Jadi Mahasiswa di Kampus Wilayah Tak Jadi Penghalang untuk Berprestasi

Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merupakan salah satu kampus unggulan negeri dan masuk ke dalam 10 universitas terbaik di Indonesia. UNS menempati urutan ke – 3 pada tahun 2018 menurut lembaga pemeringkat Internasional uniRank yang sebelumnya bernama Internasional 4 International Colleges and Universities (4ICU). Tidak hanya sebatas bersaing di Indonesia, UNS pun bersaing di kancah Internasional. UNS masuk dalam 22 universitas terbaik di Asia versi QS World Rankings, menempati peringkat 401 – 450 Asia pada tahun 2018.

Dengan prestasi yang diperoleh,  UNS menjadi salah satu pilihan utama bagi para calon mahasiswa  sebagai tempat menuntut ilmu dan berprestasi. Banyak yang tidak diketahui oleh calon mahasiswa, khususnya calon mahasiswa dari luar daerah Jawa Tengah, bahwa UNS memiliki 5 kampus yang letaknya tidak berdekatan,  yaitu kampus Kentingan yang menjadi kampus pusat UNS, kampus Manahan yang merupakan kampus untuk mahasiswa olahraga (FKOR), kampus Kleco yang berisi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kampus Kebumen berisi mahasiswa PGSD Kebumen, dan kampus Pabelan berisi mahasiswa FKIP jurusan pendidikan teknik yang terdiri dari Pendidikan Teknik Bangunan (PTB), Pendidikan Teknik Mesin (PTM), Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer (PTIK).

Menjadi mahasiswa kampus wilayah merupakan hal yang cukup berat, terutama bagi calon mahasiswa yang sudah berekspektasi tentang kehidupan perkuliahan, namun realita mengatakan hal yang sebenarnya. Mereka bisa saja ditempatkan jauh dari pusat kehidupan mahasiswa UNS. Bagi mahasiswa yang sudah menjalani kehidupan perkuliahan sebagai mahasiswa kampus wilayah, cobaan yang cukup berat antara lain adalah kendala jarak,  segala jenis birokrasi, UKM, dan event mahasiswa yang berada di kampus Kentingan. Hal ini cukup menguras tenaga, pikiran, serta finansial yang digunakan untuk transportasi.

Mahasiswa kampus wilayah yang menjadi pengurus himpunan program studi mengalami hambatan dalam segi informasi. Walaupun teknologi sudah canggih, masih ada beberapa informasi yang terlambat sampai kepada mereka yang berada di kampus wilayah. Merasa menjadi anak tiri di kampus sendiri kemudian menjadi dinding bagi mahasiswa kampus wilayah untuk berani unjuk gigi dan memilih menjadi mahasiswa kupu – kupu (kuliah pulang – kuliah pulang).

Menjadi mahasiswa di kampus wilayah dengan berbagai hambatan  ternyata tidak menghalangi beberapa mahasiswa untuk tetap semangat dan  berlomba dengan teman – teman yang berada di kampus pusat. Jarak, malas, maupun kendala transportasi bukan menjadi hambatan besar bagi mereka, justru itu menjadi pecutan dan pondasi bagi mahasiswa kampus wilayah untuk ikut bersaing dan berprestasi.

Menjadi mahasiswa kampus wilayah yang menginspirasi. Itulah hal yang diperlukan mahasiswa di kampus wilayah, baik  di lingkup universitas maupun masyarakat,  di bidang akademik maupun non akademik. Ada beberapa contoh nyata mahasiswa yang berprestasi di bidang non akademik, antara lain Imam Wegik, mahasiswa FKIP, jurusan Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2015 yang memperoleh medali emas di Liga Mahasiswa (LIMA) pada tahun 2015. Adapun di bidang akademik ada Muchammad Sholikun, mahasiswa FKIP jurusan Pendidikan Teknik Mesin angkatan 2014 yang menjadi ketua Studi Ilmiah Mahasiswa UNS (SIM UNS) pada tahun 2017, sebuah UKM tingkat universitas yang dipenuhi dengan kegiatan keilmiahan seperti membuat essay atau karya tulis ilmiah.

Tak hanya itu,  dalam  organisasi pergerakan pun tidak kalah hebat ada Donny Bangkit Ariwibowo jurusan Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2014 yang menjadi presiden BEM FKIP tahun 2017.  Bahkan tidak hanya itu, mahasiswa kampus wilayah pun mampu untuk berprestasi di kancah Internasional. Hilmy Nur Al Maghtani, mahasiswa FKIP jurusan Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2014 menjadi delegasi dari UNS dalam acara United International Architect Congress di Seoul, Korea Selatan tahun 2017 dan juga delegasi Asia Student Summit 2018 di Seoul, Korea Selatan.

Alif Rizal Muthi’, mahasiswa FKIP jurusan Pendidikan Teknik Bangunan angkatan 2014 menjadi salah satu mahasiswa yang mengikuti pertukaran mahasiswa magang di Asia Tenggara, tepatnya di Philipina yang diadakan oleh SEAMEO, organisasi kementerian pendidikan pada tahun 2017.  Selain nama-nama tersebut,  masih banyak lagi mahasiswa kampus wilayah yang berprestasi mengharumkan nama UNS dan menginspirasi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Bagi para mahasiswa baru, terutama yang berkuliah di kampus wilayah, hilangkanlah stigma “anak wilayah” atau “dianak-tirikan” karena kalian tetaplah mahasiswa UNS. Bersosialisasi dan bermain ke kampus UNS Kentingan bisa menjadi solusi karena itu juga bagian dari kampus. Berprestasi dan berkaryalah!  Karena tidak ada hal yang membedakan antara mahasiswa kampus wilayah dengan mahasiswa kampus UNS Kentingan, yang membedakan hanyalah semangat dan niat untuk terus berprestasi dan berkarya.

 

Amirulhuda Nawasaptaaji

Mahasiswa Pendidikan Teknik Bangunan 2015

By | 2019-01-26T21:59:02+00:00 26 January 2019|Categories: Opini|