UNS — Menulis untuk mencerahkan menjadi satu tujuan milik Christianto Dedy Setyawan, Mahasiswa S2 Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) dalam menggeluti dunia kepenulisan. Salah satu perwujudannya adalah esai berjudul ‘Islam yang Murah Hati: Pandangan dari Pengalaman Hidup Warga Non Muslim’ yang memenangkan Lomba Menulis Esai Harlah Gus Dur 2020 gelaran Jaringan Gusdurian, Islami.co, dan Nu.or.id.

Melalui esai ini, Chris membagikan pandangan dan pengalaman pribadinya sebagai pemeluk Katolik perihal Islam. Topik tersebut ia pilih untuk mematahkan stigma yang disematkan sebagian orang soal Islam yang penuh dengan rupa amarah dan hal negatif lainnya.

“Sebagai penganut Katolik saya punya banyak pengalaman hidup di lingkungan umat Muslim. Di esai ini saya memaparkan betapa hangatnya relasi dengan masyarakat Muslim, di mana banyak nilai-nilai filosofi Gus Dur yang turut dihidupi di sana,” ujar Chris kepada uns.ac.id, Jumat (22/1/2021).

Tidak jauh-jauh, salah satu pengalaman yang ia bagikan adalah ketika menemani Sang Ayah mengikuti kenduri bernuansa Islam di desanya. Menurutnya, kenduri di desanya berbicara banyak tentang kehangatan Islam dan sukses merebut animo Chris.

Ketika sesi doa dimulai dan seluruh warga melantunkan doa-doa Islami, ia dan ayahnya tidak ragu membuat tanda salib dan berdoa sesuai tema syukur dari warga yang menggelar. Alih-alih terganggu, para tetangga justru mengapreasiasi Chris dan ayahnya yang bersedia mengikuti kenduri, meski berdoa dengan cara berbeda.

Kehangatan tersebut menepis jauh-jauh paranoid sebutan sebagai kafir yang mungkin dialami oleh masyarakat non Muslim lain. Apa yang pernah ia baca di berita koran tidak terjadi di lingkungannya.

“Sikap ini saya jumpai dalam pemikiran Gus Dur. Sebagai sesama warga yang memiliki keterikatan satu bangsa, jalinan persaudaraan hendaknya tidak dibumbui dengan pelabelan yang berpotensi merenggangkan hubungan baik yang telah terjalin,” ungkap Chris.

Dalam esai tersebut, Chris juga menyinggung dekade di mana ia tumbuh dengan melihat maraknya pemberitaan tentang aneka bom bunuh diri dari teroris yang kemudian mencitrakan Islam sebagai agama yang lekat dengan amarah.

Persepsi di atas mengingatkannya pada tulisan Gus Dur dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela yang membahas kunjungan V.S. Naipaul ke Indonesia tahun 1979. Chris menyinggung pandangan Naipul menyoal Islam penuh kemarahan yang didapati Naipaul dalam kasus Adi Sasono dan insiden berdarah terkait orang-orang komunis pasca tragedi 1965.

Chris berandai, jika saja Naipaul blusukan lebih lama di Indonesia, maka ia akan menjumpai paradigma yang lebih luas tentang Islam. Sebagaimana paradigma yang dibagikan Chris melalui tulisannya.

“Semoga kedepannya kian banyak lomba dan latihan kepenulisan, sehingga banyak anak muda yang mampu menulis secara bijak, elegan, dan mencerahkan,” harap Chris mengakhiri perbincangan. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti