UNS — Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode Januari–Februari 2021 secara daring dan luring tidak mengurangi kreativitas mahasiswa dalam merancang program kerja yang sesuai dengan desa sasaran. Misalnya seperti yang dilakukan oleh tim KKN UNS Kelompok 78 di Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen yang mencanangkan program kerja dalam memberdayakan masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Potensi produksi kain tenun goyor yang melimpah di Desa Sambirembe dapat dikembangkan hingga ke akarnya. Pasalnya, kain tenun yang tidak lolos quality control atau reject seringkali dihargai rendah oleh pembeli bahkan dikembalikan ke penenun. Oleh karena itu,  tim KKN UNS Kelompok 78 mengadakan kegiatan sosialisasi branding dan pemasaran kain tenun goyor  pada Sabtu (20/2/2021).

“Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian cipta karya tenun goyor yang dilaksanakan pada Minggu sebelumnya. Kegiatan tersebut merupakan pelatihan pemanfaatan kain tenun goyor menjadi produk pouch bag. Program kegiatan tersebut dilaksanakan dengan kolaborasi bersama penenun dan penjahit yang tergabung dalam kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta karang taruna Desa Sambirembe,” terang Raka Nenggala Sukma, Ketua Tim KKN UNS Kelompok 78.

Sementara itu, pemateri branding produk, Dinna Devina Ardelia Putri mengatakan bahwa upaya branding sangat penting karena akan menjadi image yang dipandang oleh orang lain ketika mendengar nama produk tersebut.
“Kita bisa melakukan branding misalnya dengan logo. Jadi, ketika kita membuat logo untuk produk itu harus ada dasar dan filosofinya,” ujarnya.

Branding ini juga sebagai salah satu upaya dalam mengenalkan kain tenun ke pasar nasional sebagai pangsa pasar yang lebih luas. Selain itu, branding terhadap hasil produk juga dapat dilakukan salah satunya dengan membuat pouch menggunakan kain-kain yang tidak lolos uji kualitas.

“Kain tenun menjadi masalah ketika tidak bisa disetorkan dan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Kain tenun yang demikian, tentu membuat penenun perlu mengganti rugi bahan pintalan benang yang dipakai. Apabila kain tenun reject dialihfungsikan sebagai produk jadi, hal tersebut bisa menjadi penunjang ekonomi meskipun hanya tergolong pendapatan sampingan,” jelas Raka.

Dengan diadakannya acara pelatihan cipta karya kain tenun goyor diharapkan kelompok PKK Desa Sambirembe dapat memanfaatkan tenun goyor yang tidak lolos uji kualitas (reject) menjadi produk jadi yang memiliki label tersendiri. Begitu juga dengan karang taruna yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memasarkan produk-produk dari tenun goyor.

“Pemanfaatan kain tenun menjadi produk jadi, berpotensi mengangkat perekonomian masyarakat di masa pandemi. Selain itu, pemasaran melalui media daring seperti e-commerce dapat meningkatkan nilai tenun goyor agar lebih dikenal masyarakat,” pungkas Raka. Humas UNS

Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti