UNS — Di tengah bahasan RUU Energi Baru Terbarukan (EBT) yang mencuat, mari mengenal Society of Renewable Energy (SRE) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sebuah gerakan edukasi energi terbarukan dan krisis iklim yang diinisiasi dua mahasiswa UNS pada Juli 2020 lalu.

SRE yang sebelumnya sudah ada di lingkup nasional dan beberapa kota lain, turut dibentuk Daniel Ardra Simon (Ekonomi Pembangunan 2019) dan Rahel Sherina Marcella (Manajemen 2018) di UNS karena melihat kekosongan gerakan mahasiswa semacam ini di kampus. Mereka juga menilai, kedua isu tersebut sangat penting untuk diedukasi dan disebarluaskan.

Menyasar mahasiswa UNS, mahasiswa umum, dan masyarakat Solo, SRE UNS ingin isu-isu ini dapat lebih terangkat, terutama di kalangan pemuda. Tentu hal itu dibarengi dengan kesadaran bahwa bumi sedang dalam kondisi tidak baik, bahkan mengalami kerusakan.

“Kita harus segera berubah, salah satunya dengan mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Kami pun berharap tidak hanya dapat memberikan ilmu, namun juga dapat menginspirasi pemuda agar berani bergerak untuk bumi yang lebih baik,” ungkap Daniel selaku President SRE UNS kepada uns.ac.id, Minggu (31/1/2021).

Kemauan mendorong pemuda untuk bergerak ini selaras dengan nilai inti yang diusung Daniel dan kawan-kawan. Yakni nilai inklusif, kreativitas, demokrasi, dan keberanian yang menjadi pemacu untuk SRE UNS bergerak.

Komitmen ini pun dibuktikan dengan langkah SRE UNS yang tidak hanya merekrut 18 pengurus. Akan tetapi, juga 71 anggota yang secara khusus diedukasi selama satu periode kepengurusan. Hingga saat ini, para anggota sudah memperoleh program kenal EBT sebanyak tujuh kali dan mentoring.

Sementara untuk umum, SRE UNS telah menggelar dua kali webinar nasional dengan menghadirkan banyak narasumber yang mumpuni. Tidak sendiri, dalam memulai dan menjalankan SRE UNS ini, Daniel dan tim berkolaborasi dengan dua pihak.

“Kita sudah bekerja sama dengan Energy Academy Indonesia dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia. Untuk kegiatan yang lain kita lakukan secara independen,” ujar Daniel.

Saat ditanya pandangan tentang tingkat kesadaran masyarakat terkait isu ini, Daniel menuturkan, masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa UNS sebenarnya sudah cukup paham mengenai kerusakan lingkungan yang terjadi. Akan tetapi, terkadang mereka menganggap kerusakan ini masih hal yang biasa dan tidak berdampak bagi mereka. Atau justru sebaliknya, isu ini dinilai terlalu berat dan kompleks untuk didiskusikan dan pelajari.

Menurut Daniel, hal tersebut disebabkan edukasi yang belum maksimal dan cenderung monoton. Membawa isu EBT dan krisis iklim, imbuhnya, harus dengan cara sederhana dan tidak terlalu absurd sehingga audiens dapat memahami.

“Kalau antusiasme terhadap SRE UNS sendiri cukup baik, mengingat kedua isu yang SRE bawa lagi hangat-hangatnya saat ini,” terang Daniel.

Namun untuk gerakan pemuda yang berfokus pada krisis iklim, Daniel melihat sudah banyak anak muda yang konsen ke arah sana meski tetap saja masih sangat kurang. Dapat dikatakan, tutur Daniel, isu lingkungan di kalangan anak muda Indonesia belum terdengar sekeras di Eropa maupun Amerika Serikat.

“Di sisi lain, perkembangan EBT di Indonesia jujur mengecewakan. Kita kemungkinan besar tidak akan bisa mencapai target bauran energi nasional 2025 yaitu 23% EBT, karena ada beberapa regulasi dan iklim investasi yang belum sepenuhnya mendukung industri EBT secara optimal,” jelas Daniel.

Rencana dan Target NGO

Beberapa rencana anyar telah disusun SRE UNS. Seperti membuat kajian mengenai green campus maupun feasibility study EBT di Solo Raya, serta melakukan kunjungan industri. Di mana kajian green campus ini memungkinkan SRE UNS untuk bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Lingkungan Hidup (PPLH) UNS.

Sementara berbicara perihal targetan ke depan, Daniel dan kawan-kawan ingin SRE dapat menjadi katalisator mahasiswa UNS yang ingin mengembangkan gerakannya sendiri. Juga mahasiswa yang berminat mengikuti perlombaan di bidang energi dan lingkungan.

Mereka pun mentargetkan SRE UNS menjadi Non-Governmental Organization (NGO) agar dapat memberikan dampak lebih nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“SRE UNS memiliki harapan, nantinya setiap gedung di UNS memiliki solar panel dan di Solo sendiri pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) harus lebih ditingkatkan,” pungkasnya. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti