Sastra, di mana pun dan kapan pun, akan merepresentasikan pertarungan ideologi pada zamannya. Hal ini dikarenakan sastra merupakan lokus dari sebuah ideologi. Dalam pidato pengukuhan Mugijatna sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Kajian Budaya dengan fokus Sastra, hal inilah yang ingin ditunjukkan, di mana pertarungan ideologi akan selalu ada di setiap karya sastra dalam periode-periode tertentu. Pada periode sastra Jawa Baru, muncul pertarungan antara ideologi keagamaan “puritanisme” dengan ideologi keagamaan “kebatinan”. Pertarungan ini muncul karena pandangan Pakubuwana IV yang mengatakan bahwa dalam menunaikan ritual kegamaan, harus berpegang teguh kepada syariat. Sementara di sisi lain, Mangkunegara IV membantah gagasan tersebut dengan mengatakan bahwa yang pantas berada di tanah Jawa adalah “agama ageming aji”. Menurut Mangkunegara, dalam Wedhatama, bagi orang Jawa tidak perlu terlalu banyak mengikuti syariat, melainkan sedikit syariat saja sudah cukup. Pertarungan antara kedua ideologi keagamaan pada periode sastra Jawa Baru ini sangat sengit, dan direpresentasikan dalam Serat Gantoloco yang dianggap oleh banyak pihak merupakan sastra yang vulgar dan kontroversial.

Prof. Drs. Mugijatna, M.Si., Ph.D. saat jumpa pers jelang pengukuhannya sebagai guru besar UNS.

Prof. Drs. Mugijatna, M.Si., Ph.D. saat jumpa pers jelang pengukuhannya sebagai guru besar UNS.

Adapun dalam periode sastra kolonial, muncul pertarungan antara ideologi kolonialisme dengan ideologi anti-kolonialisme. Karya sastra kolonial cenderung menampilkan ideologi kolonialisme yang dilakukan oleh negara-negara Eropa dengan tujuan untuk membudayakan bangsa jajahan yang masih “biadab” sehingga kolonialisme atas negara-negara Timur oleh negara-negara Barat merupakan hal yang sah. Karya sastra semacam ini muncul di Indonesia ketika masa penjajahan Belanda, contohnya adalah “Tjerita Njai Dasima” yang terbit pada tahun 1895 di Batavia, hasil karya Edward W., seorang wartawan Hindia-Belanda. Pasca munculnya karya sastra dengan ideologi kolonialisme, muncullah karya lain yang berbau anti-kolonialisme guna menggugurkan dominasi ideologi kolonial. Contohnya adalah Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli, yang memberi ilham bagi bangsa Indonesia (bangsa terjajah) untuk lepas dari penjajahan dan segera merdeka. Ideologi anti-kolonialisme juga tercermin dalam seni pementasan wayang kulit dimana menggambarkan raksasa yang rakus dan serakah sebagai wong kulonan (orang barat) dan para ksatria dideskripsikan sebagai wong etanan (orang timur).

Dalam sejarah sastra dan budaya modern Indonesia juga pernah terjadi polemik yang berlangsung dari tahun 1935 hingga 1939. Polemik tersebut terjadi karena adanya pertarungan antara ideologi universalisme dan ideologi lokalisme. Awal mula ideologi universal berkembang di Indonesia adalah dengan munculnya karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dengan judul ”Menudju Masjarakat dan Kebudayaan Baru, Indonesia—praeIndonesia”. Menurut STA, unsur-unsur kebudayaan baru Indonesia harus dicari sesuai dengan keperluan kemajuan Indonesia yang dapat mengubah masyarakat nusantara yang selama ini statis, menjadi dinamis. Paham ini kemudian dikembangkan lagi menjadi ideologi yang lebih universal oleh Generasi 45 dipelopori Chairil Anwar yang menyatakan bahwa mereka merupakan ahli waris kebudayaan Indonesia yang tidak memberikan ikatan terhadap budaya Indonesia. Ideologi ini diserang oleh paham realisme sosialis dan lekra yang dipelopori oleh Pramoedya Ananta Toer. Ia mengemukakan bahwa humanisme universal harus dilawan, agar tidak semakin menjadi-jadi.

Setelah masa Orde Lama, kekuatan universalisme semakin besar dengan ditumbangkannya realisme sosialis dan dibuangnya Pramoedya Ananta Toer. Dipimpin oleh Mochtar Lubis, pendukung universalisme mendirikan Horison, majalah sastra yang hegemonik selama era Orde Baru. Hingga akhir tahun 1990-an, liberalisme yang dielu-elukan oleh Generasi 45 semakin ekstrim dengan menggugat tabu perihal seks dan mendemitologi agama. Seolah merupakan counter dari munculnya novel-novel tabu, muncul novel-novel islami yang ditulis dengan pendekatan Islam dan keagamaan.

Kebebasan citra seks dalam sastra merupakan perwujudan liberalisme, sebuah filsafat dan pandangan hidup yang diperjuangkan para pendukungnya menjadi universal. Kebalikannya, anti-citraan seksual dalam sastra Islam merupakan perwujudan ideologi lokalisme, karena berakar dari nilai budaya Islam, yang notabene adalah budaya yang berakar di Indonesia.[] (anggiayu.red.uns.ac.id)

Baca berita pengukuhan guru besar: UNS Kukuhkan Dosen FIB sebagai Guru Besar UNS ke-178