Mahasiswa UNS

Batang Pohon Pisang Diubah jadi Kemasan Makanan 

By 4 July 2019 No Comments
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

UNS– Mahasiswa dari Program Studi(Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS)Surakarta awalnya prihatin dengan banyaknya sampah plastik pengemas makanan yang memiliki efek buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Plastik kemasan memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah polystyrene (PS) atau yang lebih dikenal dengan styrofoam. Styrofoam mengandung senyawa kimia styrene yang jika terpapar pada tubuh dapat menimbulkan penyakit kanker. Selain itu, sampah styrofoam juga sangat sulit terurai oleh tanah. 

Oleh karena itu, Syahrul Fatrozi, Linda Purwanti dan Sandra Kartika Sari dengan dibimbing Dr Soerya Dewi Marliyana, M.Si, terinspirasi membuat material yang digunakan sebagai alternatif pengganti styrofoam. Material tersebut terbuat menggunakan bahan alami yang aman dan tidak mencemari lingkungan karena mudah terurai di alam. Material ini disebut biodegradable foam (Biofoam).

Inovasi yang dinamakan Biofoam Starblanter ( Biodegradable Foam from Strach and Banana’s Plant Fiber)merupakan styrofoam dengan bahan dasar kombinasi pati kanji dan Microcrystalline Cellulosa (MC) dari pohon pisang.

Bahan alami yang digunakan dalam pembuatan Biofoam adalah pati kanji. Namum, Biofoam yang dibuat dari pati kanji saja akan mudah menyerap air dan rapuh sehingga perlu ditambahkan bahan serat alam agar diperoleh Biofoam dengan sifat mendekati styrofoam kemasan makanan.

“Untuk bahan serat alamnya, kami memilih batang pohon pisang yang mempunyai kandungan serat yang baik dimana batang pohon pisang memiliki kandungan selulosa sekitar 53-55persen,” ujar Syahrul Fatrozi, Kamis (4/7/2019).  

Lalu kenapa Syahrul Fatrozi  dan timnya memilih batang pohon pisang? Sebab, batang pohon pisang merupakan limbah yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia dan belum termanfaatkan. Sehingga perlu dilakukan pemanfaatan batang pohon pisang yang berfungsi sebagai penguat Biofoam pati kanji.

Metode pembuatan Biofoam Starblanter diawali dengan ekstraksi selulosa dari batang pohon pisang, kemudian selulosa hasil ekstraksi ditambahkan kedalam adonan yang berisi pati kanji dan dicampur dengan air. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam cetakan dan di press mengunakan alat hot press pada suhu 150 derajat celcius.

Keistimewaan dari Biofoam Starblanter hasil inovasi ini mudah terdegradasi di alam sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Selain itu, Biofoam Starblanter ini memiliki sifat tahan panas yang dibuktikan dengan hasil pengujian termal. Humas UNS

Leave a Reply