Durian Semar merupakan salah satu jenis varian durian baru yang dikembangkan oleh Dosen Fakultas Pertanian UNS Endang Yuniastuti. Pengembangan jenis varian durian baru ini bermula dari kecintaan Endang terhadap buah yang memiliki tekstur keras tersebut. Endang yang merupakan peneliti di bidang bioenergi awalnya sekadar mencari alternatif penelitian pendamping untuk mengatasi kejenuhan. Seperti yang dituturkan Endang, setiap peneliti itu pasti memiliki titik jenuh di penelitiannya. Sehingga agar tetap dapat berpikir kreatif, ia mencari alternatif penelitian pendamping di bidang lain yaitu holtikultura khususnya buah durian.

Penelitian ini membutuhkan waktu yang lama. Sejak tahun 2008, Endang sudah melakukan observasi langsung di daerah Gunung Pati, Ungaran, Jawa Tengah. Disana ia menemukan sebuah permasalahan yaitu rasa durian yang tawar padahal buahnya besar-besar dan bagus-bagus. Keadaan yang sama juga ia temukan ketika berada di daerah Karanganyar, Jawa Tengah.

Endang Yuniastuti. sumber foto: news.okezone.com

Endang Yuniastuti. sumber foto: news.okezone.com

Perakitan Durian Semar

Awal penelitian pada tahun 2008, Endang mulai melakukan penelitian pada Durian Sukun di Karanganyar. Durian Sukun merupakan varietas durian dengan biji kempes. Setelah dilakukan analisis DNA, ternyata Durian Sukun merupakan tetua dari Durian Montong. Namun sayang Durian Sukun saat itu buahnya tidak sebesar Durian Montong.

Cara budidaya masyarakat yang masih turun-temurun menjadi salah satu faktor ukuran Durian Sukun yang tak sebesar Durian Montong. Tak adanya peremajaan setelah penanaman pohon juga menjadikan Durian Sukun menjadi kecil dengan rasa yang tak lagi manis. Melihat keadaan tersebut, Endang kemudian mencoba melakukan perakitan. Istilah perakitan dipilih karena ia tidak melakukan penyilangan seperti yang biasa dilakukan oleh peneliti durian lainnya.

Dalam perakitan Durian Semar ini, Endang menggunakan sistem bawor. Sistem bawor merupakan metode dengan cara menambahkan kaki tambahan di bagian bawah pohon. Dengan menggunakan sistem bawor ini membutuhkan akar yang lebih banyak. Sehingga  harapannya sumber hara yang diambil juga lebih banyak.

Awal perakitan ini mulai diimplementasikan, beberapa petani menolaknya. Mereka tidak percaya dengan beberapa inovasi yang dilakukan Endang tersebut. “Awalnya mereka nggak mau. Yah memang seperti itu, inovasi nggak akan mudah diterapkan kalau belum ada bukti,” ujar Endang disela-sela menghadiri rapat.

Akhirnya seiring berjalannya waktu, para petani tersebut menerima inovasi dalam penanaman pohon durian tersebut. Yaitu dengan cara menambahkan 2-5 kaki pada pohon durian. Varian durian lain yang digunakan, diantaranya yaitu Durian Petruk (sebagai ketahanan terhadap penggerek akar), Brongkol dari Ambarawa (sebagai varietas unggul nasional), Sapuan, dan Otong (tetua dari Montong). Dengan sistem bawor ini, rasa yang diharapkan juga lebih manis dari varian durian lainnya.

Prospek Durian Semar

Upaya untuk pengembangan Durian Semar ini, Endang telah menggandeng salah satu pemilik lahan di Kuripan Wonolopo Mijen, Semarang. Nantinya lahan seluas 2 hektare ini akan dijadikan kebun plasma nutfah durian. “Ke depannya potensi pengembangan durian ini masih sangat terbuka, tidak hanya di kawasan Gunung Pati, Semarang. Namun juga bisa di lakukan di daerah lainya,” ungkap Endang. [] (afifah.red.uns.ac.id)

<em>sumber feature image: Huffington Post</em>