Berita Terkini

BEM SV UNS Gelar Webinar Kekerasan Gender Berbasis Online

By 17 October 2020 No Comments

UNS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi (SV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar webinar bertajuk “Era Baru Seksisme dan Pelecehan Seksual”, melalui Zoom Cloud Meeting, Sabtu (17/10/2020) pagi.

Webinar ini secara khusus digelar untuk membahas maraknya Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial, terutama di tengah pandemi Covid-19, yang mengharuskan perempuan beraktivitas di dalam rumah.

Pembicara yang dihadirkan dalam kesempatan ini adalah Nenden Sekar Arum S.kom., M.Sc dari Digital Rights Defender SAFEnet dan Meila Nurul Fajriah, S.H., M.PA dari Divisi Penelitian Informasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Di hadapan peserta webinar, Nenden Sekar Arum, mengatakan seksisme merupakan ekspresi apapun, baik berupa tindakan, kata, gambar, maupun gerak tubuh, yang didasarkan pada gagasan bahwa beberapa orang yang dalam hal ini sering dialami perempuan karena jenis kelamin mereka.

“Seksisme itu berbahaya karena menimbulkan perasaan tidak berharga, sensor diri, perubahan perilaku, dan penurunan kesehatan. Akarnya terletak pada ketidaksetaraan gender, dan mempengaruhi perempuan dan anak perempuan secara tidak proposional,” ujar Nenden Sekar Arum.

Lebih jauh, dalam perkembangannya, KGBO tidak hanya menyasar perempuan, namun juga menyasar laki-laki yang dipandang masyarakat tidak sesuai dengan stereotip peran gender.

Selain itu, ia juga menyebut KGBO tidak melulu didasarkan pada perbedaan jenis kelamin, namun bisa juga diakibatkan oleh perbedaan agama, ras, umur, kelompok masyarakat, maupun orientasi seksual.

“Dampak berbahaya dari seksisme dapat menjadi lebih buruk bagi beberapa perempuan dan laki-laki karena etnis, agama, dan faktor lainnya,” lanjutnya.

Untuk mengatasi masalah ini, ia mengingatkan pentingnya kunci wawasan penanganan KBGO. Hal tersebut meliputi ranah privasi seseorang, baik menyangkut data pribadi maupun foto, di media sosial, ekosistem dunia digital untuk melacak data pribadi yang tersebar, meliputi ranah privat maupun publik, platform digital, pemerintah, dan memahami karakteristik dunia digital.

Jika didapati korban KGBO, Nenden Sekar Arum menyarankan agar korban menyimpan barang bukti berupa link dan screenshot, memanfaatkan fitur report di media sosial, belajar menyusun kronologi pada s.id/contohkronologi, dan jika diperlukan melaporkan kasus yang dialaminya ke pihak kepolisian.

Melengkapi pemaparan Nenden Sekar Arum, Meila Nurul merinci sejumlah jenis tindakan KGBO. Hal itu meliputi cyber grooming, cyber harassment, hacking, illegal content, sexting, doxing, termasuk prostitusi online.

Selama di LBH Yogyakarta, ia mengatakan sepanjang 2017-2019 sempat menangani sejumlah kasus KGBO. Seperti revenge porn yang berupa ancaman menyebarkan konten pornografi karena ada unsur balas dendam dari pelaku, yang dalam hal ini sering dialami korban yang putus dengan pacarnya, maupun impersonating yang berupa pemalsuan akun yang mengatasnamakan seseorang dengan tujuan mencemarkan nama baik korban.

“Kami pernah mendampingi korban revenge porn tetapi hal yang paling sulit saat pelaporan adalah pada pembuktian. Kalo itu dari story WhatsApp kan tidak ada link-nya, sehingga biasanya polisi akan menindaklanjuti dengan menyita hp pelaku. Tetapi untuk masuk ke tahap penyitaan hp itu juga perlu bukti yang kuat selain hasil capture,” tutur Meila Nurul.

Berkaitan dengan hal tersebut, pelaku KGBO dapat dijerat dengan Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang (UU) ITE yang mengatakan, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Selain itu, Meila Nurul menambahkan, pelaku KGBO juga bisa dijerat dengan Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi. Pasal ini secara tegas melarang adanya kegiatan memproduksi maupun menyebarluaskan persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang, kekerasan seksual, masturbasi atau onani, ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan, alat kelamin, dan pornografi anak. Humas UNS

Reporter: Yefta Christopherus AS
Editor: Dwi Hastuti

Leave a Reply