Wujudkan  Pertanian  Berkelanjutan, Guru Besar UNS ke – 189 ini Nomor Satukan Kualitas Tanah

UNS – Sektor pertanian masih menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Namun sistem pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) yang berprinsip memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi berikutnya, masih banyak diabaikan.  Pengelolaan tanah yang didasari pemahaman nilai-nilai keamanan tanah dan kualitas tanah merupakan kunci pertanian keberlanjutan. Indikator kualitas tanah yang tercermin pada sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta proses dan karakteristik dapat diukur untuk memantau berbagai perubahan dalam tanah. Materi ini akan menjadi topik pidato Prof. Dr. Ir. Supriyadi, MP. dalam Pengukuhan Guru Besar Bidang Kualitas Tanah, pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, (3/4/2018) di Auditorium UNS. Supriyadi  dikukuhkan menjadi guru besar ke 27 Fakultas Pertanian dan guru besar ke 189 UNS.

Ravik Karsidi (kiri), Rektor UNS, mengukuhkan Supriyadi menjadi Guru Besar di depan seluruh peserta sidang

Menurut Supriyadi, kebijakan pembangunan pertanian sampai saat ini masih mengedepankan kuantitas produksi yang menyebabkan tekanan dan eksploitasi sumber daya tanah secara berlebihan. Penggunaan lahan secara intensif untuk memacu produksi biomassa, mengakibatkan terjadinya degradasi lahan, bahkan berdampak terhadap kualitas lingkungan global.  Penggunaan bahan agrokimia (pupuk anorganik dan pestisida) yang melebihi ambang yang ditentukan mengakibatkan degradasi kesuburan tanah dan ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah. Sebagai contoh pada lahan sawah yang dikelola secara intensif di daerah pantai utara Jawa sudah menunjukkan pelandaian produktivitas (leveling off). Lahan sawah yang dipupuk N-P-K yang berlebihan memacu proses dekomposisi bahan organik tanah, akibatnya sebagian besar lahan sawah intensif kandungan bahan organiknya kurang dari 2%. Selain itu pemupukan P yang berlebihan juga menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara mikro Zn.

Penurunan kualitas dan kesehatan tanah menjadi makin lengkap dengan makin intensifnya sistem pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pada sistem pertanian yang intensif umumnya digunakan masukan-masukan mekanis dan agrokimia untuk memacu produksi pertanian. Penggunaan bahan-bahan ini akan mengusik proses-proses biologi tanah yang semula berjalan secara alamiah. Terusiknya proses-proses biologi tanah akan menurunkan atau bahkan menghilangkan keanekaragaman hayati (diversitas organism) dalam tanah.

Pidato Supriyadi sebagai Guru Besar yang dikukuhkan

Perubahan kualitas tanah mudah untuk diamati dengan melihat beberapa indikator sederhana. Pemilihan indikator didasarkan atas kepentingan fungsi tanah tertentu. Fungsi tanah untuk produksi pertanian yang tidak berjalan dengan baik dapat dirunut apakah ada masalah dengan agregasi tanah, struktur tanah, terdapat lapisan padas/beracun yang membatasi pertumbuhan akar, atau pengurasan unsur hara (terutama unsur hara mikro), penurunan jumlah dan kualitas bahan organik tanah, dsb. Supriyadi secara konsisten telah melakukan penelitian terkait keamanan dan kualitas tanah, misalnya di kawasan sub-DAS Bengawan Solo Hulu (2014) berdasar indikator sifat kimia tanah, menunjukkan bahwa indek kualitas tanah lebih tinggi dibanding dengan indek kualitas tanah hutan sekunder. Hasil penelitian Supriyadi et al., (2015), menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi lahan pertanian di DAS Bengawan Solo Hulu Sub DAS Keduang dapat menurunkan kualitas tanah.  Selain itu penelitian tentang kualitas tanah juga dilakukan Supriyadi di Kabupaten Demak (2016) ; Kabupaten Sragen dan Pati (2016); Merauke Papua (2015-2017) serta di Susukan Semarang (2017).

Dari berbagai hasil penelitian tersebut, Supriyadi merekomendasikan, bahwa pertama bioindikator merupakan salah satu alternatif yang mudah, murah dan relatif cepat untuk menilai keamanan dan kualitas tanah,  biota tanah memiliki  peran terhadap kesuburan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman, serta sifat-sifatnya yang peka terhadap perubahan lingkungan (misalnya kadar bahan organik tanah). Kedua interaksi antar biota tanah dan peran ekologisnya harus dipertimbangkan karena kisaran ukuran biota tanah yang sangat lebar (dari mikroba sampai cacing tanah). Ketiga keanekaragaman biota tanah dapat ditingkatkan dengan praktek ekofarming berbasis konservasi dengan pengolahan tanah minimum, pengurangan dosis pupuk anorganik, pergiliran tanaman, pemupukan pupuk hayati, penambahan bahan organik terbukti dapat meningkatkan atau memulihkan keanekaragaman biota tanah. Keempat perlu dilakukan penataan materi pendidikan dan penelitian bidang ilmu tanah untuk menyikapi paradigma baru tentang ilmu tanah, yakni pengelolaan sumber daya tanah yang berlandaskan konsep kualitas, kesehatan dan keamanan tanah.  Humas-red.uns/Isn

By | 2018-04-07T10:43:25+00:00 April 6th, 2018|Categories: Berita Terkini|