Berita Terkini

Menyikapi Keberagaman, Inilah Lima Sikap Toleran yang Dapat Dilakukan

By 30 September 2020 No Comments

UNS‘Solidarity in Diversity’ atau Solidaritas dalam Keragaman diangkat sebagai tema Sebelas Maret Islamic Festival (SIFT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tahun 2020 ini. Webinar bertajuk ‘Islam, Tasamuh, dan Pluralitas’ pun digelar sebagai salah satu rangkaian webinar SIFT oleh Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN-UKMI) UNS, Sabtu (26/9/2020).

Hadir sebagai pembicara, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed. yang merupakan Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah membahas perihal toleransi dalam menyikapi keberagaman. Prof. Mu’ti menjelaskan, dalam menyikapi keberagaman diperlukan ‘tasamuh’ atau toleransi. Yakni sikap dan perilaku yang mengakui dan menghormati perbedaan baik dalam aspek keagamaan maupun berbagai aspek kehidupan lainnya.

“Kata tasamuh, imbuhnya, memang tidak ditemukan di dalam Al-Quran. Akan tetapi, sikap dan perilaku tasamuh merupakan ajaran dan nilai-nilai Islam yang ditegaskan dalam beberapa surah. Antara lain QS. Al-Kafirun (109): 1-6 dan QS.Al-An’am (6): 107-108,” jelas Prof. Mu’ti yang juga anggota Indonesia United Council of Religion and Pluralism ini.

Lebih lanjut, Prof. Mu’ti pun memaparkan lima sikap dan perilaku tasamuh. Pertama, memahami dan menyadari adanya perbedaan di antara manusia satu dengan lainnya. Termasuk dalam hal ini memahami titik perbedaan dan persamaan beserta sebab-sebabnya.

Setelah memahami adanya perbedaan tersebut, sikap berikutnya ialah menghormati perbedaan sebagai sebuah keyakinan dan pilihan yang bersifat pribadi. Bersikap untuk tidak mencela, menyalahkan, merendahkan, mengkafirkan, atau memaksakan kehendak kepada orang atau pihak lain.

“Kalau perbedaan lebih sering kita lihat sebagai produknya bukan prosesnya maka akan membuat fanatisme. Kita berbeda iya, tapi jangan menjelekkan atau mencela kelompok lain. Kepada mereka yang beda agama juga tidak boleh. Lebih baik berlomba dengan kebaikan, bukan kejahatan dan sentimen yang akhirnya mencela orang lain,” imbuhnya.

Sikap yang ketiga yakni menerima eksistensi teman-teman yang berbeda, dengan tetap menjaga dan mempertahankan keyakinan dan identitas pribadi atau kelompok. Menerima eksistensi tersebut, dapat ditunjukkan pula dengan memberi kesempatan, mengakomodasi, dan memfasilitasi orang lain untuk dapat melaksanakan keyakinan dan memelihara identitasnya.

Sebab, berbeda bukan berarti berselisih, apriori, dan tidak peduli kepada orang atau pihak lain. “Being different does not mean indefferent”. Tasamuh ini pun, mendorong untuk tolong menolong dan menumbuhkan kasih sayang antarmanusia. Selama, tutur Prof. Mu’ti, asal yang bersifat akidah tidak dicampuradukkan.

Hal ini senada dengan apa yang ditekankan Prof. Mu’ti kemudian, yakni pentingnya proses mengenal dan bergaul dengan teman dari berbagai latar belakang. Di mana dalam pergaulan tersebut, tetap menerapkan sikap toleran untuk menciptakan kedamaian. Namun, tentu dengan tidak melonggarkan keyakinan diri dan menutupi identitas kita.

“Tegaskan diri kita ini siapa. Tidak perlu menyembunyikan keyakinan masing-masing. Justru pluralitas ini, mendorong kita untuk menunjukkan keyakinan kita. Ada batas-batas di mana kita bisa bersama, ada batas kita berbeda,” terang Prof. Mu’ti.

Dalam materinya, Prof. Mu’ti juga menjelaskan pluralitas ditandai oleh adanya perbedaan fisik, intelektual, dan keagamaan yang terjadi karena sebab-sebab alamiah, ilmiah, dan amaliah. Faktor alamiah, imbuhnya, ialah faktor yang mengikuti hukum Allah dalam berbagai proses dan kejadian di alam semesta.

Misalnya, manusia yang berbeda-beda suku, bahasa, bangsa, dan perbedaan alamiah lainnya yang menjadi bukti kekuasaan Allah. Variasi tersebut menunjukkan eksistensi manusia antara satu dengan yang lainnya.
Sementara itu, faktor ilmiah berhubungan dengan proses intelektual termasuk di dalamnya metode ijtihad. Dalam hal ini, manusia berbeda-beda dari segi agama, madhzab, strategi, dan manhaj agama.

“Kemudian, faktor amaliah berhubungan dengan konteks, orientasi, dan strategi perjuangan serta hal-hal bersifat personal,” tambah Prof. Mu’ti.

Pada kesempatan tersebut, hadir pula Prof. Kuncoro Diharjo selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNS untuk membuka jalannya webinar. Dalam sambutannya, Prof. Kuncoro mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu dan bergabung di SIFT UNS tahun ini serta mengajak para hadirin untuk selalu menanamkan rasa kebersamaan dalam perbedaan. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti

Leave a Reply