Tanggapi Maraknya Korupsi di Indonesia, Peter Carey Sampaikan Cara Pemerintah Inggris Lawan Korupsi

UNS – Dalam rangka memeriahkan acara Dies Natalis ke-42 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menggelar kuliah umum bersama Peter Carey, ahli sejarah modern Indonesia keturunan Inggris. Kuliah umum ini mengangkat tajuk sesuai salah satu judul buku karangannya, yaitu “Korupsi di Indonesia dalam Silang Sejarah: Merajut Harkat di Zaman Edan”, bertempat di Ruang Seminar Gedung 3 FIB UNS, Kamis (8/3/2018).

Peter Carey memberikan kuliah umum yang bertajuk “Korupsi di Indonesia dalam Silang Sejarah: Merajut Harkat di Zaman Edan”

Peserta yang mengikuti acara ini berjumlah hampir 200 orang, terdiri dari mahasiswa dan tamu undangan. Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 WIB dan dibuka oleh Warto selaku Wakil Dekan Bidang Akademik FIB dan dimoderatori oleh Susanto, dosen prodi Sejarah UNS. Selain itu, dalam kesempatan ini beberapa buku karya Peter Carey juga dipamerkan.

Dalam pertemuan tersebut, Peter Carey menyampaikan materi tentang apa yang dapat dipelajari Indonesia mengenai kebangkitan Inggris melawan korupsi. Meskipun saat ini Inggris menjadi negara adidaya, tetapi pada abad ke-18 Inggris pernah menjadi negara yang marak kasus korupsi. Adapun cara yang dilakukan Inggris yaitu menaikkan gaji pegawai pemerintahan, mendirikan komite khusus untuk memeriksa laporan keuangan negara, dan melakukan revolusi mental. Selain itu, Peter Carey juga menambahkan untuk dapat menghindari korupsi, seseorang harus berani keluar dari zona nyaman.

“Karena maraknya korupsi di Inggris, pemerintah sangat memperhatikan lembaga peradilan. Pemerintah mengambil kebijakan untuk menaikkan 500 persen gaji hakim, dari 20 poundsterling menjadi 1000 poundsterling, tetapi dengan syarat tidak boleh menerima apapun atau uang sogok,” jelas Peter.

Akhirnya, Susanto menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi korupsi di Indonesia, yaitu memperbaiki nilai pendidikan, mengatasi revolusi mental, dan tetap melakukan kontrol sosial. Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi, tetapi syarat menjalankannya adalah memiliki etika. Korupsi adalah bentuk gagalnya etika tersebut. humas-red.uns.ac.id/Zul/Dty

By | 2018-03-12T16:26:38+00:00 March 10th, 2018|Categories: Berita Terkini|