Gali Cerita Atlet Pencak Silat UNS, Nadia: Pantang Menyerah Kunci Jadi Juara

UNS – Pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga bela diri asal nusantara yang selain dapat melindungi diri, olahraga ini juga dapat melatih konsentrasi. Hal itulah yang melatarbelakangi Nadia Haq Umami Nur Cahyani, mahasiswa jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS) untuk menekuni pencak silat.

Mahasiswi angkatan 2016 ini mengaku bahwa ia mengenal pencak silat sejak masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Hal ini berawal dari seringnya melihat sang ayah yang berlatih pencak silat di rumah.

“Kebetulan Bapak mantan atlet nasional, waktu kecil di tinggal sama Bapak main Sea Games. Bapak sudah mengenalkan pencak silat dari kecil, jadinya saya tertarik,” kenang Nadia.

Gadis yang akrab disapa Nadia ini tak pernah sepi dari gelar juara baik nasional maupun internasional sejak berkecimpung di dunia pencak silat. Sebut saja di Pekan Olaharaga Nasional (PON) 2016 ia mendapatkan medali perunggu, Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2017 mendapatkan medali emas untuk nomor Fighter dan perunggu untuk seni tunggal, ASEAN School Games 2013 di Vietnam mendapatkan juara 2, Kejuaraan Silat Antar Bangsa Feskom 2017 (Malaysia) mendapatkan juara 1, dan yang baru saja diikuti yakni kompetisi UNJ Open pada bulan Mei 2018 ia mendapatkan juara pertama. Gadis asal kota Bengawan ini mengaku tidak ada pilihan lain selain pantang menyerah dan berlatih keras untuk menjadi juara.

“Latihan rutin dari Senin sampai Sabtu. Dua sesi, sore sama malam. Satu sesi itu sekitar 2 jam,” terang Nadia.

Lebih jauh, Nadia menyatakan bahwa dari sekian banyak perlombaan yang ia ikuti, PON adalah perlombaan yang paling berkesan untuk Nadia.

“Soalnya itu ajang paling bergengsi di Indonesia. Kan PON itu untuk dewasa, dari usia 17 hingga 35 tahun. Selain itu di PON yang maju itu mantan atlet-atlet pelatnas, jadinya berasa pertandingan bergengsi banget,” ungkap Nadia.

Ayah sebagai Sumber Inspirasi
Nadia mengaku bahwa Ayahnya lah yang menjadi sumber inspirasi di dunia pencak silat.

“Yang melatih Nadia dari kecil itu ya Bapak. Bapak baru melepas Nadia latihan baru waktu kuliah. Selama masih pelajar dulu, Bapak yang terus melatih saya,” ungkap gadis kelahiran 12 Agustus 1998 ini.

Nadia pun selalu mengingat pesan yang Ayahnya tanamkan sejak masih kecil.

“Kalau misalnya di pertandingan kalah, jangan menyerah dan menangis. Kalau kalah tidak boleh menangis. Kalah harus introspeksi diri. Kalau menang ya jangan sombong,” tutup Nadia. humas-red.uns/Ref/Dty

By | 2018-06-13T17:09:42+00:00 June 13th, 2018|Categories: Mahasiswa UNS|