UNS — Dalam konten #Newsroom63B berjudul ‘Nikah Tapi Memilih Gak Punya Anak, Kok Bisa?’ yang ditayangkan kanal YouTube TirtoID pada 21 Mei 2021 lalu, disebutkan bahwa gaya hidup childfree atau memutuskan tidak memiliki anak mengalami tren peningkatan baik di Indonesia maupun luar negeri.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut antara lain masalah personal, finansial, latar belakang keluarga, kekhawatiran akan tumbuh kembang anak, isu atau permasalahan lingkungan, hingga alasan terkait emosional atau maternal ‘instinct’.

Keputusan ini memang sangat personal. Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan memunculkan beberapa dampak seperti adanya stigma negatif dari masyarakat bahkan keluarga sendiri. Stigma tersebut pun membuka kesempatan timbulnya tekanan sosial bagi pasangan dengan keputusan childfree.

Terkait hal ini, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si., Psikolog Sosial dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menuturkan bahwa salah satu pihak yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan childfree ialah keluarga besar.

Pernikahan pada prinsipnya, imbuh Dr. Tri, tidak hanya melibatkan dua individu saja, tetapi juga dua keluarga besar. Alhasil, keputusan untuk tidak memiliki anak sebaiknya disampaikan ke orang tua masing-masing..

“Sebab, orang tua dari pasangan suami istri itu tentu memiliki harapan pada pernikahan anak-anaknya. Salah satunya harapan untuk memiliki cucu yang meneruskan keturunannya,” jelasnya, Kamis (1/7/2021).

Apabila keputusan tersebut tidak dapat diterima, tentu dapat menjadi tekanan sosial bagi pasangan. Namun, jika dapat diterima, maka pasangan akan lebih mudah menghadapi tekanan sosial dari masyarakat di luar keluarga.

Mengapa Bisa Memutuskan Childfree?

Ketika menemui fenomena childfree, keheranan barangkali akan menjadi respons yang dominan. Mengapa menikah jika kemudian tidak memiliki anak?

Hal ini ini tidak terlepas dari perspektif budaya kolektif kita. Kultur masyarakat menuntut atau mengharapkan seseorang yang telah memasuki usia dewasa untuk menikah dan setelah menikah akan ditanyakan tentang kehadiran anak.

Seperti yang dijelaskan di atas, ada beberapa alasan yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Salah satu alasan yang menarik yakni berkaitan dengan isu atau permasalahan lingkungan. Populasi penduduk bumi yang semakin meningkat, tetapi tidak sejalan dengan ‘kesehatan’ bumi dan ketersediaan pangan. Hingga childfree akhirnya dipilih sebagai langkah yang dapat ditempuh.

Dr. Tri pun menyinggung perspektif teori perkembangan Erikson, yang menyatakan setiap orang akan memasuki tahap stagnan versus generativitas. Orang yang stagnan cenderung sulit menemukan cara berkontribusi pada kehidupan.

Sementara itu, generativitas akan mendorong seseorang peduli pada orang lain, kemudian selalu menciptakan dan mencapai hal-hal yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, termasuk melalui pernikahan.

Akan tetapi, pada perkembangannya, generativitas ini tidak hanya membatasi pada domain pernikahan dan menjadi orang tua. Sehingga orang-orang yang memutuskan hidup lajang atau childfree biasanya akan mengekspresikan generativitasnya melalui berbagai bidang kehidupan.

“Seperti menjadi relawan, aktivitis lingkungan hidup, bekerja secara profesional, atau terlibat dalam kegiatan agama, sosial, maupun politik,” tambah Dosen Psikologi FK UNS ini.

Di sisi lain, Dr. Tri mengatakan, ketidakyakinan akan kemampuan dalam merawat dan mengasuh anak juga menjadi salah satu kekhawatiran yang sering kali dialami. Oleh karenanya, salah satu pembekalan yang penting diberikan di masa persiapan nikah adalah membangun parenting self-efficasy pada keduanya.

“Sehingga calon ayah atau ibu memiliki keyakinan diri terhadap kompetensinya dalam merawat dan memberikan pengasuhan pada anak yang secara positif. Hal ini akan berpengaruh pada perilaku pengasuhannya dan menunjang tumbuh kembang anak secara optimal,” katanya. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti

Suka dengan artikel ini?

56
2

Mahasiswa Agribisnis UNS Raih Juara 2 Lomba Business Proposal Competition Tingkat Nasional

UNS --- Prestasi di tingkat nasional kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret...

Dosen UNS Meraih Penghargaan Achmad Bakrie Award XVIII

UNS --- Dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Tonang Dwi Ardyanto mendapat...

Tim KKN UNS Desa Borobudur Mengadakan Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

UNS --- Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan...

DWP UNS Gelar Donor Darah Rutin di RS UNS

UNS --- Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar donor...

Guru Besar UNS Masuk Dalam 29 Ilmuwan Internasional yang Menjadi Mentor Peneliti Muda Indonesia

UNS --- Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta masuk dalam 29 ilmuwan internasional...

Komisi I DP UNS Lakukan Kunjungan Kerja ke IPB dan UI

UNS --- Komisi I Dewan Profesor (DP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan kunjungan...

Mahasiswa UNS Mengadakan Pelatihan Pembuatan Permen Susu di Gemaharjo, Kabupaten Pacitan

UNS --- Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta...

Wedangan IKA UNS Seri 111 Bahas Refleksi 77 Tahun Kemerdekaan RI

UNS --- Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI), acara Wedangan Ikatan Keluarga...

Masuki Usia Baru, FKOR UNS Merayakan Dies Natalis ke-4

UNS --- Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta merayakan dies...

Kuliah Umum PKKMB UNS Hadirkan Menteri BUMN Indonesia, Erick Thohir

UNS --- Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia, H. Erick Thohir, B.A., M.B.A. turut...