PSB UNS Beri Pelatihan Kebencanaan bagi PT. Pertamina RU II Sungai Pakning

UNS – Pusat Studi Bencana (PSB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta memberikan beberapa masukan dan pelatihan manajemen kebencanaan bagi karyawan PT. Pertamina RU II Sungai Pakning, Riau. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kontribusi PSB UNS dan sinergi dua belah pihak dalam upaya penanggulangan bencana di lokasi perusahaan.

Dalam sambutannya, Danny Satria Prawijaya, S.T., selaku perwakilan perusahaan mengatakan bahwa PT. Pertamina RU II Sungai Pakning berada di lokasi dengan risiko bencana tinggi, utamanya Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)

Senada dengan Danny, Kepala PSB LPPM UNS, Prof. Chatarina Muryani, M.Si. menjelaskan jika ancaman bencana Karhutla sangat berpotensi terjadi di Pertamina RU II Sungai Pakning. Mengingat, lokasi dan keadaan geografis lingkungan sekitar yang merupakan lahan gambut.

Salah satu contohnya ialah peristiwa Karhutla tahun 2019 yang berdampak sangat besar. Oleh karena itu, imbuh Prof. Chatarina, perusahaan berikut para karyawan perlu mengoptimalkan kesiapsiagaan melalui serangkaian kegiatan.

“Kerangka kesiapsiagaan melalui berbagai kegiatan mulai dari perencanaan, kerangka kerja lembaga, Early Warning System, kebutuhan sumber daya baik alat maupun SDM, pendidikan dan pelatihan publik, pembentukan Forum Masyarakat, dan kegiatan lainnya yang mendukung kesiapsiagaan masyarakat,” jelas Prof. Chatarina, Rabu (19/8/2020).

Sementara itu, Dosen Prodi Geografi FKIP UNS, Dr. Pipit Wijayanti, S.Si., M.Sc. menekankan pentingnya pembangunan sistem penanggulangan bencana agar tercipta resiliensi masyarakat. Yakni ukuran kemampuan masyarakat untuk menerima perubahan dan tetap bertahan pada kondisi tertentu di lingkungannya.

Pernyataan tersebut tidak terlepas dari hasil riset Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyatakan 99% bencana Karhutla di Indonesia disebabkan oleh kecerobohan manusia.

“Oleh sebab itu, sangat penting dibangun sistem penanggulangan bencana agar tercipta resiliensi masyarakat. Sistem penanggulangan bencana dimulai dari resiliensi individu, resiliensi keluarga, resiliensi komunitas, hingga terbentuk resiliensi masyarakat,” ujar Dr. Pipit.

Di sisi lain, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS, Sorja Koesuma S.Si., M.Si menyinggung perihal perlunya rencana kontingensi (keadaan yang dilingkupi ketidakpastian) untuk menghadapi keadaan darurat dengan analisis risiko bencana sebagai dasar penyusunannya. Rencana tersebut, tutur Sorja, juga dibutuhkan untuk meminimalisir risiko bencana yang harus diperbarui dalam periode tertentu.

Tidak hanya bencana secara umum, Sorja pun menyoroti upaya tanggap bencana Covid-19 yang saat ini. Ia menyarankan agar karyawan-karyawan Pertamina RU II Sungai Pakning dapat memasang aplikasi INARISK dari BNPB untuk mengetahui potensi risiko bencana di lingkungan sekitar.

Hal serupa juga dikatakan oleh Dosen Prodi Geografi FKIP UNS, Dr. Yasin Yusup, S.Si., M.Si, agar PT. Pertamina RU II Sungai Pakning lebih dioptimalkan peran terkait dengan tiga bencana di sekitarnya. Seperti karhutla, abrasi, dan termasuk di dalamnya Covid-19.
Harapannya, dengan penanggulangan bencana tersebut, masyarakat memiliki daya lenting yang memantul ke depan (bounce forward).

“Tanggap bencana Covid-19 dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi untuk memperoleh data komunitas-komunitas rentan yang terdampak. Termasuk dapat dimanfaatkan untuk penggalangan dana,” kata Dr. Yasin.

Sebuah pertanyaan muncul dari salah seorang karyawan terkait dengan cara mengedukasi masyarakat untuk tidak membakar lahan gambut, tidak menebang pohon bakau, dan agar memakai masker serta jaga jarak fisik yang selama ini cukup sulit dilakukan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Yasin mengatakan jika edukasi masyarakat memang memerlukan proses sangat panjang. Melihat latar belakang masyarakat, menurut Dr. Yasin, kunci efektif yang dapat dilakukan dengan menggunakan aktor kunci (tokoh masyarakat) di daerah tersebut.

“Penggerakan juga dapat dilakukan melalui komunitas tertentu sehingga partisipasi mereka dapat digalakkan. Bukan perusahaan turun ke masyarakat saja, tetapi bagaimana perusahaan dan masyarakat dapat bersama bergandengan tangan untuk penanggulangan bencana sehingga partisipasi bisa digerakkan dan berkelanjutan,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula pre-test dan post-test melalui tautan daring. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pengetahuan manajemen kebencanaan peserta setelah mengikuti pelatihan manajemen kebencanaan. Humas UNS

Reporter: Kaffa Hidayati
Editor: Dwi Hastuti

Skip to content