UNS — Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bersama Fakultas Sastra dan Jurnalistik Xihua University menggelar pagelaran budaya dalam merekatkan budaya Jawa Indonesia dan Bashu Tiongkok pada 26-27 November 2020. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama yang telah dijalin diantara keduanya sejak tahun 2019 lalu.
FIB UNS selaku tuan rumah membagi acara menjadi dua bagian. Pada hari pertama, FIB UNS menggelar seminar bertajuk “Tradisi Tionghoa/ Tiongkok dalam Dunia Jawa” dengan pemateri Dr. Dwi Susanto dan seminar bertajuk “Akulturasi Budaya Seni Kuliner Jawa-Tiongkok (Perspektif Antropologi Pangan)” dengan pemateri Dr. Marimin.
Dalam seminar yang digelar secara luring terbatas di Ruang Seminar Gedung 3 FIB UNS dan juga disiarkan melalui Zoom Cloud Meeting, Dr. Dwi Susanto mengulas seputar “Narasi Cerita Liang Shanbo dan Zhu Yingtai dalam Tradisi Masyarakat Jawa”.
Dr. Dwi Susanto dalam materinya menyampaikan interaksi tradisi Tiongkok dengan Nusantara (Jawa) telah terbukti ada sejak berabad-abad lalu. Fakta tersebut memberikan bukti bahwa interaksi kebudayaan tradisi Tiongkok telah terjadi dan melebur dalam identitas masyarakat Jawa yang berlapis-lapis.
“Hal ini dapat dibuktikan melalui penelitian para ahli seperti Salmon (2009) tentang kata pinjaman dalam bahasa Cina dan bahasa Jawa, Kraus (2005) tentang pengaruh gaya lukisan dalam manuskrip atau naskah Jawa, Oetomo (1991) tentang resepsi cerita lisan Cina dalam tradisi Jawa, Wiryamartana (1985) tentang persamaan tata naratif sastra Jawa Kuna dengan sastra klasik Cina, dan berbagai penelitian lain tentang seni kuliner, arsitektur, pertanian, fesyen/ batik, dan lain-lain,” terang Dr. Dwi Susanto, Rabu (25/11/2020).
Ia mengatakan, muncul penelitian untuk menelusuri tradisi masyarakat Tiongkok yang diresepsi dalam tradisi Jawa dengan mengambil satu kasus cerita Zhu Yingtai. Selanjutnya, melalui tradisi tersebut akan muncul perubahan dan transformasi ketika dihadapkan dalam tradisi masyarakat Jawa. Fakta tentang kreativitas masyarakat Jawa juga telah memberikan bukti perjumpaan dua tradisi kebudayaan diadaptasikan untuk menyesuaikan ruang dan ekspresi reprosuksi kultural.
“Hal yang utama adalah tentang cara dan strategi masyarakat Jawa dalam merespon dan menghadapi perjumpaan tradisi Tiongkok sebagai bagian cara memahami dan bertahan dalam hubungan kebudayaan yang bersifat global dan asas kesetaraan kebudayaan,” terang Dr. Dwi Susanto.
Adapun pada seminar kedua bertajuk “Akulturasi Budaya Seni Kuliner Jawa-Tiongkok (Perspektif Antropologi Pangan)”, Dr. Marimin menerangkan pertemuan budaya Jawa-Tiongkok terjadi dalam stratifikasi sosial masyarakat Suku Jawa yang tersebar di Pantai Utara Jawa. Ia mengatakan masyarakat yang bermatapencaharian sebagai nelayan menjalin hubungan sebagai awal berinteraksi dengan suku Tiongkok.
Dr. Marimin menjelaskan dampak dari interaksi yang positif menjadikan efek akulturasi dan asimilasi dengan konsekuensi menjadi stereotipe dan tidak menutup peluang masih akan terjadi etnosentrisme.
Dalam hal ini, selanjutnya akan terjadi percampuran dua budaya yang saling menerima dan melengkapi, sehingga tidak menutup kemungkinan dapat terjadin inovasi. Inovasi yang dimaskud Dr. Marimin dapat dilihat dari nasi goreng.
Nasi goreng merupakan salah satu ragam kuliner masyarakat Jawa, disebut Dr. Marimin secara filosofis mempengaruhi pola kehidupan dalam perspektif pengejawantahan diantara budaya Jawa-Tiongkok.
“Nasi goreng secara mendasar terdapat kesamaan pandangan pada kuliner tersebut termaknai bahwa filosofi irit atau hemat yang sama-sama dianut oleh kedua suku bangsa. Implementasi hakikat tersebut adalah nasi sisa yang tidak habis dimakan, dapat dimanfaatkan lagi diolah menjadi masakan yang tidak kalah nikmat dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan cara digoreng,” kata Dr. Marimin.
Pada hari kedua, FIB UNS akan menggelar pentas seni secara virtual melalui platform Zoom Cloud Meeting dan kanal Youtube FIB.UNS, berupa pertunjukkan barongsai dan wayang kulit. Grup barongsai Macan Putih dipilih untuk menampilkan pertunjukan yang atraktif dan menarik. Pada pagelaran wayang kulit, FIB UNS mengangkat lakon Gathutkaca Winisuda dengan dalang Ki Lucky Gusta Yoga dan Ki Sofiyan Aditiya Firman. Kendati tidak mengundang kerumunan, seluruh rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wawasan keilmuan dan hiburan. Humas UNS
Reporter: Yefta Christopherus AS
Editor: Dwi Hastuti
















