Opini

Upaya Edukasi Perilaku Anti Bullying di Era Digital Melalui Dongeng

By 1 November 2019 No Comments

Oleh: Rini Setyowati (1,2), Pratista Arya Satwika (1), Rahmah Saniatuzzulfa (1,2)

(1) Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

(2) Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta

Perilaku bullying merupakan salah satu masalah sosial yang sampai saat ini sering ditemukan di kalangan anak-anak sekolah. Beberapa perilaku bullying seperti mengejek, mengucilkan, mengancam serta menyerang secara fisik maupun verbal menjadi hal yang sering dilakukan sebagian besar anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Terutama pada era digital saat ini dimana anak dapat dengan mudah menemukan tontonan dan contoh perilaku tersebut di sekitar tanpa pengarahan. 

Kasus bullying pada anak, semakin marak terjadi di Indonesia. KPAI (2018) menyatakan tindakan bullying menempati urutan ke-empat dalam kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia. Di tahun 2019, KPAI mencatat bahwa korban kekerasan psikis dan bullying masih tertinggi serta anak korban kebijakan dan kekerasan fisik berada di posisi kedua. Sementara kasus terendah adalah korban pengeroyokan dan kekerasan seksual. Data KPAI juga menunjukkan bahwa mayoritas kasus terjadi di jenjang sekolah dasar (SD). Dari 37 kasus kekerasan di jenjang pendidikan pada Januari hingga April 2019, 25 kasus terjadi di SD, sementara terendah ada di perguruan tinggi sebanyak 1 kasus. Hal ini selaras dengan data yang yang diberikan oleh UNICEF yang menyatakan bahwa 8 dari 10 anak mengalami bullying. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus-menerus. Sedangkan Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) lebih mengerucutkan definisi bullying dalam ranah sekolah. Mereka mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Bullying merupakan kasus yang penting untuk ditindaklanjuti. Kasus bullying dengan pelaku anak memberikan sebuah tanda tanya pada kita, seperti bagaimana seorang anak dapat melakukan kekerasan yang berdampak seburuk itu kepada temannya sendiri. Perilaku bullying dengan anak sebagai pelakunya menggambarkan kemerosotan moral dalam masyarakat saat ini. Kemerosotan moral dapat diperbaiki melalui pendidikan karakter yang di mulai sejak dini (Fitriyah dan Zuchdi, 2014). Salah satu metode pendidikan karakter yang tepat untuk anak-anak adalah melalui dongeng.

Upaya penanggulangan kasus tersebut telah dilakukan dengan berbagai cara untuk membentuk karakter dari siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh semua masyarakat baik guru, orang tua, dan masyarakat umum untuk mencegah bullying adalah dengan menggunakan metode mendongeng. Intervensi ini bertujuan untuk memberikan upaya dalam menanamkan nilai anti bullying dan mengembangkan imajinasi anak melalui kegiatan mendongeng. Target khusus yang diperoleh adalah tertanamnya nilai-nilai anti bullying pada anak-anak TK IT Mutiara Insan Jombor, Sukoharjo melalui dongeng untuk menambah pengetahuan anak mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan dalam pergaulan dengan teman dan interkasi sosial juga dampak dari perlaku yang mereka lakukan.

Menurut Moeslichatoen (2004) kegiatan mendongeng merupakan media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan mendongeng adalah memberikan pengalaman belajar bagi anak untuk berlatih mendengarkan. Melalui mendengarkan, anak memperoleh bermacam informasi tentang pengetahuan, nilai, dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan mendongeng juga memberikan pengalaman belajar sehingga anak-anak mampu mengembangkan potensi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Kegiatan mendongeng juga bermanfaat untuk menggetarkan perasaan dan membangkitkan semangat anak. Kegiatan mendongeng juga membuat anak terlatih untuk memiliki perasaan peka (Elis, 2010).

Bentuk preventif ini memiliki kekhususan yaitu menggunakan pendekatan melalui media dongeng sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak. Pada hari Selasa tanggal 21 Mei 2019 bertempat di TKIT Mutiara Insan Jombor Sukoharjo telah dilakukan kegiatan mendongeng sebagai upaya mengedukasi dan mencegah perilaku bullying oleh tim dan dibantu oleh mahasiswa Prodi Psikologi UNS. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan anak-anak di TKIT Mutiara Insan Jombor Sukoharjo mengenai perilaku yang baik dan tidak baik untuk dilakukan kepada orang lain yang ditunjukkan. Diharapkan hal ini dapat menjadi langkah preventif untuk mencegah terjadinya perilaku bullying kepada sesama teman dalam interaksi sosial mereka. Menggunakan dongeng dengan judul “Sapi yang Baik Hati” kepada siswa TK dimana dalam cerita tersebut terdapat penanaman anti bullying yang dapat diserap nilainya dengan penyampaian cerita yang ada. Dongeng tidak hanya disampaikan dengan lisan saja, tetapi juga menggunakan alat peraga yaitu gambar tokoh sapi, buaya, induk bebek, anak bebek, dan kambing yang ditunjukkan ketika mendongeng sesuai dengan alur cerita dan pemeranan tokoh. Hal ini dimaksudkan agar siswa TK Mutiara Insan Jombor Sukoharjo dapat memahami cerita dengan melihat langsung tokoh yang sedang diceritakan. Kegiatan ini berfokus pada penanaman nilai anti-bullying melalui pendekatan media dongeng pada anak-anak usia dini agar membentuk karakter anak yang mengembangkan nilai dan sikap negatif terhadap kekerasan, resolusi konflik, kerja sama, toleransi pada sesama dan empati. (***) 

Leave a Reply