FSRD UNS Kenalkan Nilai Luhur Wayang Mahabharata kepada Generasi Muda melalui Workshop Seni Rupa di Padukuhan Cepit Sleman

FSRD UNS Kenalkan Nilai Luhur Wayang Mahabharata kepada Generasi Muda melalui _Workshop_ Seni Rupa di Padukuhan Cepit Sleman

FSRD UNS menggelar workshop “Pemberdayaan Seni Rupa Bersumber dari Wayang Kulit dalam Kisah Mahabharata” di Sleman pada Minggu (28/6/2026). Sebanyak 50 anak diperkenalkan pada nilai luhur wayang untuk pendidikan karakter dan pelestarian budaya.

UNS — Research Group (HGR) Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk ” Workshop Pemberdayaan Seni Rupa Bersumber dari Wayang Kulit dalam Kisah Mahabharata” di Padukuhan Cepit, Kelurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (28/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya melalui pendidikan seni sekaligus pemberdayaan masyarakat dengan sasaran anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Workshop diikuti sekitar 50 anak yang berasal dari lingkungan Padukuhan Cepit. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi, mengenal tokoh-tokoh wayang, memegang wayang kulit secara langsung, hingga mengikuti praktik mewarnai tokoh wayang sebagai bentuk eksplorasi seni rupa.

Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Pengabdian Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum. bersama tim dosen Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang terdiri atas Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn. M.Sn., Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn. dan Fika Khoiru Nisa, S.Pd., M.Sn. Workshop menghadirkan narasumber Anang Suwondo dari Sanggar Joglo Kinasih, seorang praktisi dan pemerhati wayang yang telah lama aktif dalam pelestarian seni tradisi.

Dalam penyampaiannya, Anang memperkenalkan tokoh-tokoh utama dalam kisah Mahabharata beserta karakter, filosofi, dan nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Penjelasan tersebut disampaikan secara interaktif sehingga anak-anak dapat mengenal wayang bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai media pembelajaran karakter.

“Wayang harus diajarkan kepada generasi muda karena ini adalah warisan budaya yang harus dilestarikan. Di dalam setiap tokoh wayang terdapat nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bekal dalam membentuk karakter anak-anak,” ujar Anang.

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum., mengatakan bahwa kegiatan pengabdian ini bertujuan membangun kedekatan anak-anak dengan budaya lokal melalui pendekatan seni rupa yang kreatif dan menyenangkan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal wayang sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Wayang merupakan sumber inspirasi yang sangat kaya bagi penciptaan seni rupa sekaligus menjadi media untuk menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa sejak usia dini,” kata Dona.

Menurut Dona, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen HGR Penciptaan Seni FSRD UNS dalam mengembangkan model pemberdayaan masyarakat berbasis seni yang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Melalui workshop ini diharapkan terjadi transfer pengetahuan, penguatan kreativitas, serta tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga dan melestarikan wayang sebagai warisan budaya dunia.

Sementara itu, Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., menambahkan bahwa wayang memiliki fungsi penting sebagai media pendidikan karakter.

“Wayang juga mengajarkan budi pekerti yang luhur kepada anak-anak. Setiap tokoh memiliki karakter yang dapat menjadi teladan sekaligus pembelajaran mengenai nilai kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Melalui pendekatan seni rupa, nilai-nilai tersebut dapat dipelajari dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak,” jelas Dyah Yuni.

Selama proses praktik berlangsung, para peserta mendapat pendampingan langsung dari tim dosen. Fika Khoiru Nisa, S.Pd., M.Sn., mengatakan anak-anak menunjukkan kemampuan yang baik dalam mengikuti kegiatan kreatif tersebut.

“Mendampingi anak-anak di sini tidak mengalami kesulitan karena mereka sudah terlatih mewarnai dan melakukan kegiatan ini dengan senang dan gembira. Antusiasme mereka sangat tinggi ketika mengenal tokoh-tokoh wayang dan menuangkannya dalam karya warna,” ujar Fika.

Antusiasme peserta juga terlihat dari semangat mereka mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Salah seorang peserta, Ratu, mengaku mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

“Selama ini saya hanya melihat wayang di buku pelajaran Bahasa Jawa. Sekarang saya bisa memegang wayang secara langsung, mengenal tokoh-tokohnya, dan mewarnai wayang. Saya senang sekali mengikuti kegiatan ini,” ungkap Ratu.

Melalui kegiatan ini, tim pengabdian berharap wayang tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam berkarya seni rupa sekaligus media pembentukan karakter generasi muda. Pendekatan kreatif melalui workshop diharapkan mampu memperkuat apresiasi masyarakat terhadap budaya lokal di tengah derasnya pengaruh budaya global dan perkembangan teknologi digital.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, narasumber, tim dosen, serta masyarakat sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan pelestarian budaya Indonesia melalui seni rupa. HUMAS UNS

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa tujuan workshop seni rupa FSRD UNS di Cepit Sleman?

Workshop ini bertujuan membangun kedekatan anak-anak dengan budaya lokal melalui seni rupa, menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya, dan mengembangkan model pemberdayaan masyarakat berbasis seni. Lihat di artikel

Siapa yang memimpin kegiatan pengabdian masyarakat FSRD UNS ini?

Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Pengabdian Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum. bersama tim dosen Program Studi Seni Rupa FSRD UNS. Lihat di artikel

Bagaimana wayang dapat menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak?

Setiap tokoh wayang memiliki karakter yang mengajarkan nilai kejujuran, keberanian, tanggung jawab, dan kebijaksanaan, yang dapat dipelajari anak melalui pendekatan seni rupa yang menarik. Lihat di artikel

Siapa narasumber dalam workshop pemberdayaan seni rupa FSRD UNS?

Narasumber dalam workshop ini adalah Anang Suwondo dari Sanggar Joglo Kinasih, seorang praktisi dan pemerhati wayang. Lihat di artikel