Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta  mengembangkan sebuah model penciptaan wirausaha baru di kalangan mahasiswa. Model tersebut merupakan hasil penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 2015. Model penciptaan wirausaha baru yang dikembangkan ini mempunyai lima tahapan, yaitu: 1) publikasi dan sosialisasi program, 2) seleksi, 3) pelatihan dan magang, 4) start-up usaha, dan 5) pendampingan sampai berhasil melakukan usaha.

Eddy Triharyanto (sumber foto: www.krjogja.com)

Eddy Triharyanto (sumber foto: www.krjogja.com)

Penelitian ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam upaya menciptakan wirausaha baru dari kalangan perguruan tinggi (PT) yang pada akhirnya diharapkan bisa mengurangi pengangguran serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini mempunyai sasaran lulusan (PT) maupun mahasiswa, karena masih sedikitnya jumlah lulusan PT maupun mahasiswa yang menjadi pengusaha. “Kalau dilihat sekarang ini, pengusaha kita didominasi yang tidak tamat SD diangka 20 persen, 18 persen tamat SD, 15 persen tamat SMP, sedangkan lulusan perguruan tinggi hanya 5 persen. Artinya, orang yang belajar di perguruan tinggi pikirannya dan pada akhirnya menjadi pegawai negeri atau pegawai swasta. Tidak banyak yang terjun ke dunia wirausaha,” terang Eddy saat ditemui di kantor PPKwu, Senin (30/5/2016).

“Sehingga lulusan Perguruan Tinggi harus berani mandiri untuk menciptakan peluang-peluang usaha baru dari merubah bentuk bahan menjadi bahan yang lain yang mempunyai nilai tambah. Sehingga program penciptaan wirausaha baru di kalangan perguruan tinggi harus didorong,” lanjutnya.

“Membuka usaha itu tidak harus mempunyai modal yang banyak, tidak juga dibatasi usia. Yang terpenting adalah berani untuk mengeksekusi ide Anda, berani mengambil resiko, dan terus belajar.” – Eddy Triharyanto

Pada mulanya penelitian ini diawali dengan mengevaluasi pelaksanaan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, seperti UNS (Universitas Sebelas Maret), UGM (Universitas Gadjah Mada), UNNES (Universitas Negeri Semarang), UB (Universitas Brawijaya), UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), UNDIKSHA (Universitas Pendidikan Ganesha), UNIMA (Universitas Negeri Manado), dan UNSRI (Univeristas Sriwijaya).

Kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan kegagalan mahasiswa peserta PMW. Dalam hal ini budaya juga sangat memengaruhi keberhasilan peserta PMW. “Sudah didapatkan data di tahun pertama bahwa rata-rata PTN sudah melakukan PMW, tapi tingkat keberhasilannya beragam, ada yang hasilnya sudah baik, ada yang hasilnya masih rendah,” terang Eddy.

Terakhir adalah mengembangkan model penciptaan wirausaha baru dari kalangan mahasiswa dan membuat panduan implementasinya. Model tersebut akan dipublikasikan ke dalam jurnal dan diuji. “Ini penelitian dua tahun, di mana tahun pertama adalah untuk pengumpulan data dan perancangan model, sedangkan tahun kedua untuk pengujian model,” terangnya. [azaria.red.uns.ac.id]