“Jadilah oase pengetahuan yang menjadi persinggahan orang-orang yang haus, jadilah joglo untuk menjadi tempat berteduh dan berkebudayaan.”

Berani. Itulah kiranya sosok Wahyu Susilo. Berangkat dari Nol hingga mencapai kesuksesan yang telah menjadi target hidupnya. Siapa sangka Wahyu yang dibesarkan di tengah keluarga kurang mampu, sang ayah tukang becak dan sang ibu yang tak bisa baca-tulis, terus berlari untuk menjadi kebanggaan keluarga.

Sekitar 25 tahun yang lalu, Universitas Sebelas Maret menjadi tujuan lelaki asli Wong Solo yang lahir 3 November 1967. Wahyu menempuh kuliah di jurusan Ilmu Sejarah termasuk Fakultas Sastra yang terus haus akan ilmu pengetahuan. Tak ayal Wahyu menjadi mahasiswa yang ‘bukan’ mahasiswa jurusan. Tak hanya sejarah yang ia tahu dan ia pahami karena itu jurusannya. “Semasa kuliah saya sering ‘mencuri pengetahuan’ di semua jurusan yang ada di Fakultas Sastra UNS. Cakupan studi yang ada di Fakultas saat itu sangat luas mulai sastra, linguistik, sejarah yang termasuk ilmu-ilmu sosial dan apresiasi seni rupa, itu adalah kekayaan Fakultas Sastra. Dan saya meminati semua bidang tersebut. Meskipun saya kuliah di Sejarah, tetapi saya sering ikut ,nyolong-nyolong, kuliah di jurusan sastra dan senirupa. Selain itu, kehidupan dan dinamika kemahasiswaan di Fakultas Sastra UNS sangat aktif sehingga menjadi dinamisator kehidupan mahasiswa di UNS.” Cerita aktivis ini tentang masa kuliahnya yang haus ilmu.

Dulu, kala ia masih duduk di bangku SMP, ayahnya selalu menyisihkan uang untuk beli koran. Itu lah yang membuat anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku bertambah wawasan kala itu dan selalu ingin terus menambah wawasan.

Saat berada dalam naungan gedung Fakultas Sastra dan Seni Rupa, lelaki yang mulai ber-aktivisme sejak 1989 ini enggan untuk hanya berkutat dengan diktat kuliah. Sejak semester I, ia aktif di beberapa kegiatan mahasiswa, seperti Kelompok Studi dan Pers Mahasiswa. Namun Wahyu tidak berminat untuk ikut organisasi mahasiswa ekstra kampus (kelompok Cipayung) tetapi ia malah membangun inisiatif baru organisasi mahasiswa berbasis kepedulian sosial (Ikatan Mahasiswa Solo) yang mengartikulasi dukungan mahasiswa terhadap kepentingan masyarakat Solo dan sekitarnya saat itu.

Kegiatan aktivismenya mulai meningkat saat berstatus mahasiswa. Bersama teman-teman mahasiswa Fakultas Sastra UNS yang lain, lelaki yang suka berburu kuliner ini berupaya membangunkan kembali pergerakan mahasiswa Solo. “Saya berupaya membangun kembali pergerakan itu yang pada awal tahun 80-an tenggelam karena trauma peristiwa anti Cina tahun 1980-an. Padahal dalam perspektif historis, Solo adalah salah satu urat nadi pergerakan Indonesia sejak masa kolonial. ” ungkapnya.

Tahun 1989, pencinta musik campur sari ini memulai aktivismenya di Komite Solidaritas Korban Pembangunan Waduk Kedung Ombo. Aktivismenya membela baruh migran secara resmi dimulai pada tahun 1996 dengan Solidaritas Perempuan, sebelum mendirikan Kopbumi, kemudian Migrant Care. Sejak tahun 2004, ia bekerja sebagai Project Officer MDGs di Internasionak NGO Forum in Indonesia Development (INFID) dan mengajar mata kuliah Buruh dan Hubungan Industrial di Fakultas Ilmu Administrasi Unika Atma Jaya Jakarta sejak 2005 lalu.

Adik dari Wiji Tukul ini melakukan pembelaan terhadap hak-hak buruh migran yang merupakan bagian perjuangannya untuk Wiji Thukul. Dalam sebuah surat kabar Kompas, lelaki yang gemar travelling ini mengungkapkan hilangnya sang kakak sebagai penyair rakyat yang pal-ing berani menentang kekejaman rezim Orde Baru sejak Agustus 1996 sebagai buron ini adalah sebuah simbol perjuangan mencari keadilan.

Ilmu tentang kehidupan yang tidak mudah dan penuh risiko ini Wahyu jalani hingga sekarang, terutama ilmu-ilmu kemanusiaan. Visinya dalam bekerja adalah menjadi bagian dari perubahan dunia yang lebih baik bagi kemanusiaan. Melalui ilmu dari hati nurani tentang kemanusiaannyalah ia mendapat penghargaan Hero Acting To Eng Modern Slavery Award from US State Department, June 2007 dan Youth Asia Idol’s Asia News Net-working, Januari 2008.

Menulis juga menjadi hobi yang kini juga profesi. Lelaki yang melepaskan status mahasiswa tahun 1994 dan lanjut studi S2 Ilmu Politik di Univer-sitas Indonesia ini telah menggoreskan karyanya bersama Endang Susilowati dalam buku Hidup dalam Kekerasan, Realitas Buruh Migran Perempuan NTB. Dan kini ia tetap menulis dan terus berkarya sembari terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Bersama organisasinya, Migrant Care, ia secara aktif melobi Pemerintah Indonesia untuk menemukan burug migran yang hilang di negeri orang.

Lelaki yang penuh inspiratif ini pun berpesan pada mahasiswa UNS. “Semasa mahasiswa jangan hanya berkutat dengan diktat kuliah dan mengejar nilai, tetapi beraktivitaslah dalam kegiatan kemahasiswaan. Ingat, status kemahasiswaan adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang, oleh karena itu sejak mahasiswa harus mampu membagi pengetahuan dan kepedulian untuk mereka yang membutuhkan. Manfaatkan segala “kemewahan” semasa mahasiwa: pengetahuan dan pengaruh untuk kemajuan masyarakat.” [Esti]