Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik UNS merupakan mahasiswa pilihan dengan potensi akademik yang unggul. Para mahasiswa tersebut melewati seleksi ketat pada saat penerimaan mahasiswa. Namun, menurut Kapala Program Studi Teknik Mesin, Syamsul Hadi, potensi akademik tersebut tidak tercermin dari lamanya pengerjaan tugas akhir (TA). Pengerjaan TA cenderung semakin lama, dari 7 bulan di tahun 2012 menjadi 12 bulan di tahun 2015.

Syamsul Hadi berpendapat salah satu penyebab lamanya pengerjaan TA adalah munculnya ‘dosen favorit’. “Dosen favorit untuk TA timbul karena mungkin ketidaktahuan mahasiswa akan proyek penelitian dosen sehingga mahasiswa banyak menumpuk di satu dosen mengerjakan TA. Sedangkan dosen yang lain mungkin tidak atau hanya sedikit membimbing mahasiswa“, tulisnya di makalah yang ia susun. Kondisi ini membuat beban membimbing TA mahasiswa untuk dosen tidak berimbang.

dsdsd

Skema intergrasi penelitian yang diterapkan di Program Studi Teknik Mesin UNS.

Selain itu Syamsul Hadi menemukan lamanya pengerjaan TA juga disebabkan oleh tidak adanya pengawasan yang intens dari dosen pembimbing karena kesibukan dosen yang tidak hanya mengajar tapi juga harus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Dosen yang tidak berada di laboratorium juga menyebabkan mahasiwa tidak terbimbing dengan maksimal.

Sementara mahasiswa banyak menyelesaikan tugas akhir dengan ide dan pemikiran sendiri, dosen dan laboran juga melakukan penelitian mereka masing masing. Karena melakukan penelitian masing-masing, Syamsul menilai potensi-potensi yang ada kadang tidak saling sinergi sehingga tidak saling mendukung untuk maju bersama. Padahal menurutnya, proses penelitian merupakan proses yang sangat rumit karena melibatkan sarana, prasarana, sumber daya peneliti dan manajemen yang harus bersinergi bersama untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Tata SOP

Syamsul Hadi yang telah menjadi kepala program studi sejak 2015 ini mencoba memperbaiki masa pelaksanaan TA dimulai dengan menata Standar Operasi Produksi (SOP). TA yang semula terdiri dari Mata Kuliah (MK) Seminar dengan bobot 1 SKS, yang terdiri dari gabungan nilai Seminar Proposal dan Hasil, dan MK TA sendiri yang terdiri dari 4 SKS dirubah menjadi MK Seminar yang hanya terdiri dari nilai Seminar Proposal saja dengan bobot 2 SKS dan TA dengan bobot 4 SKS.

Mahasiswa dapat mengambil mata kuliah TA apabila sudah mencapai 120 SKS. Dengan asumsi setiap mahasiswa mengambil 20 SKS tiap semester, maka pada semester 7 mahasiswa tersebut bisa mengambil MK Seminar. Mahasiswa yang sudah mengambil MK Seminar diminta ikut aktif di pertemuan mingguan research group dan ikut kegiatan penelitian. Dengan cara ini, Syamsul berharap mahasiswa akan tahu dan berperan aktif untuk melakukan kegiatan penelitian di laboratorium tersebut.

Mahasiswa yang telah mengambil MK Seminar pada semester 7 memiliki target harus melakukan Seminar Proposal di akhir semester. Dengan upaya tersebut diharapkan mahasiswa saat pengerjaan tugas akhir pada semster 8 akan cepat selesai karena mereka sudah terbiasa untuk melakukan penelitian selama satu semester sebelumnya dan pengerjaan TA dapat selesai sesuai dengan target yaitu hanya 1 semester ( 6 bulan ).

Integrasi Penelitian

Mendorong upaya yang telah dilakukan, Syamsul Hadi memanfaatkan research group untuk memberikan topik penelitian yang bisa ditawarkan di S-1, S-2 dan S3- pada akhir semester genap. Prodi Teknik Mesin berusaha mengaktifkan dan mendorong research group untuk dapat melakukan singkronisasi dan sinergi topik penelitian baik untuk S-1, S-2, maupun S-3, bahkan untuk anak D-3. “ Research group yang mempunyai beberapa topik riset utama yang sesuai untuk mahasiswa S-3 diharapkan memecah menjadi beberapa topik untuk dikerjakan anak S-2 dan berikutnya dipecah lagi menjadi topik anak S-1. Untuk anak D-3 baru disampaikan topik untuk proses produksi agar bisa dilakukan, “imbuhnya.

Prodi Teknik Mesin juga memfasilitasi lab bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian. Upaya ini untuk memberikan ruang kerja mahasiswa selama melakukan aktifitas riset di lab. Dengan memaksa mahasiswa untuk tinggal di lab maka dosen dapat mengajarkan cara bekerja yang profesional. “Bagaimana mahasiswa mengatur ruang kerja, jam kerja, berkomunikasi, bekerja dengan baik, dan saling mengerti kesulitan antar teman dan saling membantu merupakan nilai nilai yang tersampaikan saat bekerja bersama di lab. Diharapkan dengan upaya ini secara sofskill mahasiswa akan semakin siap untuk bekerja ke depannya,“ harap Syamsul.

Upaya-upaya yang telah dilakukan Prodi Teknik Mesin sudah menunjukkan hasil meskipun baru diaplikasikan selama setahun terakhir yakni tahun akademik 2015/2016. Syamsul menyebut, angka efisiensi akademik (AEE) prodi yang dikelolanya naik menjadi 18.89 dari sekitar 16 karena kenaikan jumlah mahasiswa yang lulus pada tahun tersebut. Lama pengerjaan TA juga menurun dari sebelumnya 12 bulan menjadi 9 bulan. Selain itu,  jumlah penelitian di Prodi Teknik Mesin meningkat karena setiap tahun ada seminar internasional yang dilaksanakan oleh Prodi Teknik Mesin bekerja sama dengan beberapa universitas di luar negeri memaksa dosen untuk berperan menulis publikasi di acara tersebut. [](red.uns.ac.id)