uns berkarya

AL-GHAFIR

By 20 January 2016 No Comments

fds

Hembusan lirih angin musim gugur telah menyapu lembut kedua pipi putihnya yang kini kian bersemu merah, hembusan nafas yang kini tengah bercampur dengan udara di sekitarnya lolos dengan sangat halus dari bibirnya. Hawa dingin yang terus merasuk ke dalam tubuhnya mencari celah untuk membuatnya membeku tak ia hiraukan, manik matanya masih saja terfokus pada kanvas yang telah tergores dengan ribuan acrylic warna. Lagi, ia menyapukan cat pada bagian terpenting lukisan itu hingga sesaat kemudian sebuah senyum simpul menghiasi paras cantiknya, sebuah senyum yang telihat sangat manis tetapi menimbulkan berbagai arti yang mewakili setiap detail lukisan itu, tapi beberapa detik kemudian mata biru itu terasa sangat lah panas hingga bulir bulir bening ini pun jatuh menuruni setiap lengkuk wajahnya, ia merasa sesak hingga ia meremas tasbih yang sedari tadi melingkar indah di pergelangan tangannya dengan jemari yang tak pernah putus memutar setiap biji tasbih untuk mengagungkan -Nya. Matanya menerawang jauh kejadian itu, saat profesi yang menuntutnya untuk selalu ada di setiap waktu untuk menolong setiap yang bernyawa.

27 Desember 2008 bukanlah hari ulang tahunku melainkan salah satu hari bersejarah dalam kehidupanku ketika rasa kemanusaian yang selalu mengerogoti di setiap hembusan napasku menarikku datang ke tempat ini, lisensi ini telah menyeret bagian hati terdalamku untuk menolong mereka. Pertama kali ku pijakkan kaki di kota ini napasku tercekak hingga tak ada satu frasa apapun yang mampu kukeluarkan untuk menyebutka n perbuatan apa yang telah membuang hati mereka hingga kulihat hanyalah sesuatu yang mengerikan, gedung gedung yang mencengkram langit bahkan tinggal puing puing kecil yang mungkin saja akan berubah menjadi tanah, mayat mayat berserakan di jalanan, dentuma n demi dentuman hebat telah memekakan telingaku, api yang membakar gedung gedung itu pun semakin mengobar dengan besar akibat bom yang telah di ledakkan beberapa saat lalu, , suara roket yang terus saja meluncur laksana kembang api di malam tahun baru yang begitu banyak dan
memancarkan api yang akan membuat setiap orang terperangah kagum. Tapi ini berbeda, hanya tangisan dan darah yang mengucur membanjiri tanah Gaza siang ini.

Peradaban yang sungguh sangat mengerikan telah terekam sempurna dibenakku hingga aku tak tahu sampai kapan memori kelam ini akan hilang, jeritan jeritan yang terdengar seperti illusi telah nyata berada di hadapanku meski hanya lewat celah kaca bus ini aku melihatnya.

“ Allahhu Akbar!!!!!! Allahhu Akbar !!!!!” suara itu terdengar samar di telingaku karena suara dentuman yang tak kunjung reda, begitu pula dengan suara tembakan yang terus menguar di pelbagai penjuru kota, kota ini mungkin dulu sangatlah indah, di sudut sana mungkin anak-anak sedang bermain bersama dengan teman-temannya hingga hanya tawa yang menguar di setiap sudut kota ini.

Bus ini terus menyusuri kawasan sebelah timur Christian Quarter lalu berbelok di sebuah turunan memasuki wilayah kompleks. Disana supir bus memperlambat laju busnya karena beberapa serdadu Israel sedang berdiri menghalangi perjalanan kami hingga supir bus menghentikan bus tersebut. Suasana riuh mulai menguar di setiap sudut bus ini, pun rasa takut telah menjalar ke seluruh tubuh, mereka takut jika para serdadu Israel itu akan menghancurkan bus ini dan meledakkannya menjadi puing puing kecil.

Tetapi di sisi lain segerombolan Zionis dengan ribuan tank dan persenjataan lengkap berjalan melintasi kami, di tengah ribuan mayat yang terkapar akibat ledakan yang beberapa menit lalu mereka lancarkan. Kulihat seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 6 tahun tengah meringkuk dan berada tepat di tengah jalan dimana para pasukan Israel mengemudikan tank-tank besar mereka menuju anak itu, sedangkan para serdadu lain yang turun dari tank menembak para korban yang mungkin belum mati. Rasa khawatir telah menggerogoti tubuhku hingga keringat dingin terus saja mengucur di setiap lekuk tubuhku setelah melihat pergerakan kecil dari anak itu dari celah celah jendela bus ini. (….)

Baca selengkapnya AL Ghafir

Penulis: Oleh : Dimas Suryaning Ayu1
Beri Like jika kamu sepakat dengan ide Dimas1Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret angkatan 2015, anggota Kelompok Studi dan Penelitian “Principium” FH UNS. Karya ini belum pernah di lombakan atau di share di web atau blog tertentu sebelumnya.

Leave a Reply