Kembangkan Alat EM SIAB, Ratih Rahmatika Siap Bersaing di Ajang Mahasiswa Berprestasi Nasional

UNS – Program mahasiswa berprestasi atau yang sering dikenal dengan sebutan mawapres merupakan salah satu program bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) sebagai sebuah penghargaan bagi mahasiswa teladan dari semua perguruan tinggi dibawah DIKTI.

Ratih Rahmatika, mahasiswa semester 6 program studi Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) mewakili UNS dalam ajang mahasiswa berprestasi Nasional tingkat sarjana.

Ratih Rahmatika, mahasiswa semester 6 program studi Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) ini berkesempatan mewakili ajang mahasiswa berprestasi Nasional tingkat sarjana setelah karya tulisnya yang berjudul “Energi Monitoring dan Siaga Air Bersih (EM SIAB)” lolos dan berhasil melewati beberapa tahap seleksi yang meliputi seleksi tingkat program studi, seleksi tingkat fakultas dan seleksi tingkat universitas.

Mahasiswa asal Karanganyar ini menjelaskan bahwa alat dan aplikasi EM SIAB bermanfaat untuk memonitoring kualitas dan distribusi air bersih berbasis Internet of Thing secara real time selama 24 jam.

Energi Monitoring dan Siaga Air Bersih (EM SIAB), sebuah alat dan aplikasi berbasis Internet of Thing untuk memonitor kualitas dan distribusi air bersih serta merecycle ulang otomastis secara real time selama 24 jam.

Sistem ini merupakan pengembangan dari alat yang sudah Ratih perkenalkan dan pernah menjuarai salah satu kompetisi sebelumnya. Namun, pada ajang mawapres kali ini Ratih menciptakan satu inovasi baru yaitu sistem recycle otomatis yang sudah diatur berdasarkan standar kualitas air dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ketika alat mendeteksi adanya ketidakseimbangan PH, kekeruhan dan suhu. Alat ini pernah diuji-cobakan pada lima hingga sepuluh sampel air dari Sungai Bengawan Solo.

Tentu saja keberhasilan Ratih ini tidak lepas dari berbagai kendala seperti kegagalan pada uji coba yang berulang, mencari koding dan referensi, materi yang belum diajarkan di kelas sehingga harus mengikuti beberapa pelatihan, dan kerusakan atau kebakaran alat. Selain itu, bantuan dan dukungan dari dosen pembimbingnya, Eri Andriyanto, Ratih mampu melaju hingga di tahap ini.

“Awalnya sering ikut organisasi, hal itu menjadikan kita pribadi yang peka terhadap lingkungan dan berinisiatif untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan ilmu yang kita dapat di program studi. Dengan apliaski dan alat ini, harapannya mampu memantau ketersediaan air bersih di Indonesia dan mengatasai krisis air bersih di daerah pedalaman,” ungkap Ratih di akhir wawancara. humas-red.uns.ac.id/Ath/Isn

By | 2018-04-21T08:30:56+00:00 21 April 2018|Categories: Mahasiswa UNS|