksana berharap kegiatan ini dapat memberikan sumbangsih keilmuan yang besar. Khususnya guna mempersiapkan upaya pencegahan maupun penanganan di berbagai sektor kehidupan yang akan terdampak oleh adanya perkembangan pandemi.

UNS Sukses Selenggarakan Youth International Conference for Global Health 2022

“Dengan adanya ide dan inovasi yang disampaikan pada konferensi ini tentu akan menjadi novelty dan rekomendasi tersendiri bagi Indonesia dan negara lain untuk mempersiapkan kebijakan dan upaya penguatan pada bidang kesehatan global serta dapat mendorong adanya upaya kerja sama internasional. Dan kesuksesan konferensi ini tak lepas dari dukungan dan support dari BPD Bank Jateng,” pungkas dr. Andri. Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Redaktur: Dwi Hastuti

UNS Tambah Tiga Guru Besar Baru

UNS Tambah Tiga Guru Besar Baru

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menambahkan tiga guru besar baru. Tiga guru besar tersebut yaitu Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Dr.  Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. dari Fakultas Kedokteran (FK) dan Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. dari Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) UNS. Para guru besar ini akan dikukuhkan pada Selasa (19/7/2022) di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram.

Prof. Dr. Dra. Sri Subanti, M.Si merupakan guru besar ke-23 FMIPA dan ke-248 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Statistika Ekonomi dengan pidato pengukuhan berjudul “Statistika dan Peranannya Dalam Ekonomi”.

Dalam perspektif umum, sebagian besar menganggap statistika sebagai sekumpulan informasi dalam bentuk numerik sepanjang kurun waktu tertentu, seperti tingkat pengangguran bulan lalu, tingkat inflasi kuartal lalu, total pengeluaran pemerintah semester lalu, pertumbuhan output tahun lalu, dan sebagainya. Meskipun hal ini sah – sah saja, ada perspektif yang lebih baik untuk melihat statistika dalam konteks metodologi yaitu sekumpulan aktivitas untuk mengumpulkan, mengklasifikasikan, meringkas, mengatur, menyajikan, menganalisis dan menafsirkan informasi – informasi numerik tersebut.

Umumnya, terdapat tiga tahapan dari analisis statistika dalam penelitian ekonomi yaitu pertama, penyesuaian data agar sesuai dengan kategori analitis. Ini terjadi karena data yang tersedia untuk penelitian ekonomi tidak selalu dapat dihasilkan dari laboratorium. Kedua, analisis kepada pengelompokkan pola temporal yang berbeda. Ketiga, pengukuran dari hubungan kausalitas yang dirumuskan secara teoretis yang biasanya diawali dengan asumsi dasar yang menyatakan bahwa ada hubungan invarian yang dirumuskan oleh teori ekonomi.

“Kesemua tahapan yang baru saja kami sampaikan akan saling bergantung, dan validitas hasilnya tergantung dari  pengetahuan yang dimiliki dan penerapan metode yang tidak selalu bersifat statis,” terang Prof. Sri Subanti di sela-sela acara Jumpa Pers pengukuhan Guru Besar di Ruang Sidang 2 Gedung dr. Prakosa UNS, Senin (18/7/2022).

Penerapan statistika dalam penelitian ekonomi, khususnya, telah memberikan perspektif kajian baru yang menarik untuk dikaji, sehingga keduanya perlahan berkembang dan menawarkan variasi minat studi. Dengan memanfaatkan ide dan teori bidang ekonomi, perkembangan studi yang melibatkan kedua disiplin ilmu ini diharapkan mampu menjawab tantangan dan fenomena ekonomi yang senantiasa dinamis dan diliputi ketidakpastian kedepannya.

Kemudian Prof. Dr. Yusup Subagio Sutanto, dr., Sp.P(K), FISR, FAPSR. Guru besar ke-46 FK dan ke-249 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dengan pidato pengukuhan berjudul “Pemanfaatan Bekicot, Kitosan dan Kulit Durian Sebagai Terobosan Baru Pencegahan Resistensi Tuberkulosis”.

