UNS — Setiap orang pasti pernah mengalami insecure. Mengutip situs kesehatan alodokter.com, insecure adalah perasaan cemas, tidak mampu, dan kurang percaya diri yang menimbulkan perasaan tidak aman.

Apabila seseorang mengalami insecure, ia mudah merasa cemburu, selalu menanyakan pendapat orang lain tentang dirinya, dan justru berusaha memamerkan kelebihannya.

Insecure paling sering dialami oleh mereka yang berusia 18-25 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan juga dialami oleh orang-orang yang berada di atas usia itu.

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang merasa insecure, salah satunya adalah gangguan mental. Hal ini mengakibatkan seseorang menjadi depresi dan mengalami gangguan makan, kecemasan, paranoid, dan narsistik.

Selain itu, faktor insecure lainnya adalah pengalaman traumatik yang diidap seseorang karena pernah gagal membina hubungan, ditinggal mati sosok yang disayang, dipecat dari pekerjaan, atau tekanan dari orang tua.

Karena dampak yang ditimbulkan dari insecure dapat membahayakan, pakar psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA, mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar mampu mengidentifikasi dirinya.

Identifikasi diri yang dimaksud Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA adalah kemampuan untuk mengetahui kapan perasaan cemas, rendah diri, atau tidak enak karena insecure muncul pada dirinya.

Apabila sudah mengetahui kapan gejala-gejala insecure muncul, ia menyampaikan, perlu dicoba dengan melatih diri sendiri untuk menghadapi perasaan cemas, rendah diri, atau tidak enak.

“Kita berlatih terus menerus dan lebih sering. Dan, kalau seumpamanya copy strategy, ibaratnya kita menemukan kunci dan rumah baru. Dan, seumpamanya kita bingung mau pakai kunci yang mana, tapi kita mencoba maka kita mulai jadi tau,” ujar Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA pada Jumat (9/7/2021).

Cara lain yang dapat dilakukan seseorang untuk mengurangi perasaan insecure adalah dengan berhenti membandingkan diri sendiri dengan sesuatu yang berada di atas kemampuannya.

Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA menyarankan agar mereka yang mengalami insecure untuk melihat dan membandingkan sesuatu yang berada di bawahnya. Dengan tujuan, supaya mereka menyadari kemampuan yang dimilikinya, percaya diri, dan mau untuk mengembangkan kemampuan dirinya.

“Kadang kita tidak percaya diri, tidak mau berkembang atau cemas, dan takut karena kita selalu membandingkan diri dengan sesuatu yang berada di atas kita. Sehingga, kurang menyukuri apa yang Alloh kasih kepada kita,” tambah Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA.

Tingkat kewajaran insecure

Kepada uns.ac.id, Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA menerangkan soal tingkat kewajaran seseorang saat mengalami insecure. Dalam hal ini, perlu diperhatikan terlebih dulu stimulus yang membuat insecure.

Jika stimulus timbul dalam situasi hendak sidang skripsi atau berbicara di depan umum, Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA mengatakan hal itu masih wajar.

“Tetapi, ketika ada di dalam situasi yang sama dan berulang dan seperti bel tidak bisa dikendalikan, itu yang tidak wajar. Karena dengan insecure membuat kita menjadi rendah diri,” jelasnya.

Soal perasaan rendah diri, ia mengatakan hal itu dapat timbul ketika seseorang berbicara dengan orang lain, yang kemudian membuatnya merasa terancam.

Orang yang merasa demikian, disebut Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA juga merasa orang lain memiliki penilaian atau persepsi negatif tentang dirinya.

Ia mengkhawatirkan jika hal itu terjadi terus, dapat berpengaruh ke hubungan sosial seseorang sehingga relasinya dengan orang lain menjadi terhambat.

“Padahal, bukan karena kata-kata dari orang lain melainkan dari persepsi negatif kita yang menyebabkan merasa orang lain juga memiliki persepsi negatif terhadap dari kita,” kata Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA.

uns.ac.id juga bertanya kepada Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA soal apakah ada hubungan antara perasaan insecure dengan gangguan kecemasan umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD).

Ia menjawab, apabila muncul perasaan tidak mampu, minder sehingga kurang bersosialisasi selama 6 bulan, maka dapat dikatakan sebagai GAD. Namun, ia mengingatkan agar orang-orang tidak mendiagnosis dirinya sendiri dengan gangguan kecemasan ini.

Untuk menentukan apakah seseorang benar-benar mengidap GAD, Rafika Nur Kusumawati, S.Psi., MA mengatakan hanya psikolog yang dapat mendiagnosisnya

“Ketika GAD tentunya harus dengan diagnosis dari psikolog. Kita tidak bisa mendiagnosis diri kita sendiri dengan informasi internet maupun dengan artikel-artikel yang ada,” imbuhnya. Humas UNS

Reporter: Yefta Christopherus AS
Editor: Dwi Hastuti

Suka dengan artikel ini?

Tingkatkan Pertumbuhan Sayur dan Buah, Mahasiswa UNS Rancang Alat Penyiram Otomatis dan Humidity Controller

UNS --- Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tak pernah kehabisan akal untuk...

Prodi Sosiologi Fisip UNS Teken Kerja Sama dengan UIN Ar-Raniry Aceh

UNS --- Pada September 2021 ini, Program Studi (Prodi) S1 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan...

Tim KKN UNS 148 Sosialisasikan Bahaya Covid-19 dan Vaksinasi untuk Lansia di Desa Gombang, Boyolali

UNS --- Pandemi Covid-19 sudah berlangsung hampir dua tahun. Sejumlah varian baru yang lebih...

Solutif dan inovatif, Mahasiswa UNS Ciptakan Pelapis Antivirus Berbasis Selulosa sebagai Alternatif Pencegahan Penyebaran Covid-19

UNS --- Tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan inovasi di tengah...

Dosen UNS Gelar Pendampingan Industri Jersey Printing melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat

UNS --- Jersey merupakan pakaian yang sering dipakai untuk kegiatan permainan sepak bola. Namun,...

FEB UNS Gelar Pelatihan Alat Analisis Kuantitif – IBM SPSS

UNS --- Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan...

Bimbingan Karir dan ‘Planner Book’, Program Gagasan Mahasiswa UNS Guna Mengurangi Kecemasan Karir Tunarungu

UNS --- Terobosan baru kembali dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta...

Kreatif dan Solutif, Tiga Mahasiswa UNS Sulap Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit Menjadi Plester Terapi Luka Diabetes

UNS --- Selama ini, Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) hanya dianggap sebagai limbah padat hasil...

Mahasiswa UNS Ciptakan Sabun Kertas Berbahan Alami

UNS --- Berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan akibat pandemi Covid-19, lima mahasiswa...

Tingkatkan Minat Bercocok Tanam Warga, Kelompok 333 KKN UNS Kenalkan Sistem Hidroponik

UNS --- Hidroponik menjadi salah satu inovasi dalam bercocok tanam yang makin menarik perhatian...