Search
Close this search box.

Angka Sindrom Baby Blues di Indonesia Tinggi, Begini Tanggapan Dosen Psikologi UNS

UNSBadan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan 57 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues atau depresi pasca melahirkan. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kasus baby blues tertinggi di Asia, dikutip dari Antara (13/6/2024).

Baru-baru ini kembali disoroti kasus penganiayaan yang diduga merupakan dampak dari sindrom baby blues. Seperti apa sebenarnya sindrom baby blues itu? Bagaimana cara mengatasinya?

Dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Berliana Widi Scarvanovi, M.Psi. memberikan tanggapan mengenai kasus baby blues di Indonesia. Berliana menyampaikan bahwa baby blues adalah sebuah hambatan pada ibu yang baru saja melahirkan, biasanya dalam kurun waktu dibawah dua minggu. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh perubahan hormon yang signifikan dari saat mengandung hingga melahirkan, juga adaptasi perilaku dan kebiasaan.

“Dikatakan seorang ibu mengalami baby blues ketika merasakan tantangan yang lebih besar daripada ibu-ibu yang lainnya, menyebabkan perasaan sedih, cemas, hingga menyalahkan diri sendiri. Misalnya, ibu dengan sindrom baby blues akan terganggu apabila melihat bayinya menangis, Ia akan merasa tidak berguna dan menyalahkan diri sendiri. Pada kasus yang berat, sindrom ini dapat menyebabkan ibu menyakiti diri sendiri hingga bayinya,” tutur Berliana saat dihubungi uns.ac.id, Jumat (14/6/2024).

Sejalan dengan data dari BKKBN, Dosen Psikologi FK UNS tersebut menjelaskan bahwa kondisi baby blues sebenarnya sering terjadi. Umumnya tidak memerlukan penanganan ahli karena dalam kurun waktu dua minggu ibu dan bayi masih berada di bawah pantauan tenaga kesehatan. Namun apabila gejala tidak hilang setelah beberapa minggu atau malah terasa memburuk, seorang ibu mungkin menderita postpartum depression atau yang disebut depresi pasca melahirkan.

“Wajarnya dalam waktu dua minggu, jika perasaan ibu tervalidasi dengan dukungan dari orang terdekat dan lingkungan maka kondisi baby blues akan membaik seiring berjalannya waktu. Namun jika lingkungan tidak mendukung kondisi ibu untuk mengatasi situasi adaptasi tersebut, baby blues dapat berkembang menjadi postpartum depression. Kondisi tersebut yang membutuhkan penanganan ahli,” tambah Berliana.

Berliana juga menjelaskan bahwa orang tua baru harus mempersiapkan dengan baik kehidupan pasca melahirkan, seperti mengetahui adaptasi yang dialami ibu setelah melahirkan dan sejauh mana dukungan yang harus diberikan oleh suami serta orang disekitar. Langkah tersebut dapat meminimalisir perasaan tidak nyaman yang menyebabkan sindrom baby blues atau depresi pasca melahirkan berkembang pada ibu.

Humas UNS

Reporter: Annisa Fakhira

Redaktur: Dwi Hastuti

Scroll to Top
Skip to content