Tuberkulosis (TB) sebagai global emergency merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Kasus TB di Indonesia masih cukup tinggi dan diperkirakan masih terdapat 845.000 kasus biasa dan 24.000 kasus TB resisten. Pada situasi pandemi Covid-19 pada tahun 2020 dari 845.000 kasus hanya terdeteksi 349.000 dan 860 kasus TB resisten. Persentase estimasi kasus TB pada tahun 2018 dan 2019 ditemukan sebesar 60%, namun pada tahun 2020 hanya ditemukan 30% kasus TB. Data terbaru tanggal 21 Oktober 2021 dari Kemenkes RI menunjukkan kasus TB di Indonesia terdapat 301 kasus per 100 ribu penduduk sehingga menempatkan Indonesia di posisi ke-3 kasus TB terbanyak tingkat global. Kemenkes menargetkan capaian 65 kasus per 100 ribu penduduk dan penurunan angka kematian hingga 6 per 100 ribu penduduk pada tahun 2030 (p2p.kemkes.go.id).

World Health Organization (WHO) menyampaikan bahwa kasus TB meningkat lagi secara global di tengah pandemi Covid-19. WHO memperkirakan bahwa sekitar 4,1 juta penderita TB belum terdiagnosis atau belum dinyatakan secara resmi, terbukti adanya peningkatan tajam dari angka 2,9 juta pada tahun 2019. Adanya pandemi Covid-19 telah memperburuk situasi bagi penderita TB, selain karena dana kesehatan yang dialihkan untuk mengatasi Covid-19, dan sulitnya akses perawatan karena adanya lockdown. Akibatnya terdapat penurunan jumlah orang yang mencari pengobatan pencegahan TB sebesar 2,8 juta pada tahun 2020 atau turun sekitar 21% dibandingkan tahun 2019. Target dunia bebas dari epidemi TB pada tahun 2030 dapat direduksi hingga 80 persen, dikhawatirkan tidak akan tercapai akibat adanya pandemi Covid-19.

“TB dapat disembuhkan dengan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang tepat, namun, akhir-akhir ini banyak ditemukan galur MTB resisten terhadap dua atau lebih OAT yang dikenal sebagai galur MDR-TB (Kemenkes RI, 2018),” ujar Prof. Yusup.

Berdasarkan hasil Riset dasar yang telah dilakukan tentang potensi dan efektivitas sediaan galenik seromukoid bekicot, kitosan, ekstrak kulit durian sebagai kandidat potensial OAT yang berbasis bahan alam atau galenik merupakan suatu  terobosan baru melalui riset berbasis ipteks.  Oleh karena itu diperlukan penelitian berkelanjutan dan holistik terkait yaitu riset terapan tentang pengembangan prototipe menjadi produk krenova terstandarisasi dan tersertifikasi yang dapat diaplikasikan di mitra pengguna atau masyarakat, serta Riset pengembangan, hilirisasi dan komersialisasi sediaan galenik OAT untuk pencegahan TB sebagai produk krenova based of knowledge melalui kerja sama dengan bidang industri farmasi.

Meskipun topik riset yang telah, sedang maupun yang akan dilakukan merupakan suatu hal sebagai suatu mimpi atau harapan untuk dapat terwujud bahwa sediaan galenik mampu menggantikan sepenuhnya sebagai OAT, namun suatu kebahagiaan bagi saya untuk dapat memberikan pemikirian sebagai bagian atau puzzle kecil yang dapat melengkapi gambaran tentang suatu terobosan baru pemanfaatan potensi sediaan galenik sebagai pendukung OAT dalam upaya pencegahan MDR-TB di Indonesia. Saya optimis dan yakin dengan dukungan semua pihak semoga hasil penelitian terkait pencegahan MDR TB dari hulu ke hilir dapat terwujud. Semoga uraian dalam pidato ini bermanfaat bagi semua pihak khususnya bidang pulmonologi dan kontribusi kekayaan intelektual di Indonesia dan khususnya bagi sivitas akademika UNS,” ujar Prof. Yusup.

Guru Besar ketiga, Prof. Dr. Zainal Arifin, S.T., M.T. merupakan guru besar ke-20 FT dan ke-250 UNS. Beliau akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Teknik Mesin dengan pidato pengukuhan berjudul “Rekayasa Manufaktur Semikonduktor Sel Surya sebagai Material Energi Bersih Masa Depan”.

