Dua Mahasiswa UNS Raih Peringkat Dua BDC Singapura

Jangan tanyakan apa yang telah kampus berikan untukmu, tetapi tanyakanlah apa yang telah kamu berikan untuk kampusmu. Di saat beberapa mahasiswa terus menuntut dan mengeluh dengan keadaan universitasnya, dua mahasiswa ini berupaya untuk menorehkan nama baik almamaternya di ranah internasional. Ecky Ferry Ferdyan dan Niko Patty, kedua mahasiswa semester empat Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, berhasil meraih peringkat dua di ajang Bridge Design Competition (BDC) yang diselenggarakan oleh Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Ecky Ferry Ferdyan dan Niko Patty peraih peringkat 2 BDC Singapura

Kompetisi tahunan ini berlangsung selama dua hari, sejak tanggal 10 – 11 Maret 2018. Di hari pertama, para peserta merancang desain jembatan dengan menggunakan kayu balsa, sedangkan di hari kedua, para peserta mempresentasikan hasil desain jembatan dan pembebanan jembatan yang telah dibuat pada hari sebelumnya. Tiga wajah negara, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia, turut hadir mengirimkan beberapa delegasinya yang tergabung ke dalam 56 kelompok peserta BDC. Indonesia sendiri mengirimkan tujuh kelompok peserta yang berasal dari beberapa perguruan tinggi, salah satunya UNS.  

Berawal dari info kompetisi yang disebarkan oleh Semar In Action, yaitu komunitas mahasiswa S1 Teknik Sipil Reguler untuk membantu mahasiswa menghadapi perlombaan, dan rasa nekat yang dimiliki oleh keduanya, Ecky Ferry Ferdyan dan Niko Patty mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi tersebut. Meskipun waktu persiapan terbilang singkat, yaitu kurang dari satu bulan, dan surat undangan dari pihak NTU yang baru diterima di dua minggu terakhir menjelang kompetisi, tak menyurutkan keinginan mereka untuk tetap melangkahkan kaki ke Negeri Merlion.

Mereka menamai kelompoknya dengan nama Semar Zoe, ‘Semar’ merupakan singkatan dari ‘Sebelas Maret’ dan ‘zoe’ artinya ‘hidup’ yang diambil dari bahasa Yunani. Harapannya adalah agar Universitas Sebelas Maret dapat hidup namanya di kancah nasional dan internasional lewat kompetisi yang mereka ikuti. Apalagi melihat dari tahun-tahun sebelumnya, BDC sebagai salah satu kompetisi yang cukup bergengsi belum pernah diikuti oleh mahasiswa UNS.

“Lomba ini memang lomba yang cukup besar tapi gak pernah diikuti UNS. Jadi kita modal nekat saja, supaya kita tahu dulu suasana kompetisinya, tapi akhirnya kita mendapat juara dua,” ujar Niko, mahasiswa UNS asal Surabaya.

Miniatur jembatan dengan konsep truss segitiga yang mengambil filosofi dari tokoh pewayangan Indonesia, Trimurti.

Desain jembatan yang dibuat oleh Semar Zoe mengambil konsep truss segitiga oleh James Warren. Ide tersebut mereka dapatkan dengan belajar lebih intens dan berkonsultasi dengan Dr. Senot Sangaji, S.T., M.T. selaku dosen Teknik Sipil UNS. Mereka memilih konsep tersebut karena bentuk dasar segitiga adalah bentuk yang paling stabil untuk menjawab persoalan di kompetisi ini, yaitu membuat jembatan dengan bentang 30 meter, di bagian tengahnya dapat dilalui oleh kapal, panjang jembatan 10 meter, dan tinggi jembatan 7 meter. Selain itu, dengan menggunakan konsep truss segitiga akan menciptakan desain jembatan yang simpel dan mengefektifkan biaya sehingga cocok digunakan untuk membuat jembatan yang dapat dilalui oleh kapal. Intinya, Semar Zoe berinisiatif dan berupaya untuk membuat miniatur jembatan yang kuat, efisien, dan berestetika.

Selain itu, mereka juga menyambungkan filosofi jembatan dengan konsep segitiga ini dengan tokoh pewayangan di Indonesia, yaitu Trimurti, terdiri dari Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu. Tokoh Trimurti melambangkan kestabilan, di mana ada dewa pelebur, dewa pencipta, dan dewa pemelihara. Ketiganya bekerja bersama sehingga dunia yang dibawahinya diharap benar-benar stabil kehidupannya.

“Bisa dibilang kita nekat ikut lomba ini karena sebelumnya kita itu masih semester empat dan belum dapat mata kuliah Jembatan. Jadi kita sebelumnya belajar dulu tentang aplikasi-aplikasi ilmu tentang jembatan, seperti SAP. Kita belajar sendiri sebisanya,” ungkap Ecky, mahasiswa UNS asal Surakarta.

“Intinya UNS itu tidak kalah. Di sana kita menghadapi teman-teman yang penguasaan software-nya banyak, menghadapi teman-teman yang peralatannya cukup banyak dan canggih, dan menghadapi teman-teman semester atas. Tapi sekali lagi, kita bisa, benar-benar tidak ada alasan untuk minder atau tidak percaya diri. Jadi kami mendorong teman-teman untuk tidak malu atau minder dulu sebelum berperang,” terang Niko.

Di hari ulang tahun ke-42 UNS, tepat pada tanggal (11/3/2018) kedua mahasiswa UNS yang menamai kelompoknya dengan sebutan Semar Zoe hadiahkan sebuah kado peringkat dua yang dibawa dari BDC Singapura. humas.red-uns/Zul/Isn

By | 2018-04-02T08:20:53+00:00 April 2nd, 2018|Categories: Mahasiswa UNS|