UNS — Kreativitas tanpa batas, hal tersebut yang tercermin oleh mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Jekani, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Mereka yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS periode Januari-Februari 2021 baru saja mengadakan program pembuatan batik jumputan bagi masyarakat setempat.
Kegiatan yang diawali dengan pemberian materi kemudian dilanjutkan praktik ini diikuti oleh para ibu rumah tangga dan anak-anak yang ada di Desa Jekani. Saat diwawancarai oleh uns.ac.id pada Minggu (28/2/2021), Vivi Annisa selaku penanggung jawab program menuturkan bahwa pelatihan ini dipilih karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang batik jumputan. Selain itu, hasil jadi dari batik jumputan ini akan dibuat menjadi masker kain yang akan dibagikan kembali kepada seluruh peserta kegiatan.
“Jumputan berasal dari bahasa Jawa, jumput yang berarti memungut atau mengambil dengan semua ujung jari tangan. Proses pembuatan batik jumputan sedikit berbeda dari batik biasanya, yakni tidak menggunakan malam dan canting. Motif batik didapatkan dengan cara menjumput kain yang diisi biji-bijian atau mengerutkan kain menggunakan benang kemudian dicelupkan ke cairan pewarna,” jelas Vivi.
Praktik pembuatan batik jumputan dimulai dari proses mendesain motif di atas kertas karton atau manila. Langkah berikutnya yakni menjiplak motif kain tersebut ke kain putih polos menggunakan spidol merah. Setelah itu masuk ke dalam proses menjelujur dan menjumput kain menggunakan benang dan biji-bijian. Selanjutnya, kain melalui proses pewarnaan menggunakan pewarna napthol.
Vivi kembali menjelaskan bahwa sebelum dimasukkan ke dalam larutan pewarna napthol, kain terlebih dahulu direndam ke dalam air biasa untuk membuka serat kain.
“Setelah dimasukkan ke larutan napthol, kain dimasukkan ke dalam larutan garam Biru B. Kalau sudah, kain bisa dijemur sampai kering. Proses selanjutnya yaitu mendedel kain jumputan. Praktik pembuatan batik jumputan berakhir dengan merendam kain jumputan ke dalam air biasa kembali untuk menghilangkan bekas spidol agar tercipta warna dan motif yang bagus,” jelas mahasiswa Kriya Tekstil tersebut.
Kegiatan tersebut berlangsung dengan lancar berkat antusiasme yang tinggi dari masyarakat setempat. Mereka selalu menyimak satu persatu arahan pemateri, mulai dari penjelasan hingga praktik pembuatan batik menggunakan teknik jumputan. Rasa ingin tahu yang tinggi dari masyarakat pun membuat materi-materi yang diberikan tersampaikan dengan baik.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena menambah pengalaman saya dan masyarakat mengenai cara pembuatan batik jumputan,” ungkap Nafis, salah seorang warga yang mengikuti kegiatan ini.
Sebelum menutup wawancara, Vivi menambahkan bahwa salah satu output dari program ini ialah pembuatan masker menggunakan batik jumputan.
“Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk terus mengampanyekan pencegahan penularan Covid-19,” tutup penanggung jawab program KKN Kelompok 68. Humas UNS
Reporter: Bayu Aji Prasetya
Editor: Dwi Hastuti
