Prof. Zainal mengatakan, kebutuhan energi akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan Seiring perkembangan IPTEK dan pertumbuhan penduduk, kebutuhan akan energi dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan sumber energi baru terbarukan, secara berkelanjutan. Hal ini juga selaras dengan bauran energi Indonesia, yang menargetkan adanya peningkatan penggunaan energi terbarukan sebesar 31% pada tahun 2050. Indonesia mempunyai potensi energi surya sebesar 207,8 GWp yang dapat dikonversi menjadi energi listrik menggunakan sel surya melalui proses photovoltaic.

Pengembangan sel surya generasi ketiga yaitu dye-sensitized solar cells (DSSC) mempunyai tantangan dalam mobilitas elektron. Mobilitas elektron dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antara semikonduktor dengan sensitizer dalam melakukan injeksi elektron. Mobilitas elektron yang tinggi akan meningkatkan arus listrik yang dibangkitkan oleh DSSC.

“Tantangan ini memotivasi saya, sehingga sejak kurang lebih sepuluh tahun terakhir, saya bersama tim di Laboratorium Energi Surya Fakultas Teknik UNS melakukan penelitian untuk meningkatkan efisiensi dari sel surya DSSC secara bertahap. Penelitian dilakukan dengan cara rekayasa manufaktur. Fokus penelitian saya adalah Rekayasa manufaktur pada bentuk dan struktural semikonduktor untuk meningkatkan mobilitas elektron”, terang Prof. Zainal.

Rekayasa manufaktur ini dilakukan dengan menggunakan mesin electrospinning. Mesin electrospinning yang di rancang bersama di Grup Riset Konversi Energi Terapan dan Nano Teknologi, dilakukan melalui pendanaan hibah penelitian, baik yang bersumber dari dana UNS maupun Kemendikbudristek.

Ada tiga opsi yang telah berhasil dilakukan yaitu opsi pertama adalah dengan mengubah morfologi semikonduktor menjadi nanofiber menggunakan mesin electrospinning melalui proses direct deposition. Opsi kedua adalah dengan membuat lapisan semikonduktor dua lapis, yaitu lapisan pertama yang berfungsi sebagai dye loading (DL) dan lapisan kedua sebagai light scattering (LS). Lapisan dye loading menggunakan semikonduktor nanopartikel, sedangkan lapisan light scattering menggunakan semikonduktor nanofiber. Opsi ketiga yang dilakukan yaitu merekayasa mesin electrospinning dengan double pump sehingga menghasilkan semikonduktor yang berlubang. Selain itu, juga ditemukan bahwa, dengan penambahan doping Fe, Mg dan Zn dapat memperbesar lubang semikonduktor hollow nanofiber. Ketiga opsi hasil temuan tersebut, telah terbit pada artikel jurnal ilmiah Internasional bereputasi dan juga telah dipatenkan. Temuan-temuan tersebut dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan pasokan material energi bersih masa depan. HUMAS UNS

Reporter: Dwi Hastuti

Wedangan IKA UNS Seri ke-108 Bahas Perkembangan Terkini Pandemi dan Ekonomi

Wedangan IKA UNS Seri ke-108 Bahas Perkembangan Terkini Pandemi dan Ekonomi

UNS — Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali hadir membahas tentang Perkembangan Terkini Pandemi & Ekonomi: Apa yang Mungkin Terjadi? Acara Wedangan IKA UNS yang telah memasuki seri ke-108 tersebut dilaksanakan pada Jumat (1/7/2022) malam melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung via YouTube Universitas Sebelas Maret.

Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum. mengatakan bahwa acara Wedangan IKA UNS yang sudah lama tidak muncul, kini tampil dengan warna baru. Selain itu, Prof. Jamal turut mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para alumni UNS atas dukungan yang telah diberikan.

“Sebelumnya UNS berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia (RI). Penghargaan pertama sebagai peraih poin tertinggi capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) 7 yaitu kelas kolaboratif dan partisipatif tahun 2021. Serta penghargaan kedua atas capaian posisi tertinggi (Top 10%) IKU tahun 2021 pada liga Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH). Dan ini semua tak terlepas dari bantuan rekan-rekan alumni,” ucap Prof. Jamal dalam sambutannya.

Wedangan IKA UNS Seri ke-108 Bahas Perkembangan Terkini Pandemi dan Ekonomi

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh narasumber pertama, Dosen UNS sekaligus Wakil Direktur Rumah Sakit (RS) UNS, Tonang Dwi Ardyanto dr. SpPK, Ph.D. dr. Tonang memaparkan materi tentang Covid 19: Transisi Menuju Hidup Berdampingan?

