Lima Bakal Calon Rektor UNS Adu Visi-Misi

UNS – Pemilihan Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta telah memasuki babak baru. Setelah lolos verifikasi administrasi, lima bakal calon (balon) Rektor UNS masa bakti 2019-2023 menyampaikan visi dan misinya dalam Sidang Senat Terbuka yang dilaksanakan di Auditorium UNS, Rabu (6/2/2019).

Lima balon Rektor UNS tersebut adalah Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Mohammad Furqon Hidayatullah, M.Pd., Prof. Muhammad Nizam, S.T., M.T, Ph.D., Prof. Drs. Sutarno, M.Sc., Ph.D., dan Prof. Dr. Widodo Muktiyo, S.E., M.Com. Selama 15 menit, masing-masing balon Rektor UNS memiliki kesempatan memaparkan visi dan misi di hadapan Staff Ahli Bidang Akademik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls, para anggota senat, perwakilan dosen dan tenaga kependidikan, serta para mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan.

Setiap bakal calon memaparkan visi dan misi sesuai dengan nomor undian. Prof. Jamal Wiwoho, mendapatkan kesempatan pertama untuk menyampaikan visi dan misi. Guna memajukan UNS menjadi World Class University (WCU), Jamal mengajukan lima kebijakan strategis, yaitu mengembangkan sistem kependidikan 4.0, meningkatkan riset dan inovasi berkelas dunia, mengembangkan kualitas SDM berstandar internasional dan mengembangkan tata kelola dan institusi yang sehat serta memperluas jejaring kerjasama baik dalam negeri maupun luar negeri. “Untuk menuju PTNBH, diperlukan juga sumber daya dan sumber dana yang cukup. Oleh karena itu, UNS harus menjadi universitas yang enterpreunership,” ungkapnya.

Adapun prioritas kerja empat tahun kedepan adalah mengakselerasi lima hal yaitu profesionalitas dan kesejahteraan SDM, riset, publikasi dan inovasi, rekontruksi pembelajaran berbasis 4.0 dan penguatan literasi data dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) serta optimalisasi hukum, birokrasi dan kerjasama.

Berikutnya, Prof. Drs. Sutarno mengusung strategi kerja UNS Q-Star dalam menjalankan visi-misinya. “Q-Star ini merupakan akronim dari Quality, Synergy, Transformation, Acceleration and Reputation. Ini adalah kelanjutan dari UNS Bisa. Singkatnya, Q-Star adalah komitmen untuk meningkatkan kualitas UNS dengan sinergi dalam tranformasi menjadi PTNBH berdasarkan knowledge based management melalui percepatan dan tanggap terhadap perubahan menuju universitas bereputasi dunia,” paparnya.

Prof. Sutarno lanjut memaparkan beberapa program kerjanya untuk meningkatkan kualitas UNS, diantaranya adalah menerapkan pengajaran berakhlak mulia dan berdaya saing global serta meningkatkan riset dan publikasi. Dari aspek sinergi, dia mengatakan UNS perlu memantapkan sistem data dalam masa transisi dari PTN BLU menuju PTNBH. Menurutnya, masih banyak aplikasi di UNS yang belum terintegrasi secara sempurna. Karena itu, dia pun menargetkan akan menuntaskan persoalan tersebut dalam kurun waktu 5 bulan.

“Kemudian dari sisi akselerasi, kita akan meningkatkan jumlah dosen bergelar S3. Salah satu caranya dengan percepatan dalam bimbingan dan fasilitas tanpa mengurangi kualitas. Soal reputasi, kolaborasi dengan internasional akan kita galakkan,” tuturnya.

Sementara itu, bakal calon selanjutnya, Prof. Muhammad Nizam menawarkan UNS menjadi Civic University. “Civic University itu adalah universitas yang membawa maslahat bagi lingkungan. Dengan menjadi universitas yang membawa maslahat, secara otomatis menjadi universitas yang reputable,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Prof. Nizam mengajukan beberapa program kerja yaitu meningkatkan mutu UNS melalui sertifikasi dan akreditasi, sistem informasi yang terintegrasi dan berkelanjutan, mereformasi SDM dengan meningkatkan aturan anggaran penelitian dan menempatkan dosen sesuai potensinya. Prof. Nizam lanjut menambahkan, pengadaan kurikulum enterprenuer bagi mahasiswa untuk mendukung UNS menjadi PTN-BH.

Sementara itu, Prof. Widodo lebih menekankan untuk memaksimalkan potensi dan keunikan UNS dalam visi misinya. Dalam membangun UNS, dia merumuskan konsep UNS Excellences yang menggabungkan antara keunikan, sinergi dan tanggung jawab.

“Rating itu angka. Membangun UNS dengan excellences artinya tidak terpaku pada angka. Misalkan bagaimana karya-karya para doktor UNS itu bisa dinilai oleh masyarakat, bukan hanya sekedar jumlahnya yang ratusan,” jelasnya.

Kandidat terakhir, Prof. Furqon menutup sesi pemaparan visi-misi dengan menyampaikan 11 program kerjanya untuk 4 tahun kedepan. Salah satu yang menarik perhatian yaitu penguatan wawasan kebangsaan di kalangan civitas akademika. Menurutnya, itu sangat penting diwujudkan karena persentase Aparatur Sipil Negara (ASN) yang anti-Pancasila cukup besar yakni 19,4 persen. Di samping itu, diajukan pula penguatan bahasa dan IT, memperkuat inovasi dan digitalisasi UNS.

Selesai pemaparan visi dan misi, muncul sejumlah pertanyaan terkait persoalan peran serta UNS untuk pengembangan digital ekonomi Indonesia dan terobosan untuk meningkatkan peringkat UNS di dalam negeri dan internasional. Dalam sesi ini, mahasiswa juga berkesempatan untuk menyampaikan aspirasi bagi para bakal calon rektor UNS. Diwakilkan Presiden BEM UNS, Faith Aqila Silmi mengatakan agar pimpinan universitas memberikan ruang serta kesempatan bagi mahasiswa untuk mengutarakan aspirasi terkait kebijakan yang bersangkutan dengan kepentingan mahasiswa.

Sidang Senat Terbuka ini diselenggarakan Panitia Pemilihan Rektor UNS sebagai wahana pengenalan dan menjaring masukan bagi para balon rektor. Setelah Sidang Senat Terbuka digelar, acara dilanjutkan dengan Sidang Senat Tertutup pada pukul 13.00 WIB. Humas/ Mia

By | 2019-02-08T14:10:50+00:00 06 February 2019|Categories: Berita Terkini|