Berita TerkiniProduk & Penelitian

Dosen Arsitektur UNS Tekankan Arsitektur Berbasis Kearifan Lokal

By 14 September 2020 No Comments

UNS — Salah satu dosen Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengulas makna bencana gempa yang telah terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Lombok dalam sudut pandang arsitektur. Dr. Kahar Sunoko membahasnya dalam acara webinar Magister Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada Sabtu (12/9/2020) yang diikuti lebih dari 50 peserta kalangan umum.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Kahar yang juga merupakan Ketua Riset Grup (RG) Building Engineering Prodi Arsitektur FT UNS dan anggota Laboratorium Struktur Konstruksi Prodi Arsitektur FT UNS memaparkan materi dengan tema Belajar dari Nestapa Gempa Mulyodadi 2016 dan Gumantar 2018. Pada awal penyampaian, Dr. Kahar menyampaikan kondisi gempa yang terjadi di Mulyodadi, sebuah desa di Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DIY. Pada saat itu, Mulyodadi disapu guncangan gempa sebesar 5,75 SR yang terjadi pukul 05.59 dan membuat kampung Mulyodadi menjadi leseh, yakni semua bangunan runtuh tersapu gempa.
“Leseh itu bangunan fisik tidak ada lagi, tidak tegak, dan runtuh. Maka, mereka menyebutnya leseh. Sesama mereka merasa menjadi tunawisma yang menjadi nestapa setiap orang. Inilah keadaan yang tidak mereka duga,” terang Dr. Kahar.

Dr. Kahar menyatakan bahwa dalam 3 – 7 hari pasca gempa, para korban tinggal di tenda massal. Selanjutnya, mereka beralih ke shelter atau tenda privat yang didirikan di dekat reruntuhan bangunan rumah masing-masing. Pada masa ini, korban membuat tenda seadanya di dekat rumahnya.

Pada hari ke 4 – 17, korban merenung dan dapat menghargai proses masa lalu akan pentingnya rumah sebagai harta yang berharga. Ketika para korban berada di tenda privat yang telah mereka dirikan di dekat rumah, mereka mulai mengumpulkan puing-puing yang tersisa, seperti menngumpulkan puing-puing genteng, bata, dan mebel untuk dimanfaatkan kembali.
“Kurun hari ke 4 – 17 saat berada di tenda privat, mereka memahami reruntuhan sebagai bandha, sesuatu yang berharga dan bermanfaat, maka perlu diupayakan dan dilakukan inventarisasi agar bisa dimanfaatkan kembali,” jelas Dr. Kahar.

Memasuki bulan ketiga, warga mampu membangun rumah masing-masing. Mereka bersinergi dengan keluarga terdekatnya yang berada di desa Mulyodadi. Di situ, mereka menggunakan kembali bahan bangunan reruntuhan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Di sini, mereka masuk pada fase rekonstruksi.

Gempa yang terjadi di Mulyodadi ini mengajarkan beberapa hal yakni gempa memberikan pembelajaran menghormati karya masa lalu walau pun wujud fisiknya sudah tak menentu. Selain itu, gempa juga memberikan motivasi untuk kebangkitan kreativitas berasitektur dan gempa dapat dijadikan kurikulum alamiah lahirnya profil arsitek “arsitektur tanpa arsitek”.

Beralih ke tahun 2018 yakni adanya gempa yang terjadi di Desa Gumantar, Lombok yang melanda secara berturut-turut sejak 29 Juli 2018 hingga 19 Agustus 2018. Dr. Kahar mengatakan bahwa saat itu tidak semua bangunan runtuh, bahkan ada yang tegak seakan tidak terkena gempa saat itu. Bangunan yang masih berdiri tegak tersebut berupa gazebo sederhana yang disebut baruga.

Selama 1 – 7 bulan, keberadaan baruga beralih menjadi tenda privat yang aman dan ekonomis. Dr. Kahar memaparkan bahwa saat itu, masa-masa mengenang histori menjadikan masyarakat merasa gagap membaca nasib yang seakan-akan apa yang diupayakan dengan jerih payah selama ini tidak tersisa, sementara yang tinggal menerima atau mewarisi masih utuh tiada runtuh.

Selama itu, pada masa 1 – 7 bulan, tepatnya pada bulan ke – 3, warga belum melakukan inventarisasi bahan bangunan reruntuhan. Mereka merasa gamang akan reruntuhan yang ada karena semuanya bukanlah material bahan pembangunan baruga, bale gampang, bale panggung, atau pun bale jajar.

Menginjak bulan ke – 7, warga mulai membangun hunian sementara. Mereka mendapatkan bantuan saat itu. Bangunan yang didirikan, mayoritas menggunakan bahan baru.
“Bulan ke – 7, mulai membangun hunian karena bantuan. Kebetulan, ada bantuan dari PMI yang berkoordinasi dengan Tim SAR UNS yang memberi stimulan untuk membangun rumah,” jelas Dr. Kahar.

Dari gempa yang terjadi di Desa Gumantar, Dr. Kahar mengambil beberapa kesimpulan yakni gempa memberikan pemahaman atas kebenaran nilai “kearifan lokal versus nilai “global – prestise”. Juga, gempa sebagai pengingat atas upaya meninggalkan kearifan lokal dan gempa sebagai validasi material alami dan cara kerja struktur – kontruksi alamiah.

Berdasarkan analisis, Dr. Kahar terhadap kejadian 2 gempa tersebut terdapat beberapa kesimpulan yakni gempa meluluhlantakkan hunian tapi lingkungan hunian masih utuh yakni pada fenomena kuasa ilahiyah. Lalu, sikap menghayati histori menentukan sikap spontanitas berasitektur secara mandiri. Selain itu, berasitektur di masa lalu yang berpijak dengan kearifan lokal dapat memberi pelajaran di masa mendatang. Dr. Kahar juga mengutip perkataan Ir. Soekarno pada akhir pembatasan.
“Bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarah. Menghargai sejarah menjadi filter sikap mengejar prestise yang semu,” pungkas Dr. Kahar. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti

Leave a Reply