“Syarat untuk menuju transisi pandemi Covid-19 menjadi endemi pertama ditandai dengan transisi komunitas berada di level 1 selama tiga bulan berturut-turut. Kemudian syarat cakupan vaksinasi Covid-19 dosis lengkap dengan target jumlah penduduk >70% dari total populasi. Serta reproduction rate atau laju penularan itu 1 atau di bawah 1 selama tiga bulan berturut-turut,” lanjut dr. Tonang.

dr. Tonang menambahkan bahwa imunitas pasca infeksi dan pasca vaksinasi, dapat saling memperkuat menghadapi varian baru Covid-19. Dengan demikian, tak perlu takut dalam menghadapi Covid-19 varian baru yang muncul. Karena virus hanya bisa bermutasi ke tubuh manusia. Oleh karenanya, ketika kita sudah divaksinasi dosis lengkap, maka mutasi virus ke tubuh kita akan rendah.

Wedangan IKA UNS Seri ke-108 Bahas Perkembangan Terkini Pandemi dan Ekonomi

“Adapun sebagaimana yang disyaratkan World Health Organization (WHO), cara relaksasi dalam menghadapi pandemi Covid-19 dapat dengan meningkatkan kapasitas testing agar angka positivitas terbukti menurun. Kemudian meningkatkan cakupan vaksinasi karena terbukti efektif mencegah penyebaran. Serta secara perlahan melakukan pelonggaran, bukan endemi. Karena endemi itu berarti hampir semua risiko dan tanggung jawab dikembalikan kepada masing-masing,” terang dr. Tonang.

Sementara narasumber kedua, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS yang saat ini menjabat sebagai Director in PWC’s Forensic Services & Financial Crime Unit Leader, Budi Santoso S.E., Ak., MForAccy, PGCS, CA, CFE, CPA (Aust.) memaparkan tentang Post-Pandemic Economic Recovery.

“Hadirnya pandemi berdampak pada semua sektor kehidupan tak terkecuali sektor ekonomi. Maka, solusi untuk mengatasinya dengan melakukan transformasi digital. Sejak tahun 2020, banyak bisnis yang telah mengubah sistem usahanya ke digital,” ujar Budi.

Namun, untuk bertransformasi ke digital masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Pertama, sebanyak 49% masyarakat Indonesia yang berumur 15 tahun ke atas, belum memiliki akses internet. Maka, tantangan inilah yang harus kita perbaiki bersama.

“Oleh karena itu, untuk menciptakan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi setelah hadirnya Covid-19 pertama dengan meningkatkan investasi. Baik investasi dalam hal pendidikan, investasi kesehatan, maupun investasi yang menambah nilai. Kemudian meningkatkan revenue usaha Anda, mengurangi biaya yang tidak perlu, melakukan inovasi, dan mendukung persiapan tenaga kerja yang berkualitas,” tutup Budi. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti

UNS MUN Club Gelar Webinar Bahas Praktik Sunat pada Perempuan

UNS MUN Club Gelar Webinar Bahas Praktik Sunat pada Perempuan

UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melalui Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UNS Model United Nations (MUN) Club menggelar webinar dengan mengusung tema Embracing Women’s Dignity and Autonomy by Ending Female Genital Mutilation. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung lewat YouTube UNS Model United Nations Club pada Sabtu (9/4/2022).

“Tujuan diadakannya webinar ini untuk menambah pemahaman pada masyarakat mengenai bahaya dari sunat perempuan atau Female Genital Mutilation or Cutting (FGM/C). Juga supaya dapat mengurangi praktik terhadap FGM yang masih marak terjadi,” ungkap Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS, Audrey Nethania Wibowo saat memoderatori acara.

Dikutip melalui World Health Organization (WHO) Key Facts, bahwa FGM merupakan pemotongan dan pelukaan genital perempuan mencakup tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk merubah atau mencederai organ genital wanita tanpa indikasi medis.

Audrey melanjutkan, budaya sunat perempuan atau FGM masih langgeng terjadi di Indonesia. Padahal FGM termasuk ke dalam tindakan berbahaya yang secara ekslusif ditujukan kepada perempuan atau anak perempuan. Ironisnya praktik yang dengan jelas dapat menimbulkan dampak secara fisik maupun psikis, tetapi masih saja dilakukan.

