Berita TerkiniCovid-19

Dampak Covid-19 di Indonesia menurut Pakar Ekonomi UNS

By 20 March 2020 March 24th, 2020 No Comments
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Siaran Pers
Nomor: 48/HUMAS/UNS/III/2020
Jumat, 20 Maret 2020

UNS – Pandemi covid-19 atau virus corona berdampak terhadap kurs rupiah, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika serikat (AS) melemah. Pelemahan ini menjadi sorotan banyak pihak di tengah pandemi global ini. Pakar ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Riwi Sumantyo sangat prihatin terhadap melemahnya nilai rupiah karena sudah menyentuh angka Rp 16.000, nilai tukar ini merupakan yang terlemah dalam 5 tahun terakhir.

Hingga saat ini, kurs rupiah terhadap USD terus mengalami pelemahan. Berdasarkan kurs rupiah terhadap US Dolar yang diakses dari laman Bloomberg pada Jumat (20/3/2020), adalah sebesar Rp 16.037,- per US dolar. Sebuah lonjakan yang cukup drastis dibandingkan dengan nilai tukar pada awal Maret ketika Indonesia belum terdeteksi pandemi covid-19.

Melemahnya rupiah ini akan membawa banyak dampak terhadap roda perekonomian di Indonesia. Barang-barang yang berasal dari luar negeri akan melonjak harganya. Korporasi atau perusahaan yang menggunakan bahan baku impor akan berkurang keuntungannya karena harga bahan baku yang mahal. Bagi perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar juga akan merugi karena bunga dan pokok utangnya harus dibayar menggunakan dolar. Jika tidak berangsur membaik, kedepan akan muncul kemungkinan-kemungkinan buruk seperti PHK dan pengangguran akan menjadi momok bagi bangsa ini.

“Jika bahan baku atau barang yang didapat merupakan impor, maka akan berdampak pada harga jual. Berarti untuk menutup biaya produksi, maka harga jualnya harus naik. Ketikia naik, apakah daya beli masyarakat ada? Jika daya beli masyarakat rendah atau bahkan tidak ada, maka barang tersebut tidak laku. Inilah yang akan mempengaruhi pergerakan ekonomi kita” ujar Riwi.

Banyak sektor-sektor yang dirugikan atau mengalami dampak paling banyak dari melemahnya rupiah. Sektor tersebut pada umumnya adalah sektor yang bahan bakunya menggantungkan bahan dari luar negeri seperti industri manufaktur, sektor farmasi, sektor pakan ternak, dan sebagainya. Tetapi, secara teoretis memang terdapat sektor lain yang diuntungkan. Misal industri meubel dan batu bara yang melakukan ekspor ke luar negeri maka pendapatannya akan meningkat.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS tersebut juga memprediksi jika keadaan Indonesia masih seperti ini, maka nilai rupiah akan terus melemah. “Apabila keadaan Indonesia masih seperti ini, covid-19 belum segera teratasi saya memprediksikan bahwa nilai rupiah bisa melebihi angka Rp 16.000,- dan itu sudah terbukti hari ini.” paparnya.

Peran pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga nilai rupiah agar tetap stabil. Riwi menuturkan, salah satu cara yang dapat dilakukan saat ini yaitu meredam covid-19 terlebih dahulu karena pandemi ini akan mengacak-acak perkonomian. Riwi juga menambahkan “Bank Indonesia sebagai bank sentral juga memiliki otoritas moneter. Bank Indonesi diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan agar mampu menahan agar rupiah tidak jatuh, misalnya melakukan intervensi ke pasar dengan membeli rupiah dan menjual dolar. Namun, yang menjadi masalah ketika sentimen negatifnya terlalu kuat, maka tindakan tersebut akan sia-sia karena akan menghambur-hamburkan devisa. Jadi, devisa negara dapat terkuras banyak untuk intervensi ini karena kekuatan devisa Indonesia juga tidak sekuat negara lain.”

Riwi berpesan kepada masyarakat, khususnya sebagai sivitas akademika paling tidak ikut memberikan imbauan, memberikan masukan supaya tidak melakukan aksi spekulasi yang gila-gilaan seperti panic buying dan panic selling. Menjaga supaya nilai tukar rupiah tidak semakin terperosot. “Upaya untuk menjual dolar juga dapat menjadi upaya meskipun dampaknya tidak terlalu siginifkan, hal tersebut dapat dicontohkan oleh elit pejabat sehingga paling tidak ada aksi simbolik yang dilakukan oleh pejabat sehingga diikuti oleh masyarakat. Tetapi, sebagian pelaku pasar juga menerapkan prinsip “uang tidak memiliki kewarganegaraan” artinya tindakan yang dilakukan cenderung mengutamakan rasionalitas ekonomi. Apakah menguntungkan bagi dirinya atau tidak” tutup Riwi. Humas UNS/Bayu

Leave a Reply