Search
Close this search box.

4 Pemuda Inspiratif Ramaikan Panggung Anak Muda

Bedah buku "Lautan Langit" bersama dengan Kurniawan Gunadi pada hari Minggu (25/10/2015).
Bedah buku “Lautan Langit” bersama dengan Kurniawan Gunadi pada hari Minggu (25/10/2015).

Selasar SABS menggandeng FOLIA (Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Pertanian UNS), KSP (lembaga riset Fakultas Hukum UNS), dan Griya Schizofren gelar Bedah Buku dan Diskusi Karya pada hari Minggu (25/10/2015) bertempat di Ruang Seminar NHIC (Nurul Huda Islamic Center) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Selasar SABS merupakan komunitas yang berisikan orang-orang yang ikut membantu Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS).

Dengan mengusung tema “Pemuda Menginspirasi, Panggung Inspirasi, Pemuda dengan Karya”,acara ini menghadirkan 4 pembicara yang masih masuk kategori usia muda yang menghasilkan karya, baik dalam bentuk karya tulisan, maupun berupa social movement. Mereka adalah Kurniawan Gunadi (author Lautan Langit dan Hujan Matahari), Jefri Nur Arifin (Kepala Sekolah SABS), Nur Saudah Al Arifa Dhanur(founder Gadjah Mada Mengajar), dan Triana Rahmawati (alumni UNS sekaligus founder Griya Schizofren).

Menurut penuturan Anam Lutfi, selaku penanggungjawab acara, dengan adanya acara ini bisa mengedukasi, menginspirasi, dan bermanfaat bagi peserta. Selain itu, sebagian dana yang terkumpul dari acara ini akan disumbangkan untuk membantu meningkatkan infrastruktur di Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS).

Nur Saudah Al Arifa Dhanur, founder GadjahMada Mengajar.
Nur Saudah Al Arifa Dhanur, founder GadjahMada Mengajar.

Pada sesi dialog karya, setiap pembicara menceritakan kisahnya. Nur Saudah misalnya, bermula ketika berada di bangku kuliah, dia merasa bahwa waktunya banyak dihabiskan di kampus sebagai seorang mahasiswa dan juga seorang aktivis, bukan di rumah. Padahal salah satu mimpinya adalah bisa membaktikan diri ke kampung halamannya di Wonosobo. Akhirnya, dia menggagas Gadjah Mada Mengajar beserta teman sedaerahnya, sehingga mimpinya bisa terwujud dan merubah kampung halamannya menjadi lebih baik. Hingga saat ini Gadjah Mada Mengajar sudah menjalin berbagai relasi dan mempunyai relawan yang juga berasal dari daerah Wonosobo. “Saya memang sengaja memilih relawan yang berasal dari Wonosobo saja agar semakin banyak orang Wonosobo yang tidak melupakan kampung halaman dan bisa membaktikan diri ke kampung halamannya,” tutur Nur Saudah.

Di akhir sesi diskusi karya, Triana menyampaikan pesan, “Jadilah orang yang bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita dengan cara kita sendiri. Meskipun itu hanyalah hal yang kecil dan sederhana, tapi yakinlah, Allah akan membalasnya dengan lebih.”[](afifah.red.uns.ac.id)

Scroll to Top
Skip to content