“Oleh karenanya, webinar ini juga untuk menumbuhkan sikap aware dari praktik FGM yang bisa melukai perempuan. Karena tidak sedikit masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa FGM sebagai adat istiadat yang harus dilakukan. Meskipun sebagian masyarakat menyadari dampak buruk FGM terhadap kesehatan, namun tetap melakukannya kepada perempuan demi penerimaan di masyarakat. Pemikiran inilah yang harus diperbaiki,” lanjut Audrey.

Sementara itu, webinar ini menghadirkan narasumber dari Komisioner Komnas Perempuan, Dr. Retty Ratnawati, M.Sc. Dr. Retty menyampaikan mengenai Pencegahan & Penghapusan Praktik Pelukaan dan Pemotongan Genital Perempuan (P2GP) Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/C).

Dr. Retty menuturkan praktik P2GP masih dilakukan di Indonesia karena dipandang sebagai budaya turun temurun dan dianggap perintah agama.

UNS MUN Club Gelar Webinar Bahas Praktik Sunat pada Perempuan

“Padahal medikalisasi P2GP secara tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar, karena prosedur pembedahan yang dilakukan lebih invasif. Cara pandang orang tua yang mengatakan bahwa P2GP memiliki manfaat bagi anak perempuan mereka, bertentangan dengan bukti-bukti dari sisi medis. Sisi media menunjukkan bahwa praktik ini memberi dampak membahayakan bagi kesehatan fisik dan mental dari anak perempuan,” jelas Dr. Retty.

Adapun sikap yang dilakukan Komnas Perempuan pada praktik P2GP atau FGM ini ialah mendorong integrasi prespektif Hak Asasi Manusia (HAM) yang inklusif dan interseksional dalam kebijakan kesehatan reproduksi. Yaitu dengan memberikan perhatian khusus pada kebijakan Zero Tolerance terhadap praktik P2GP.

“Sunat perempuan apapun bentuknya perlu dihapuskan. Karena P2GP sebagai bentuk tindak kekerasan seksual berbasis gender terhadap perempuan. Kemudian secara simbolik juga sebagai tindak diskriminatif terhadap perempuan,” ujar Dr. Retty.

Dr. Retty juga mengajak untuk setiap masyarakat Indonesia memahami dampak P2GP, memberikan tindakan tegas untuk menstop diskriminasi juga hoax serta mitos terkait P2GP, dan memperjuangkan hak kesehatan seksualitas dan reproduksi.

Selanjutnya, narasumber kedua datang dari Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Dr. Muhammad Fadli, Sp. OG. Dr. Fadli memaparkan materi tentang Dampak dan Implikasi Sunat Perempuan.

UNS MUN Club Gelar Webinar Bahas Praktik Sunat pada Perempuan

“Praktik sunat perempuan atau FGM atau P2GP ini tidak memiliki keuntungan dari sisi kedokteran. Karena akan menimbulkan komplikasi yang berat berupa akut maupun kronis. Selain itu, tindakan ini juga sudah lama ditinggalkan di Kedokteran Indonesia,” pungkas Dr. Fadli. Humas UNS

Reporter: Lina Khoirun Nisa
Editor: Dwi Hastuti

Peringati Hari TBC Sedunia, Dokter RS UNS Ajak Masyarakat Turut Menekan Kasus TBC di Indonesia

Peringati Hari TBC Sedunia, Dokter RS UNS Ajak Masyarakat Turut Menekan Kasus TBC di Indonesia

UNS — Sejak World Health Organization (WHO) mengumumkan Indonesia menempati peringkat ke-3 negara dengan kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia pada Oktober 2021, Dokter Spesialis Paru Konsultan Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Reviono, dr., Sp.P(K), mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meminimalisir umin-faktor resiko yang menyebabkan kegagalan penanganan TBC.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Talkshow yang diselenggarakan oleh RS UNS untuk memperingati hari TBC sedunia dengan tajuk ‘Investasi untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa’, Selasa (22/3/2022) melalui live streaming official Instagram @rumahsakituns dan YouTube Rumah Sakit UNS.

