Pendidikan yang baik adalah yan g menyenangkan waktu kecil dan mengasyikkan setelah dewasa, karena ilmunya memanggil lebih jauh untuk mengerti dan mendalami. Dewasa ini, Panggilan ijasah lebih kuat dari panggilan ilmu, inilah yang membuat dunia kita menjadi palsu. Bagaimana mengurangi dan mengatasi hal ini, dengan kata lain supaya anak anak belajar demi pangilan hati, lebih ikhlas atau profesional”. Harapan Prof. Bambang untuk dunia pendidikan Indonesia, supaya anak-anak belajar demi panggilan hati, lebih ikhlas atau profesional.”

Lahir dan tumbuh di Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, sejak kecil Prof. Bambang sudah dekat dengan dunia pendidik, kakenya seorang Kepala Sekolah Dasar dan setelah pensiun jabatan Kepala Sekolah dilanjutkan oleh ayahnya. Kala itu seorang berprofesi sebagai guru secara sosial tinggi tetapi secara ekonomi tidak, terlebih lagi Prof Bambang memiliki 8 saudara dari ayah dan 10 saudara dari ibu. Hidup di kota kecil seperti Pacitan membuat perjuangan Prof. Bambang tumbuh dewasa jelas tidak semudah anak-anak yang tinggal di kota besar. “Masa kecil saya terbentuk dari pengalaman pedesaan yang tandus, sulit air, dengan fasilitas hiburan yang minim, tentu tidak ada televisi, dan radio kurang baik menerima siaran. Hiburan yang saya nanti nantikan adalah wayang kulit jika ada acara pernikahan untuk itu sanggup berjalan sepuluh kilo- meter, dan juga stand 17 agustus yang menampilkan sandiwara atau wayang orang dari berbagai desa”, kisahnya mengenang.

Masa-masa SMA pun dilalui tidak lebih mudah. Jarak sekolah dari rumah sejauh 25 km memaksa untuk mencari kamar kost, namun untuk menghemat, tahun pertama dan kedua Prof. Bambang tinggal di sebuah rumah kosong yang tidak berlampu dan memasak sendiri menggunakan kayu bakar. Setelah lulus SMA keinginan untuk terus mencari ilmu mendorongnya hijrah ke Solo. Di kota ini Bambang mulai mengembangkan bakat menulisnya dan sempat menjadi penulis puisi dan cerita pendek untuk koran Yud ha Minggu dan Majalah Hai.

Dari Gaplek hingga Nasi Beras

Tahun 1977 laki-laki yang lahir pada tanggal 24 Desember 1956 ini memulai hari-harinya sebagai mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Selama menjadi mahasiswa Prof. Bambang aktif di berbagai organisasi seperti DPM, senat ,Organisasi Mahasiswa Islam dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Lulus tahun 1984, Prof. Bambang mengaku masa kuliahnya tidak seberat yang dilaluinya ketika SMA. “Selama kuliah di UNS saya ikut keluarga bulik secara gratis, sehingga kesulitan ekonomi (baca kebutuhan makan), kurang saya rasakan sebagaimana saat SMA di Pacitan. Tahun tahun ini membawa saya beralih dari makan gaplek ke nasi beras”, aku lelaki yang saat ini menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Sejak tahun 1984 ia bekerja menjadi tata usaha di UMS dan mulai menjadi dosen pada 1986. Pada tahun 1987 hingga 1989 Ia dikirim untuk melanjutkan pendidikan Master (S2) ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kemudia langsung diangkat menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UMS pada usia 33 tahun. Dan pada tahun 1992 diangkat menjadi Wakil Rektor UMS. Tahun 1996 Ia kembali kuliah di UGM untuk menyelesaikan pro- gram Doktor (S3) dan mengikuti program sandwich 1 semester di Monash University Australia. Gelar Doktor berhasil diraih pada tahun 2001 dan dua tahun kemudian Ia memperoleh anugerah jabatan Profesor dari Menteri Pendidikan kala itu Prof. Abdul Malik Fajar, M.Sc. Dari tahun2001 sampai 2004 beliau menjabat sebagai Direktur Program Pasca Sarjana di UMS dan mulai tahun 2005 hingga sekarang menjadi Rektor UMS untuk ketiga kalinya.

Sebagai Rektor Prof. Bambang Setiaji telah berhasi l mengembangkan sumber daya manusia dengan memberangkatkan dosen-dosen UMS ke studi lanjut ke luar negeri sebanyak 15 persen dengan target 25 persen sampai 2016. Membuat dana pensiun bagi dosen dan lembaga dana abadi yang dkembangkan untuk membantu sekolah dan rumah sakit di lingkungan Muhammadiyah seluruh Indonesia. Melakukan kerja sama double degree dengan tiga program studi dengan universitas di Inggris. Prof Bambang juga berhasil membawa UMS pada posisi yang baik dan dikenal di lingkungan dunia pendidikan tinggi di Indonesia, sesuai dengan cita-citanya sebagai rektor “saya hanya ingin membawa universitas ini maju, tempat belajar yang baik bagi ummat, berkualitas, riel, bukan tipuan, diakui oleh masyarakat internasional bahwa keilmuan kita juga stan- dard. Semunya itu untuk memajukan generasi muda. Impian saya adalah impian seorang guru”.

Bekerja keras, jujur dan jangan berkhianat adalah kiat sukses yang selama ini dianut oleh Rektor sekaligus penulis yang telah menerbitkan 5 buku ini. Kehidupan masa kecilnya telah menempa dirinya menjadi pribadi yang pantang menyerah hingga sampai pada kesuksesan karirnya sejauh ini. Masa kecilnya juga telah menempa dirinya menjadi pribadi yang sederhana dan tetap membumi. “Saya kira kalau dianggap berhasil diri saya ini perpaduan dari riyadoh (jalan hidup), faktor lucky, dan pengaruh lingkungan,terutama ulama Muhammadiyah yang sederhana, bersih, ikhlas, dan tawadu”, ungkap Prof. Bambang Setiaji.[]