Agus Purwanto, Peneliti Baterai Lithium Pertama Indonesia

UNS – Hati kecil Agus Purwanto terusik kala menyadari hampir semua produk dan komoditas yang dibutuhkan masyarakat Indonesia didatangkan dari negara asing. Bahkan untuk memproduksi sebuah barang, bahan bakunya masih tergantung pada barang-barang impor. Padahal Indonesia diakui sebagai negara yang memiliki kekayaan alam melimpah.

Sebagai seorang ahli Teknik Kimia, Agus pun tergerak untuk menciptakan sumber energi alternatif yang menggunakan bahan baku lokal. Maka dipilihlah baterai lithium-ion sebagai medan juangnya.

“Dulu tahun 2012, ada proyek Molina (Mobil Listrik Nasional). Saya bertugas mengembangkan baterainya karena saya lihat di Indonesia belum ada yang bisa membuat baterai lithium,” kata Agus yang ditemui di kantornya, Senin (21/8/2018) usai menerima penghargaan Academic Leader sebagai Dosen Terbaik dari Kemenristekdikti.

Menurut Agus yang merupakan dosen Fakultas Teknik UNS ini, jika Indonesia ingin bisa memproduksi kendaraan listrik sendiri, maka harus bisa membuat baterai lithium sendiri juga. Sebab, baterai ini merupakan komponen utamanya. Dengan mampu menghasilkan baterai lithium, maka akan mengurangi ketergantungan impor dari negara luar.

Namun masalahnya, ia masih mendapati banyak kelemahan pada baterei lithium di pasaran. Misalnya massanya yang besar sehingga baterai malah menjadi beban kendaraan. “Dari situlah, kami tertarik mendalaminya biar ke depannya baterai semakin ringan sehingga praktis untuk digunakan. Di Indonesia, yang menekuni fabrikasi sel belum ada. Baru kami di tahun 2012,” ungkap pria asal Sragen ini.

Selama 6 tahun, Agus bergulat dengan proyek baterai lithium-ion. Hasil yang tidak sesuai dengan hipotesis, seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi seorang peneliti seperti dirinya. Namun, pria yang masih berusia 43 tahun ini berusaha untuk menikmatinya.

Dalam proyek pengembangan baterai lithium, Agus mencoba untuk menerap ilmunya yang diperolehnya sewaktu menempuh pendidikan S3 di Universitas Hiroshima, Jepang. Ia mengaku mengadopsi budaya organisasi Jepang agar kerjanya lebih produktif.

“Konsep yang saya adopsi piramida terbalik. Dulu saya belajar di Jepang, semuanya pakai piramida terbalik. Jadi yang diujungnya, ada profesor, trus melebar mahasiswa S3, S2, sampai S1. Saya tidak bekerja sendiri, timnya banyak tapi tetap arahannya sama. Kalau begitu, kerjanya lebih produktif karena terarah. Akumulasi pengetahuan juga jadi bertambah. Kalau mau kerja di lab saya, ya harus tentang baterai,” ujarnya.

Dunia baterai seolah sudah melekat erat pada kehidupannya. Agus mengaku memang sudah tertarik dengan baterai sejak remaja. “Saya suka elektronik dari SMP. Lalu berpikir sepertinya asyik menciptakan listrik dari kimia waktu kuliah. Punya visi terus kebawa sampai sekarang,” ujar Agus.

Menurut dia, perkembangan baterai lithium-ion di pasaran akan sangat dinamis. Sudah banyak barang elektronik yang menggunakan baterai lithium, sebut saja seperti laptop dan ponsel. Dan kini, baterai ini tengah dikembangkan untuk kendaraan listrik.

Bekerja sama dengan Pertamina, Agus bersama timnya sudah berhasil menciptakan baterai yang mampu menggerakkan sepeda motor listrik dengan jarak 80-100 kilometer dengan biaya hanya Rp5.000. Satu unit battery pack nantinya memiliki kapasitas 3 kWh untuk motor listrik berkekuatan 5 Kw atau lebih kurang setara dengan mesin motor dengan pembakaran internal berkapasitas 125-150 cc.

Agus memprediksikan kendaraan listrik akan berkembang pesat dalam 2-3 tahun ke depan. Untuk itu, ia akan terus berinovasi menciptakan baterai yang tahan lama, murah dan bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Tanpa berharap lebih, alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini mengatakan hanya ingin ilmunya dapat bermanfaat bagi orang banyak. Humas UNS

By | 2018-08-21T17:24:33+00:00 21 August 2018|Categories: Produk & Penelitian|