Prof. Reviono menyampaikan target dunia di tahun 2030 yaitu kasus-kasus TBC insidensinya akan berkurang 80% menjadi 20% dari angka yang sekarang. Kemudian juga angka kematiannya berkurang 90% menjadi 10%. “Untuk mendapatkan target eliminasi itu tidak mudah, karena ada banyak permasalahan yang sepenuhnya harus didukung oleh segenap lapisan masyarakat. Seperti, mengurangi umin-faktor resiko yang menyebabkan kegagalan penanganan TBC. Karena pasti butuh anggaran, tenaga, dan pikiran, jadi investasinya adalah untuk menguatkan hal-hal yang dapat mencegah ketidakberhasilan dari penanganan TBC itu sendiri,” ujarnya.

TBC secara medis dikenal sebagai TB ini adalah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang jaringan paru. Tapi sebenarnya tidak hanya paru, bisa jadi umin ke seluruh organ seperti tulang, perut, kelenjar getah bening, bahkan bisa menyerang selaput otak atau bahkan otak itu sendiri. Penyerangan di bagian mana saja tetap berbahaya. Misalnya, menyerang paru akan berbahaya jika itu sampai mengakibatkan batuk darah dalam jumlah yang besar. Menyerang otak yang sebagai pusat saraf kendali manusia, tentunya juga akan berbahaya. Begitu juga TBC yang menyerang usus, yang mengakibatkan dinding perutnya tegang. TBC memiliki level keparahannya, jika sedikit organ yang terserang, berarti itu ringan dan belum terlambat untuk berobat. Tetapi umin gejalanya berlanjut ditambah uminica komorbid itu berbahaya.

TBC merupakan penyakit lama yang sulit diberantas, karena memang ada beberapa pasien sering terdeteksi umin kasusnya sudah terlambat. Bahkan sudah menularkan kepada orang lain karena keterlambatan itu. “Karena penyakit kronik itu memiliki gejala yang pelan, sehingga umin orang terinfeksi TBC itu beradaptasi dengan gejalanya dan kadang tidak merasakan sakitnya. Jadi ada yang batuk, itu menyebutkan batuk biasa. Padahal batuk itu kan gak ada yang biasa, batuk adalah keadaan yang tidak normal. Itu yang menyebabkan TBC masih menjadi masalah di dunia saat ini,” tutur Prof. Reviono.

Secara umum memang TBC itu endemis. Di Indonesia sendiri secara merata di setiap provinsi uminic sama, sehingga semua orang memiliki kemungkinan paparan untuk terinfeksi. Tetapi orang bisa terkena TBC itu memang ada umin resiko, umin tidak ada umin resiko biasanya bisa ditanggulangi dengan imunitas seseorang. Faktor resiko dari kekebalan misalnya diabetes, gagal ginjal, dan malnutrisi. Kemudian umin resiko lain, kemungkinan tertular itu juga ada seperti di wilayah padat penduduk, ventilasi kurang, cahaya sinar matahari kurang yang memungkinkan pertumbuhan bakteri di lingkungan itu cukup besar.

Dalam uminic Covid-19 ini kasus TBC cenderung turun. Data-data menunjukkan bahwa TBC di dunia itu turun dan Indonesia termasuk yang menyumbangkan penurunan yang cukup besar. Kemungkinan yang paling besar dari penurunan kasus tersebut adalah adanya stay at home. Sehingga kekhawatiran masyarakat untuk pergi ke rumah sakit dan juga umin sakit pun tidak segera periksa karena mungkin sakitnya belum terasa berat. “Saya mengatakan, dengan uminic ini bukan berarti kasus TBC itu menurun. Jadi tetap saja ada penularan, umin ini tidak terdeteksi karena beberapa hal, seperti adanya stay at home,” ucap Prof. Reviono

Perbedaan TBC dengan Infeksi Paru Lainnya

TBC dahulu disebut sebagai suspect, batuk berdahak selama 2 minggu (minimal) yang menjadi khasnya. Waktu TBC kronik (mula-mula), selain gejala paru ada gejala yang sistemik ke seluruh tubuh seperti demam, nafsu makan berkurang, penurunan berat badan. Dari konsepnya TBC berbeda dengan penyakit paru lain seperti asma dan pneumonia. TBC dengan pneumonia sama-sama menyerang paru melalui saluran udara, namun yang membedakan adalah penyebabnya, waktu, dan mula sakitnya. Pneumonia cenderung lebih cepat dan akut sifatnya.

