UNS — Salah satu fakultas yang berada di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Fakultas yang identik dengan warna ungu ini sering kali menghasilkan lulusan yang terjun di dunia pendidikan, yakni menjadi seorang guru. Tidak hanya menjadi guru, bahkan sebagai Kepala Sekolah di beberapa tempat. Terdapat suatu kisah unik yang datang dari lulusan Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia FKIP yang lulus pada tahun 2016 lalu, ia berhasil menjadi Kepala Sekolah di usia muda.

Nur Fitri Fatimah, perempuan yang kini berusia 26 tahun tersebut telah menjadi Kepala Sekolah di sebuah Sekolah Dasar (SD) yang bernama Muhammadiyah Baitul Fallah (MBF) yang terletak di Bancak 1, RT 1/RW 2, Bancak 2, Gebyog, Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Perempuan asal Karanganyar ini menuturkan bahwa cikal bakal berdirinya MBF adalah terbentuknya Sekolah Tani Organik Intan Pari (STOIP) yang digagas oleh Forum Mahasiswa Islam Karangayar (Formaiska) pada tahun 2016 silam.

Setelah berjalan beberapa saat, terdapat tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi yang dipercayakan untuk kebermanfaatan sosial oleh seseorang. Tanah ini pun, kemudian dimanfaatkan oleh Pipit, panggilan akrab dari Nur Fitri Fatimah beserta teman-temannya untuk memulai pembangunan SD MBF. Ia dan teman-temannya mulai merintis SD MBF sejak awal dengan semangat perbaikan pendidikan yang ada di Indonesia.

“Saya ingin turut serta memperbaiki pendidikan di Indonesia,” terang Pipit saat diwawancara tim uns.ac.id di Kantor UPT Humas dan Media UNS, Rabu (27/1/2021)

Setelah pembangunan sekolah usai, dengan persetujuan bersama, Pipit diangkat menjadi Kepala Sekolah pertama di SD MBF di usianya yang masih belia yakni 24 tahun. Selama menjadi Kepala Sekolah, telah terdapat capaian yang membanggakan bagi SD MBF. Pada Desember tahun lalu, salah 1 siswa mereka yang duduk di bangku kelas 1 SD berhasil menyabet penghargaan pada ajang Thailand International Math Olimpiade. Dengan usia sekolah yang masih muda, tentu hal tersebut menjadi kebanggaan sendiri.

Pipit juga mengaku, pengalaman paling berkesan yang ia rasakan selama menjadi Kepala Sekolah adalah ketika mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam timnya. Ia harus mempelajari banyak karakter manusia dan bagaimana cara menghadapinya. Di situ, terdapat tantangan dalam harmonisasi SDM yang harus ia selesaikan. Untuk mengatasi itu semua, Pipit selalu berusaha menjaga dirinya sendiri agar dalam keadaan yang teratur, terus menjaga dirinya agar selalu berpikir dan bertindak positif. Dengan SDM yang kompak, Pipit merasa keberjalanan program-program di SD MBF pun akan lebih lancar. Dalam bekerja, Pipit selalu menekankan untuk bekerja dengan ikhlas.
“Kalau kerja itu harus ikhlas biar nanti juga berkah,” jelas Pipit.

Kegigihan Pipit juga tercermin dengan semangatnya menempuh perjalanan dari rumah menuju SD MBF yang memakan waktu 90 menit. Pipit juga harus berjuang untuk melakukan manajerial keuangan yang baik. Juga, perlu upaya lebih untuk membumikan pendidikan yang terletak di desa, bukan kota.

Untuk meningkatkan keterampilan pengajar di SD MBF, Pipit melakukan beberapa kegiatan yang bermanfaat. Seperti mengikutsertakan para guru untuk mengikuti workshop, mendorongnya untuk ikut serta dalam suatu lomba, menjaga kebiasaan baik setiap harinya, dan meningkatkan ibadah kepada Tuhan. Bahkan, Pipit juga mengajak para pengajar untuk menulis buku dan membuat target paling tidak setahun harus sudah merilis 2 buku yang dikerjakan bersama-sama.

Saat diwawancara, Pipit juga mengenang masa kecilnya. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar. Selama itu pula, orangtua Pipit setia menemani di sampingnya. Bahkan, ia pernah tidur larut pada pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Pipit mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan baiknya selama ini dapat terbentuk karena dimulai dari hal-hal sederhana terlebih dahulu.

Perempuan yang sekarang menempuh pendidikan pada program Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini, memiliki motto hidup “man jadda wa jada” yang berarti barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil. Ia menanamkan kalimat tersebut pada dirinya sendiri. Sementara, untuk lecutan motivasi pada kehidupan sosialnya, Pipit memegang kalimat “khoirunnas anfa’uhum linnas” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dari situ, ia semakin gigih dalam menyebarkan hal baik di masyarakat baik dalam bidang pendidikan maupun pengabdian sosial.

Pada akhir sesi wawancara, Pipit mengaku bangga sebagai alumnus UNS dan mengajak generasi muda UNS untuk bersemangat menggapai mimpi.
“Saya merasa bangga menjadi alumni UNS karena juga dekat dari rumah. Untuk seluruh generasi muda UNS, ayo semangat. Kita sebagai hamba Allah harus dapat memanfaatkan potensi yang Allah kasih. Di tengah keterbatasan itu, justru Allah akan mengeluarkan potensi-potensi kita yang sekiranya itu nggak kita menyadari. Tapi, kita akan mendapatkan hal yang unik dan menurut saya itu luar biasa ketika kita bisa memanfaatkan keterbatasan itu menjadi potensi dan kekuatan yang besar,” ujar Pipit.

Pipit menambahkan, apa yang telah diraih ini tentu tidak lepas dari doa dan restu kedua orangtuanya. “Kita manusia yang lemah tapi kita punya Allah Yang Maha Kuat, yang selalu menguatkan kita. Insyaallah, semua bisa mewujudkan impiannya asalkan ada usaha, doa, dan restu orangtua,” pungkas Pipit. Humas UNS

Reporter: Zalfaa Azalia Pursita
Editor: Dwi Hastuti