Opini

UNS Green Campus dan Semangat Peduli Lingkungan Civitas Academica UNS

By 25 January 2019 No Comments

Era globalisasi dan kemajuan industri saat ini banyak berdampak pada kehidupan manusia, baik dampak positif maupun negatif. Kemajuan teknologi dalam berbagai bidang memberikan kemudahan dan kepraktisan dalam banyak hal. Tetapi ada sisi lain dari kemajuan ini, yaitu kerusakan lingkungan yang sekarang ini banyak mejadi sorotan.

Banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan baik dari masyarakat maupun pemerintah. Perguruan tinggi juga tak mau ketinggalan ikut serta dalam penyelamatan lingkungan. Universitas Sebelas Maret (UNS)  Surakarta adalah salah satu contoh perguruan tinggi yang ikut andil dalam menjaga lingkungan. Dengan tujuan menjadikan UNS sebagai green campus, kampus yang peduli lingkungan, beberapa upaya telah dilakukan. Salah satunya dengan luasnya ruang terbuka hijau (RTH) di Kawasan UNS. Danau UNS yang digunakan untuk sanitasi kampus, bulan ini telah selesai direnovasi. Adanya bus kampus sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan kendaraan motor pribadi. Serta UNS telah menerapkan pembangunan sesuai standar Green Campus dengan pembangunan jalan menggunakan paving dan penerangan menggunakan lampu LED. (uns.ac.id)

Prestasi UNS dalam Bidang Lingkungan

Tahun 2018, UNS menempati peringkat 7 UI GreenMetric The Most Sustainable Campus in Indonesia. UI GreenMetric adalah salah satu program dari Universitas Indonesia. UI GreenMetric menilai universitas berdasarkan komitmen dan tindakan universitas terhadap penghijauan dan keberlanjutan lingkungan. Metode penilaiannya adalah berdasarkan 6 kriteria, yakni setting and infrasctructure, energy and climate change, waste, water, transportation, dan education.

Partisipasi Mahasiswa dalam Mewujudkan Kampus UNS Ramah Lingkungan

Dengan misi mengajak mahasiswa berpartisipasi aktif dalam menjaga lingkungan, tim Green Campus Universitas Sebelas Maret mengadakan lomba mahasiswa tingkat universitas dengan tema Mewujudkan Kampus UNS ramah lingkungan untuk menggali ide-ide mahasiswa dalam bidang lingkungan. Lomba diadakan dalam tiga kategori yaitu karsa cipta lingkungan, penerapan teknologi tepat guna sederhana dan gagasan tertulis. Salah satu pemenang dalam lomba ini adalah tim yang diketuai oleh Uly Wulan Apriani yang mendapat juara 3 dalam kategori karsa cipta lingkungan dengan gerakan Trashmovement.

Trashmovement merupakan gerakan peduli lingkungan yang bergerak dalam mengatasi masalah sampah plastik. Sampah telah menjadi permasalahan yang mendapat perhatian global dalam beberapa tahun ini. Pada 2015 lalu, jurnal Science mengungkap sebuah penelitian bahwa Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia (Kompas.com).

Melalui wawancara dengan kompas.com, Sekretaris Ditjen Cipta Karya Rina Agustin mengungkapkan,
“Masalah sampah adalah masalah perilaku, karenanya diperlukannya perubahan perilaku masyarakat untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya.”

Trashmovement mengkampanyekan penanganan masalah sampah dalam 3 gerakan yaitu:  Trashless gerakan untuk mengurangi pemakaian plastik dengan membawa tas belanja, botol minum dan tempat makan saat bepergian. Yang kedua Growingtrash gerakan mengkreasikan sampah plastik sehingga dapat dipakai lagi. Yang ketiga Trashtalk diskusi tentang green and zero waste life di media sosial atau diskusi publik.

Selain itu, bersama dengan timnya, Syahna Febrianastuti, Elsa Ninda Karlinda Putri dan Uly Wulan Apriani melakukan penelitian material baru penyerap zat warna pada limbah. Penelitian ini mendapatkan dukungan dari Menristekdikti melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Material yang dibuat dari alginate yang berasal dari rumput laut dan Graphene Oxide yang bisa didapatkan dari arang terbukti dapat menurunkan kadar zat warna metilen biru. Zat warna ini merupakan pewarna sintetik non degradable yang sering dipakai dalam pewarnaan kain. Dengan material baru ini diharapkan dapat menjadi solusi penurunan kadar zat warna pada limbah industri kain. Apalagi Solo memiliki banyak industri kain batik rumahan tetapi belum memiliki pengolahan limbah (IPAL) yang baik.

Uly Wulan Apriani

Mahasiswa S1 Kimia UNS

Leave a Reply