uns berkarya

Solar Charger sebagai Fasilitas Publik Universitas Sebelas Maret dalam Rangka Mewujudkan UNS Green Campus

By 11 January 2016 April 12th, 2017 One Comment

Saat ini perkembangan teknologi sangatlah pesat, itu dapat dilihat dari produksi alat elektronik yang semakin beragam, termasuk perkembangan teknologi telepon genggam atau handphone atau yang saat ini kita kenal sebagai smartphone yang telah menjadi kebutuhan primer setiap mahasiswa selain laptop atau komputer. Hampir setiap orang atau khususnya mahasiswa mempunyai smartphone baik untuk tujuan komunikasi, akademis, bisnis atau yang lainnya. Perkembangan smartphone tentunya dibarengi dengan penambahan kapasitas pada daya baterainya. Logikanya, semakin canggih smartphone maka akan semakin tinggi pula fitur yang ada didalamnya, juga semakin membutuhkan daya baterai yang semakin besar agar mampu menyala lama. Gaya hidup saat ini menuntut agar smartphone selalu aktif dalam kondisi apapun, termasuk ketika berada di kampus. Sedangkan gaya hidup yang menuntut agar smartphone selalu aktif ini tumbuh sebading dengan bertambahnya konsumsi energi listrik di area kampus. Terus menggunakan smartphone juga berarti terus mengisi daya baterai smartphone agar tetap mampu menyala. Saat ini, penduduk paling banyak di kampus adalah mahasiswa, maka dari itu konsumsi energi untuk smartphone paling banyak adalah dari mahasiswa. Sedangkan saat ini fasilitas yang mendukung mahasiswa mememenuhi gaya hidupnya untuk membuat smartphonenya tetap aktif hanya mereka dapat dari energi berbahan bakar fosil, bukan dari fasilitas yang mendukung isu – isu lingkungan. Jadi artinya, konsumsi energi listrik berbahan bakar fosil paling besar di area kampus adalah oleh mahasiswa. Dan itu artinya mahasiswa adalah kontributor paling besar dalam kerusakan lingkungan pada area kampus.

Dikutip dari publikasi The World Bank tentang Berinvestasi untuk Indonesia yang Lebih Berkelanjutan bahwa “Metode pembangkit Listrik yang digunakan saat ini terus meningkat bersumber dari batu bara adalah penghasil gas rumah kaca yang terus meningkat. Akibat kebutuhan akan listrik yang terus meningkat, emisi gas rumah kaca di Indonesia yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, diperkirakan akan bertambah pula”. Kita tidak bisa memungkiri bahwa penggunaan energi berbahan bakar fosil adalah berarti berkontribusi dalam kerusakan lingkungan, tetapi paling tidak kontribusi itu dapat dikurangi terutama dikalangan akademisi yang merupakan percontohan bagi masyarakat serta untuk mewujudkan kampus yang berbasis Green Campus Menurut Kajian Supply Demand Energy dari Kementrian Enegi dan Sumber daya Mineral pada poin Analisa Supply Demand Energi Baru Terbarukan “Sebagai salah satu negara yang berada diwilayah tropis, Indonesia dianugerahi sumber daya energy yang bervariasi, selain meiliki ketersediaan sumber – sumber energi fosil, Indonesia juga dianugerahi potensi sumber daya energi baru terbarukan yang sagat beragam, mulai dari air, panas bumi, biomassa, surya, angin hingga uranium. Tenaga surya diperkirakan mencapai 4,8 Kwh/m2/hari.”

Dari kajian diatas, energi yang paling memungkinkan digunakan di area kampus untuk mendukung terwujudnya UNS Green Campus adalah energi dari tenaga surya. Rendahnya pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan dapat dilihat dari minimnya fasilitas publik yang mengarah ke isu lingkungan terutama pada poin energi terbarukan. Jika dikatkan dengan poin tentang penggunaan smartphone, maka energi dari tenaga surya atau solar energi sangat cocok jika diaplikasikan dengan permasalahan yang ada di kampus, yaitu pembuatan solar charger.

Baca selengkapnya: Solar Charger sebagai Fasilitas Publik Universitas Sebelas Maret dalam Rangka Mewujudkan UNS Green Campus

Penulis: Claudia Dewi Larasati
Beri Like jika kamu sepakat dengan ide Claudia Dewi Larasati

 

One Comment

Leave a Reply