UNS Benteng Penjaga Hasil-Hasil Kebudayaan Indonesia

UNS – Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, sarat akan nilai dan tradisi, dan kental akan perbedaan namun tetap dalam atap kebinekaan. Produk-produk yang dihasilkan menjadi ciri dan identitas satu daerah dengan daerah yang lainnya dan menjadi bagian dari warisan budaya dunia. Keberadaannya menjadi acuan penting bagi ilmu pengetahuan sejarah karena sebuah perkembangan sebuah bangsa terpatri pada hasil-hasil kebudayaan.

Dalam menjaga hasil-hasil kebudayaan, museum berperan sebagai aktor utama dalam mengemban tugas ini. Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 1995 museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Memperhatikan pentingnya problematika ini, sebagai perguruan tinggi yang terletak di kota budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkomitmen menjadi benteng pertahanan yang menjaga dan menjunjung tinggi warisan budaya Indonesia. Dalam menjalankan misi ini, UNS mampu berdiri sebagai benteng penjaga melalui programnya yang bertajuk Museum Goes to Campus (MGtC) yang dicanangkan oleh Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), UNS. MGtC adalah sebuah pameran yang menjadi wadah bagi museum-museum di Indonesia sebagai sarana edukasi bagi masyarakat dan tahun ini, MGtC telah memasuki tahun ketiga.

Ravik Karsidi pada MGtC 3 2018 berdiskusi tentang fungsi museum

Keberadaan MGtC ini meruapakan satu langkah pasti UNS dalam mempertahankan hasil-hasil kebudayaan Indonesia. Bagaimana tidak, kegiatan ini memfasilitasi sebanyak 38 museum untuk bias lebih terangkat di kalangan masyarakat selama enam hari dari Selasa hingga Minggu (23-28/10/2018) di Gedung Auditorium UNS.

Menurut Dekan FIB UNS, Riyadi Santosa, keberadaan MGtC didasari oleh kesadaran bahwa pentingnya edukasi permusiuman yang sarat akan sejarah bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi kalangan muda yang mulai larut dalam dunia teknologi yang semakin maju. Oleh karena itu, MGtC 3 ini dikemas dengan konsep semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian masyarakat seluas-luasnya.

Salah satu contohnya adalah Museum Samanhudi yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Apabila kita menilik lebih jauh pada pengetahuan masyarakat, ternyata tidak banyak orang tahu bahwa ada sebuah museum yang berisi tentang sejarah organisasi Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada awal abad 20 dan merupakan organisasi pertama yang ada di Indonesia. Museum Samanhudi akan menceritakan sejarah dimana organisasi ini membela para pedagang pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa itu.

Hal semacam ini juga disampaikan oleh Kinkin Siltanulhakim selaku perwakilan dari Walikota Solo yang turut hadir dalam pembukaan MGtC 3

“Museum memiliki perananan penting dalam mengungkap jejak-jejak perjalanan suatu bangsa. Pentingnya museum untuk generasi saat ini dan generasi mendatang perlu mendapat perhatian yang serius dari setiap lapisan pemerintah dan masyarakat,” Jelas Kinkin.

Sebagai benteng penjaga hasil-hasil kebudayaan Indonesia, UNS berpegang teguh dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang paham dan mencintai kebudayaannya sendiri.  Rektor UNS, Ravik Karsidi yakin bahwa melalui agenda MGtC ini masyarakat dapat mencintai kebudayaan Indonesia dan berkontribusi bagi kemajuan masa depan.

“Saya yakin bahwa melalui pameran ini dan juga museum yang kita kembangkan akan menjadi sarana pendidikan masyarakat yang mencintai kebudayaan dan juga rasa masa lalu yang sebetulnya bias menjadi inspirasi bagi kemajuan masa depan,” ungkap Ravik. Humas.red-uns/Imr/Isn

By | 2018-11-07T10:39:24+00:00 31 October 2018|Categories: Berita Terkini|