Dari segi obatnya pun berbeda, TBC menggunakan obat anti TBC, sedangkan pneumonia tergantung pada penyebabnya. Pengobatan TBC cenderung lama karena, memang pembelahan bakterinya lebih lama. Bakteri TBC memiliki dinding yang tebal sehingga tidak mudah untuk dirusak, berbeda dengan bakteri pneumonia yang hanya hitungan jam saja.

Pencegahan dan Pengobatan TBC

Dibuktikan dengan penelitian, standarnya pengobatan dalam waktu 6 bulan itu dinyatakan selesai. Dalam artian, dari sisi bakteriologis sudah turun sehingga tidak menjadi masalah untuk kesehatan. Kerusakan-kerusakan di jaringan paru itu bervariasi, mulai dari yang ringan, sedang, dan berat. “Jadi kalau kerusakannya itu ringan, biasanya recovery atau revolusinya jaringan paru bisa sembuh kembali seperti semula. Tapi kalau yang sedang atau bahkan yang berat ada kavitas (lubang-lubang di paru) ini yang bisa menimbulkan gejala sisa, salah satunya batuk-batuk. Kalau ini batuk saja tanpa diikuti sistemik yang lain, tanpa demam, tanpa penurunan nafsu makan saya kira bisa diobati dengan obat batuk biasa, simptomatis saja. Tapi kalau ada lanjutan gejala-gejala ini memang harus waspada. Dokter akan menginvestigasi apakah ada kekambuhan atau mungkin ada komorbid atau penyakit yang menyertai, maka itu yang akan dipertimbangkan,” ulas Prof. Reviono.

Peringati Hari TBC Sedunia, Dokter RS UNS Ajak Masyarakat Turut Menekan Kasus TBC di Indonesia

TBC memiliki 4 populasi, yaitu di luar sel yang mudah dibunuh dengan obat-obatan antibodi, di dalam sel intraseluler, di dalam suasana asam, dan dormant. Dormant ini sulit untuk bisa dibunuh, tetapi bisa seimbang antara pertahanan tubuh dengan keberadaan bakteri itu dan tidak menyebabkan gejala klinis. Sehingga untuk orang dengan imunitas yang bagus, kalau tidak ada gejala klinis tidak perlu diobati. “Jadi ini nanti mungkin ke arah TB laten. Kalau menunjukkan suatu respon imun, kita biasanya melakukan 2 cara, yaitu tes mantoux dan tes interferon gamma. Jika itu menunjukkan respon imun di atas nilai normal, baru itu diobati. Tapi obatnya preventif berupa terapi pencegahan TBC,” ungkap Prof. Reviono.

Bagi orang yang sudah dinyatakan sembuh dari TBC, pasti ada kemungkinan untuk tertular kembali jika kontak kuat dengan yang terinfeksi. Diagnostik TBC ini sekarang menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan merupakan yang paling sensitif. TCM ini memang tidak bisa dilaksanakan di Puskesmas, tetapi bisa mengirimkan sampelnya ke tempat yang memiliki fasilitas TCM.

Vaksin Bacillus Calmette–Guérin (BCG) untuk mencegah TBC ini memang belum efektif. Tetapi berdasarkan data, vaksin tersebut dapat mencegah TBC kearah yang lebih parah.

TBC pada Anak

Kondisi anak yang terinfeksi TBC berbeda dengan orang dewasa. Pada anak namanya primary complex atau TBC tertutup tidak terlibatnya saluran nafas. “Anak tidak bisa menularkan sebenarnya, sebaliknya apabila anak sudah diagnosis TBC, yang dicari justru yang menularkan siapa. Pada anak, dalam artian baru pertama terinfeksi itu tidak bisa menularkan ke anak yang lain, pada kesimpulannya anak bisa tertular tetapi tidak bisa menularkan,” tegas Prof. Reviono.

Gejala TBC pada anak memang berbeda dengan dewasa. Kalau dewasa didominasi batuk berdahak, tetapi anak tidak didominasi batuk berdahak, hanya batuk saja yang mungkin disertai demam tidak terlalu tinggi tapi kronik, hampir setiap hari ada. Kemudian penurunan nafsu makan dan kurangnya berat badan dibandingkan teman sebayanya (dibawah normal). Meskipun TBC kelenjar yang menyerang anak dengan orang dewasa cenderung sama, tapi untuk diagnosisnya pada anak secara teoritis tidak bisa menggunakan TCM. Humas UNS

Reporter: Erliska Yuniar Purbayani
Editor: Dwi Hastuti