UNS – Asia merupakan benua dengan penduduk terbanyak dan wilayah terluas di dunia dimana beras telah lama menjadi bahan pangan pokok masyarakatnya. Dengan populasi mencapai 4,1 milyar jiwa di tahun 2016, ketahanan pangan menjadi perhatian penting berbagai pemangku kebijakan. Salah satunya yakni bagaimana meningkatkan produktivitas beras dan efisiensi lahan pertanian. Berangkat dari permasalahan di atas, Chinese Academy of Engineering menggelar forum The 1st International Forum on Rice (RICE) di Sanya, China. Hadir dalam acara tersebut salah satu perwakilan Indonesia adalah dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yaitu Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNS, Widodo Muktiyo.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UNS, Widodo Muktiyo menjadi pembicara dalam forum The 1st International Forum on Rice (RICE) di Sanya, China.

Para ahli di bidang beras dari Chinese Academy of Engineering dan Chinese Academy of Sciences turut menyampaikan pandangannya terhadap inovasi dalam pertanian, penyemaian padi, dan perkembangan mutakhir industri beras. Sekitar 500 peserta dari 10 negara berpartisipasi dalam forum ini. Selain penyampaian materi, terdapat pula 500 varietas padi terbaru yang turut dipamerkan dari tanggal 11-14 April 2017.

Luo Xiwen dari Chinese Academy of Engineering menuturkan bahwa produktifitas penghasilan beras masih terhambat dari proses mekanisasi pertanian. Pertanian beras masih sangat bergantung pada tenaga petani, kesuburan dan keadaan tanah, efisiensi proses, serta proses penanaman. Tim penelitian dari South China Agricultural University selama 10 tahun terakhir telah mengembangkan seperangkat peralatan pertanian berteknologi terbaru dalam meningkatkan proses mekanisasi. Ditargetkan pada tahun ini, China mampu menghasilkan 17 ton beras setiap hektarnya.

Selain faktor fisik, faktor biologis seperti hama dan penyakit juga mempengaruhi produktifitas pertanian. Song Baoan dari Chinese Academy of Engineering menjelaskan bahwa penyakit virus padi banyak melanda persawahan di berbagai wilayah di China. Pengontrolan dan pencegahan penyebaran hama dan virus penyakit menjadi permasalahan utama yang disebabkan oleh pengaruh pestisida terhadap kualitas padi yang dihasilkan, namun sangat diperlukan untuk membasmi hama dan penyakit. Song Baoan beserta tim sudah berhasil mengembangkan pestisida dengan tingkat racun dan residu yang rendah, tidak mengganggu kualitas, dan ramah lingkungan.

Dalam paparannya, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama, Widodo Muktiyo menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia ikut menaruh perhatian dalam permasalahan ketahanan pangan negara. Indonesia sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat pun mengalami masalah serupa dengan China. Pemerintah menargetkan produksi beras Indonesia tahun ini mencapai 77 juta ton, yaitu naik 5 juta ton dari tahun sebelumnya. humas-red.uns/Oss/Eln