Ubah Limbah Jadi Beton Ringan, Mahasiswa UNS Raih Penghargaan Kompetisi Rancang Bangun 2019

UNS – Dua tim mahasiswa D3 Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses mendominasi penghargaan dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2019 yang diselenggarakan di Universitas Udayana, Denpasar, Bali pada  Jumat (22/02/2019). Mereka adalah Tim Alfayiz dan Tim Jaladara. Kedua tim tersebut berhasil merebut gelar juara kedua (Tim Alfayiz) dan ketiga (Tim Jaladara) dalam ajang cipta inovasi beton kuat, ringan dan minimum penggunaan semen.

Beton ciptaan mereka menjadi salah satu yang terbaik di antara 48 tim dari seluruh universitas di Indonesia yang berkompetisi. Tim Alfayiz yang terdiri dari Muhammad Faqih Ghozali, Nihayatus Sailir Rohma, dan Retno Trica Maharani menawarkan inovasi pembuatan beton ringan menggunakan limbah berupa genteng, hebel (bata ringan), cangkang telur dan abu sekam padi dalam campuran beton.

Faqih menerangkan,  timnya menggunakan genteng, hebel dan penambahan serbuk cangkang telur serta abu sekam padi dalam campuran beton karena limbah tersebut memiliki kandungan yang baik dalam pembuatan beton. “Limbah genteng sebagai pengganti kerikil, hebel atau bata ringan sebagai pengganti pasir, sementara serbuk cangkang telur dan abu sekam padi sebagai pengganti semen,” papar Ketua Tim Alfayiz Faqih saat dihubungi Kamis (1/03/2019).

Dia menambahkan, penggunaan limbah-limbah tersebut dalam pembuatan beton ini juga berguna untuk mengurangi permasalahan lingkungan hidup karena biasanya material tersebut hanya dibuang begitu saja.

Dengan penggunaan material itu, beton ciptaan mereka menjadi lebih ringan tetapi tetap memiliki kuat tekan yang lebih tinggi dibanding beton konvensional. Disebutkan Faqih, saat berumur 3 hari, beton mereka memiliki berat 9,5 kg dengan rata-rata kuat tekan 15,93 MPa. Kemudian saat berumur 7 hari, berat beton bertambah menjadi 9,6 kg dengan rata-rata kuat tekan 25,04 MPa. Karena beratnya ringan, Faqih lanjut mengatakan beton karya mereka cocok untuk pengaplikasian plat lantai karena dapat mengurangi beban tanah.

“Biasanya berat beton biasa bisa mencapai 15 kg. Beton kami lebih ringan sehingga mengurangi berat struktur bangunan dan dapat mengurangi ukuran pondasi karena beban yang ditampung lebih kecil. Beton ringan juga dapat menekan biaya pembuatannya,” jelasnya.

Sementara Tim Jaladara yang terdiri atas Rezal Muis Pratomo, Farizka Alriansyah dan Naimatun Mutmainah, menciptakan beton ringan dengan bahan campuran cangkang keong dan fly ash (abu terbang). Fly ash merupakan limbah dari pembakaran batu bara yang dipakai sebagai sumber energi dalam tenaga pembangkit listrik.

Muis menerangkan, cangkang keong dijadikan serbuk terlebih dahulu sebagai pengganti sebagian semen. Cangkang keong diketahui memiliki senyawa Kalsium (Ca) sebesar 93 persen dan 43 persen untuk penyusun semen. Kemudian baru ditambahkan, fly ash tipe C yang memiliki kandungan silika dan kalsium cukup tinggi.

Mereka juga memanfaatkan limbah keramik sebagai pengganti agregat kasar dalam campuran  pembuatan beton karena memiliki berat jenis lebih kecil daripada kerikil dan nilai abrasinya rendah. Ditambahkan juga abu apung sebagai pengganti parsial agregat halus.

“Bahan-bahannya sangat mudah dicari. Misalnya keramik, di Surakarta, ada 64 home industri keramik yang setiap harinya paling tidak menghasilkan limbah keramik mencapai 1 meter kubik (m3),” ujarnya.

Adapun hasilnya, pembuatan beton dari tim Jaladara dapat menghemat semen antara 10-20 persen. Sedangkan, kuat tekannya sebesar 40kN pada umur 4 hari dan berat 10,2 kilogram (kg).  “Keunggulan beton kami yaitu biaya relatif lebih murah dari beton biasa karena memanfaatkan limbah daerah yang ada. Kira menghemat biaya pembuatan sekitar 10 persen,” ungkapnya.

Dengan adanya inovasi beton ciptaan mereka, kedua tim berharap dapat berkontribusi dalam mengatasi permasalahan limbah yang masih momok bagi Indonesia.  “Kami bersyukur kepada Allah Swt, karya kami dapat bermanfaat untuk Indonesia dalam mengurangi limbah. Harapannya, semoga dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur ke depannya,” pungkas Faqih. Humas UNS/Mia

By | 2019-03-02T10:30:09+07:00 02 March 2019|Categories: Mahasiswa UNS|