Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Berbasis Kearifan Lokal: Karya Terakhir Wiryanto, Sang Guru Besar

UNS − Sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah pencemaran air tawar, Wiryanto, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, mengambil pendekatan kearifan lokal sebagai upaya untuk pengelolaan sumber daya air tawar. Topik ini megantarkannya untuk dikukuhkan menjadi guru besar UNS ke-191.

Wiiryanto meninggalkan ruang sidang usai resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar UNS ke-191

Wiryanto mengungkapkan bahwa penceramaran air tawar di Indonesia saat ini mengalami peningkatan. Hal ini merupakan suatu masalah yang harus dicari solusinya dikarenakan air tawar merupakan air yang dapat langsung dimanfaatkan manusia untuk keperluan kehidupannya.

“Pemantauan dan kajian pada 100 sungai di Indonesia pada rentang 2010-2016 menunjukkan hasil bahwa sejak tahun 2014 kondisi kualitas air sungai mengalami pencemaran sedang-berat dan pencemaran berat mencapai 79,41% padahal pada tahun 2010 masih 28,13%,” jelas Wiryanto.

Wiryanto juga melakukan penelitian dan kajian mengenai kualitas air secara menyeluruh di Waduk Gajah mungkur (WGM) Wonogiri yang merupakan salah satu penampung air di kawasan Solo Raya. Dalam pidatonya, ia menjelaskan bahwa kualitas air di bagian tengah waduk menunjukkan nilai kesuburan tinggi dan cenderung beresiko. Hal ini menunjukkan bahwa air waduk sudah mengalami pencemaran yang membuat kualitasnya menurun. Menilik pada hal tersebut, ia menambahkan bahwa berdasar pada UU No. 37 tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air BAB 1 Pasal 2, kearifan lokal merupakan salah satu komponen untuk penyelenggaraan konservasi tanah dan air. Hal tersebut menjadi landasan Wiryanto untuk mengambil pendekatan kearifan lokal pada penelitiannya untuk mengelola sumber daya air tawar.

“Kahyangan, obyek wisata Alam Mistis di Desa Dlepih-Tirtomoyo Wonogiri, menyimpan banyak misteri yang masih dilestarikan dan mempunyai nuansa pengelolaan sumber daya air. Dengan masih terpeliharanya kearifan lokal tersebut, sumber daya air di Kahyangan masih terjaga kualitasnya,” tambah Wiryanto dalam pidatonya.

Ravik Karsidi (kiri), Rektor UNS, mengukuhkan Wiryanto menjadi Guru Besar di depan seluruh peserta sidang

Pada penutup pidatonya, Wiryanto mengemukakan bahwa untuk membuat pengelolaan sumber daya air dapat berjalan dengan baik maka diperlukan dukungan ‘Panca Wangsa’; 1) Pemerintah Pusat/Daerah (Pemimpin), 2) Pakar (Cendekiawan, Rohaniawan dan Budayawan), 3) Media Massa (Wartawan, Media Cetak dan Elektronik), 4) Dunia Usaha (Hartawan), dan 5) Masyarakat (Rakyat).

“Panca Wangsa ini dikuatkan dalam suatu gerakan seperti kelima jari tangan yang dikepalkan menjadi tinju yang maha dahsyat apabila digunakan. Keterpaduan pengelolaan sumber daya air tersebut perlu didukung oleh kearifan lokal yang sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat untuk dapat membangkitkan semangat dalam partisipasinya untuk pengelolaan sumber daya air,” tutup Wiryanto dalam pidatonya.

Penemuan Wiryanto tentang pengelolaan sumber daya air tawar dengan pendekatan kearifan lokal ini merupakan persembahan terakhirnya di dalam dunia Biologi, yang terfokus pada kajian terhadap air tawar. Pasalnya, dosen Biologi FMIPA UNS ini, usai dikukuhkan menjadi Guru Besar UNS ke-191, tutup usia di usianya yang ke-65. Selamat Jalan Guru Besar UNS. Terima kasih atas seluruh karyamu. humas-red.uns.ac.id/Tni/Isn

By | 2018-04-02T19:02:17+00:00 April 2nd, 2018|Categories: Berita Terkini|