UNS — Awal tahun 2021 ini, banyak bencana yang melanda wilayah Indonesia. Sebut saja gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir yang menerjang Kalimantan Selatan, Sumedang, dan Bogor, belum lagi erupsi Gunung Merapi dan Gunung Semeru. Hal tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya mengapa bencana alam mengepung Indonesia?

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang tahun 2020 terjadi 2.929 bencana alam di Indonesia. Banjir menduduki tempat tertinggi yakni sebesar 1.067 kasus. Jumlah tersebut disusul bencana puting beliung yang mencapai 875 kasus dan diakhiri oleh erupsi sebanyak 7 kasus.

Dr. Rita Noviani, Peer Group Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyebut Indonesia memang etalase bencana. Hal tersebut karena tingginya kompleksitas bencana di Indonesia mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir, hingga erupsi.

“Indonesia berada di Ring of Fire, pertemuan tiga lempeng, ada di garis khatulistiwa, belum lagi perubahan iklim dan ekologis akibat penggundulan hutan. Itulah yang mengakibatkan banyak bencana,” ujar Dr. Rita, Senin (25/1/2021).

Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi geografis sekitar juga menjadi penyebab banyaknya korban material dan jiwa yang terjadi akibat bencana. Dosen Pendidikan Geografi FKIP UNS tersebut mencontohkan masyarakat tidak tahu kalau tinggal di daerah patahan atau sesar yang sewaktu-waktu akan aktif.

Ada pula faktor kebijakan pemerintah. Pemberian konsesi lahan dari pemerintah juga memicu terjadinya bencana. Salah satu contoh yakni pembukaan lahan hutan membuat air hujan yang turun tidak diserap oleh akar-akar pohon sehingga turun ke daerah hilir menjadi air permukaan dan menimbulkan banjir.

“Harus ada komitmen dari pemerintah untuk mengatasi dampak perubahan lingkungan. Pembangunan ekonomi perlu diselaraskan dengan pembangunan sosial dan lingkungan,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Pusat Studi Bencana LPPM UNS turut mengambil langkah dalam urusan kebencanaan. Langkah yang diambil yakni penguatan kapasitas masyarakat dengan membina komunitas-komunitas masyarakat peduli bencana.

“Kami mendampingi komunitas seperti Kampung Tanggap Bencana (Katana) dan Kampung Siaga Bencana (Kasiba) untuk menguatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mengajak masyarakat beradaptasi dengan lingkungan yang ada,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Ida Fitriyah
Editor: Dwi Hastuti